Clock By Blog Tips
Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

Friday, June 1, 2012

AS Kirim Kapal Perang ke Singapura, Cina: Inilah Mental Perang Dingin AS


Kapal-kapal perang kelas baru Angkatan Laut AS pertama akan dikirim ke Singapura tahun depan untuk penyebaran 10-bulan, kata seorang pejabat Kamis, saat AS bergerak untuk memperluas kehadirannya di Asia-Pasifik.
"USS Freedom akan digelar ke Singapura selama 10 bulan pada musim semi 2013," kata Letnan Angkatan Laut Katie Cerezo dalam surat elektroniknya kepada AFP.

Kapal tersebut adalah kelas baru "kapal tempur pesisir" yang lebih kecil. Kapal permukaan tersebut dimaksudkan untuk operasi dekat dengan pantai dan dapat disebarkan dengan cepat ke wilayah krisis yang merupakan bagian dari strategi AS berfokus pada Asia-Pasifik.

Angkatan Laut mengatakan bahwa pasukannya akan dilengkapi dengan 55 kapal perang dari jenis ini, empat di antaranya bisa digunakan di Singapura.

Kapal tersebut dimaksudkan untuk digunakan secara rotasi dan tidak ditempatkan pada pangkalan Singapura, di mana militer AS sudah mengoperasikan satu pos kecil yang membantu logistik dan latihan-latihan bagi pasukan di Asia Tenggara.

Kementerian Pertahanan Cina telah mencemooh atas peningkatan aktivitas militer Amerika di wilayah tersebut, dan mengatakan itu adalah bukti "mentalitas Perang Dingin" Washington.

Amerika Serikat juga diharapkan untuk meningkatkan penyebaran ke Filipina dan Thailand sebagai bagian dari strategi Asia-Pasifiknya.



Sumber :www.republika.co.id



Baca Jua 

Tuesday, May 29, 2012

Mempertanyakan Masa Depan NATO


Masalah ekonomi dan krisis identitas menghantui eksistensi aliansi pertahanan Atlantik Utara.

SUARA kamera yang tengah mengabadikan 28 pemimpin negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) baru sesaat terdengar tatkala gelegar halilintar menggema di sekitar Stadion Soldier Field, Kota Chicago, Amerika Serikat, 20 Mei lalu. Presiden AS Barack Obama yang menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO kemudian meminta rekan-rekannya memasuki ruang konferensi untuk melanjutkan sesi foto bersama. Setelah semua berkumpul di karpet merah, Obama memberi aba-aba. "Melambai," ujarnya, yang diikuti lambaian 28 kepala negara nyaris serentak.

Foto yang tercipta dalam kesempatan itu seperti sengaja dirancang untuk menampilkan kesan keselarasan dan kekompakan di antara negara-negara anggota NATO, seolah menutupi fakta bahwa aliansi NATO tengah digerus masalah ekonomi dan krisis identitas.

Ekonomi

Sejak NATO dibentuk pada era Perang Dingin, AS senantiasa menjadi tulang punggung pendanaan aliansi pertahanan tersebut. Negara-negara Eropa memang sempat menyumbang 34% dari pembiayaan operasi militer NATO ketika Perang Dingin usai di penghujung 1980-an.

Namun, di tengah krisis ekonomi yang melanda zona euro saat ini, sejumlah negara memangkas anggaran pertahanan sehingga kontribusi Eropa kepada pendanaan NATO turun drastis menjadi 21%. Bahkan, hanya empat negara yang anggaran militernya melampaui 2% dari pertumbuhan produk domestik bruto, yakni Inggris, Prancis, Yunani, dan Albania. Sisa pendanaan operasi militer NATO tentu ditanggung 'Negeri Paman Sam'. Padahal, untuk satu dekade berikut, Pentagon harus memangkas belanja militer hingga mencapai US$487 miliar.

Persoalan pendanaan NATO telah disinggung beberapa kali oleh Robert Gates semasa dia menjabat menteri pertahanan AS. Menurut dia, identitas 'kolektivitas militer' NATO pantas dipertanyakan mengingat nyaris semua anggotanya kurang berperan aktif dalam menopang keberadaan aliansi.

"NATO ialah organisasi militer-politik demi kepentingan pertahanan kolektif. Karena itu, suatu pihak tidak bisa menikmati semua keuntungan dan aset-aset (NATO) tanpa berpartisipasi atau memberikan bagian," papar Menteri Pertahanan Belgia Pieter de Crem di sela-sela KTT NATO.

De Crem menambahkan tantangan NATO saat ini ialah menanggung tiap-tiap bagian sehingga halangan pendanaan dapat teratasi.
Sejauh ini, cara NATO mengatasi halangan tersebut ialah dengan menerapkan 'pertahanan cerdik', konsep penghematan melalui pembagian peralatan dan fasilitas militer di antara negara anggota serta menugasi setiap negara untuk mengambil spesialisasi pertahanan.

"Kami tidak akan mendapat uang untuk sektor pertahanan dalam waktu dekat, mari bersikap realistis.... Karena itu, penting bagi kami untuk menerapkan cara baru. Saya pikir kerja sama multinasional ialah jawaban untuk masa depan," papar Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen.

Lewat konsep 'pertahanan cerdik', KTT NATO di Chicago menyetujui 20 proyek multinasional, termasuk kesepakatan penggunaan amunisi untuk pesawat-pesawat tempur dari berbagai sumber dan negara. Juga, sistem pool pesawat patroli maritim dari berbagai negara anggota.

Identitas

Selain krisis keuangan, masalah lain yang dihadapi NATO ialah peran apa yang seharusnya mereka emban di masa depan? Apakah aliansi itu mesti melanjutkan operasi militer di belahan lain dunia atau berkonsentrasi mempertahankan wilayah negara-negara anggotanya?

Perubahan sejatinya bukan hal baru bagi NATO. Sejak dibentuk sebagai pakta pertahanan yang merekatkan Amerika Utara dan Eropa Barat, aliansi tersebut mampu bertahan dari persaingan dengan negara-negara anggota Pakta Warsawa di masa Perang Dingin. Pada 1990-an, NATO juga sanggup melewati krisis di Yugoslavia.

Afghanistan adalah misi perdana NATO yang membuat aliansi tersebut bergerak ke luar area operasi di Eropa dan Amerika Utara untuk pertama kalinya. Dalam misi itu, NATO merupakan inti Pasukan Keamanan Internasional yang terdiri dari 50 negara.

Tahun lalu, NATO kembali melakukan perubahan dengan menyediakan pasokan persenjataan dan armada pesawat tempur di Libia guna menumbangkan Moamar Khadafi. Prancis dan Inggris merupakan dua negara anggota NATO yang memimpin operasi tersebut.

Menteri Pertahanan Republik Ceko Alexandr Vondra berargumen isu krusial bagi NATO saat ini bukan penambahan anggota atau operasi di luar wilayah, melainkan pertahanan kolektif di antara negara-negara anggota.

Argumentasi Vondra dilandasi Pasal 5 kesepakatan NATO, yang berbunyi, 'Serangan terhadap salah satu negara anggota NATO merupakan serangan terhadap NATO secara keseluruhan'.

Pemimpin lain, semisal Perdana Menteri Inggris David Cameron, menepis gagasan itu. "Menurut saya, dan sebagaimana disepakati KTT ini, NATO harus melakukan sebaliknya. Kami harus melihat ke luar, menegaskan relevansi NATO, serta memastikan kesiapan meredam ancaman yang ada di luar teritorial sekaligus ancaman di wilayah kami sendiri."

Jamie Shea, deputi asisten sekjen NATO di bidang tantangan keamanan baru, memprediksi NATO amat mungkin menjelma menjadi aliansi yang tidak menempuh operasi besar. Meski sejumlah krisis dapat terjadi mendadak, intervensi NATO di masa mendatang mungkin tidak mengikuti pola kejadian di masa lalu.

'Operasi NATO di masa depan amat mungkin berfokus pada operasi udara dan laut, alih-alih penggelaran operasi darat', tulis Shea dalam artikel yang dimuat laman lembaga kajian Carnegie Endowment for International Peace.

'Kemudian, tujuan operasi-operasi (NATO di masa depan) bersifat terbatas dan jangka pendek, melibatkan intelijen dan pasukan khusus, serta meningkatkan penggunaan pesawat nirawak yang menggantikan peran serdadu', lanjut Shea.

Mengenai imbas operasi di Libia terhadap perubahan di tubuh NATO, Shea punya pendapat tersendiri. 'Jika operasi di Libia menjadi model untuk masa depan, tidak semua negara anggota akan memutuskan berpartisipasi. Khususnya, di tingkat pelaksanaan operasi'.

Sejalan dengan pendapat Shea, Clara O'Donnell selaku peneliti di lembaga kajian Brookings Institution mengatakan operasi di Libia menunjukkan ketidakpopuleran operasi militer di luar wilayah NATO. O'Donnell merujuk Polandia dan Belanda--negara-negara yang secara tradisional aktif dalam operasi-operasi NATO--memilih absen saat Inggris dan Prancis menggempur Libia.

Meski sejumlah analis menilai NATO mulai menunjukkan pertanda tidak relevan dengan perkembangan zaman, pengamat lainnya optimistis NATO akan berperan di masa mendatang.

"(Operasi di) Afghanistan akan berakhir suatu hari. Namun akan ada suatu masalah di masa mendatang. Saya tidak bisa memprediksi kapan dan di mana masalah itu bakal muncul. Yang jelas, ketika masalah timbul, negara-negara Barat memerlukan wahana untuk beraksi. Sampai kita memiliki alat yang lebih baik, aliansi tersebut seyogianya dipertahankan," jelas Leo Michel dari lembaga kajian The Institute for National Strategic Studies yang merupakan bagian dari National Defense University, AS.


Sumber : MI

Friday, April 27, 2012

Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India


Ketegangan antara Filipinan dan Cina di wilayah Laut Cina Selatan seperti yang terjadi di Scarborough Shoal, memang lampu kuning menuju Perang Perpanjangan tangan(Proxy War) antara Amerika Serikat dan Cina di kawasan Asia Tenggara, atau pada skala yang lebih luas, di kawasan Asia Pasifik. 

Amerika kiranya cukup beralasan untuk berbagi kecemasan bersama Jepang dan Vietnam menyusul semakin agresifnya postur militer Cina di Asia Pasifik. Berdasar studi SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute, 2010), China merupakan negara Asia dengan anggaran militer terbesar.

Pada 2000, militer Cina sudah menghabiskan anggaran militer sebesar US$90 miliar dan pada 2010, malah semakin meningkat mencapai US$120 miliar.  Berdasarkan data dari sumber yang sama, saat ini Cina memiliki 2,3 juta tentara. Angkatan Daratnya saat ini merupakan kekuatan paling besar di dunia. Pada 2012 tahun ini.  anggaran militer Beijing mencapai US$160 miliar.

Sudah barang tentu data-data terbaru dari SIPRI yang kita tahu sangat valid ini, telah memicu kecemasan di kalangan para perancang keamanan nasional Jepang. Maklum, karena baik Cina maupun Jepang kebetulan sama sama masuk deretan negara-negara adidaya baru di kawasan Asia Timur. Maka tak heran bila sebuah laporan dari Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan bahwa kenaikan anggaran militer Jepang yang sedemikian cepat tersebut pada gilirannya bisa mempengaruhi tata tertib regional di kawasan Asia Timur, sehingga memiliki dampak yang cukup membahayakan bagi keamanan nasional Jepang. 

Kecemasan Jepang semakin menjadi-jadi ketika beberapa waktu lalu pihak Jepang sempat melaporkan bahwa Cina telah meningkatkan intensitas kegiatan militernya di Perairan Jepang. 

Lucunya lagi, para pemegang otoritas keamanan nasional sempat mencemaskan tidak adanya keterbukaan atau transparansi mengenai aktivitas militer Cina di Asia Timur maupun strategi nasional Cina itu sendiri. Tentu saja ini satu sikap yang cukup aneh mengingat pihak Jepang pun pasti tahu bahwa yang namanya fakta-fakta seputar perkembangan dan peningkatan postor militer suatu negara, jelas jelas masuk kategori rahasia negara. 

Dalam hal konflik perbatasan antara Cina dan Jepang yang belakangan ini kian menajam, tentunya juga tidak kalah krusialnya dengan ketegangan konflik perbatasan antara Filipina dan Cina di Laut Cina Selatan.

Pada September 2010, misalnya, sempat terjadi ketegangan antara Cina dan Jepang atas Kepulauan Senkaku/Diaoyu yang mengungkap adanya potensi konflik kedua negara bertetangga ini di dalam beberapa bulan atau tahun mendatang.  Pada September 2010 itu Tokyo sempat menahan seorang kapten kapal RRC di ibukota Okinawa, Naha, dengan tuduhan kapten kapal Bejing itu melanggar kedaulatan hukum Jepang.

Masalah semakin memanas ketika pihak Beijing kemudian menuntut pembebasannya, dengan melancarkan serangan balik dengan menangkap empat karyawan Fujita Corporation di Provinsi Hebei, China, dan malah dalam lawatan Perdana Menteri Wen Jibao ke New York, ia menegaskan Cina akan mengambil langkah lebih lanjut terhadap Jepang jika Tokyo tidak membebaskan kapten kapal tersebut (BBC News,2010). Menghadapi ofensif Diplomatik Cina, Jepang akhirnya keder juga, dan kemudian membebaskan kapten kapal Cina itu.

Mungkinkah kasus kasus serupa bakal menjadi kasus Beli perang antara Cina dan Jepang sehingga memicu Perang terbuka antara Amerika dan Cina di tahun-tahun mendatang? 

Memang belum bisa dipastikan, meski dalam bukunya the Clash of Civilization Dr Samuel Huntington memprediksi akan pecah konflik militer terbuka antara Amerika dan Cina di kawasan Asia Pasifik pada sekitar 2014-2017. 

Namun yang jelas, beberapa prakondisi untuk memantik perang terbuka Cina dan Jepang sepertinya sudah tersedia. 

Pertama, pada Desember 2010 lalu, Tokyo telah mengumumkan haluan Pertahanan Baru sebagai respons atas meningkatnya anggaran militer Cina dan sepak-terjangnya di kawasan Asia Pasifik. Berarti, ada satu tren terjadinya militerisasi baik di pihak Jepang yang notabene masih terikat pada perjanjian persekutuan keamanan bersama antara Jepang dan Amerika Serikat. 

Kedua, sebagai konsekwensi dari haluan baru pertahanan Jepang untuk mengimbangi kekuatan militer Cina, Jepang memutuskan untuk menjalin kerjasama strategis dengan Amerika Serikat untuk menjamin keamanan nasional Jepang. Dan konsekwensinya, Jepang akan mempersilahkan kehadiran militer Amerika di Jepang(Mainichi Daily News, 2011).

Bukan itu saja. Di bagian lain kawasan Asia Timur, tepatnya di Selat Taiwan, ternyata Cina juga telah mengembangkan armada laut yang diperkuat dengan kapal selam yang memiliki jarak tembak 2100 km sehingga mampu memberlakukan Strategy anti access aerial denial, suatu strategi penolakan dan penangkalan terhadap kehadiran militer AS , sehingga mampu memaksa pasukan marinir AS berada di luar kawasan Selat Taiwan dan Pasifik Barat, jika sewaktu-waktu terjadi aksi militer Cina ke Taiwan. 

Dari konstalasi kekuatan militer Cina yang seperti itu, angkatan bersenjata AS akan bisa dicegah untuk memberi dukungan angkatan laut kepada Jepang jika terjadi konflik militer terbuka antara Cina dan Jepang. 

Sepertinya kedigdayaan militer Cina belakangan ini dimungkinkan karena kemajuan pesat perekonomian Cina dalam beberapa tahun belakangan ini. 

Inilah yang kemudian mendorong berbagai pakar dan think thank di Amerika untuk merekomendasikan adanya persekutuan-persekutuan baru di kawasan Asia Pasifik, dalam rangka menghadang ancaman militer Cina di kawasan ini. Seperti yang dilakukan terhadap Filipina, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, dan bahkan Vietnam, yang pada era 1970-an, merupakan musuh utama Amerika di kawasan Asia Tenggara. 

Bahkan seorang pakar strategi dan keamanan nasional Amerika jelas jelas mengumandangkan kecemasannya terhadap perkembangan militer Cina. ’Bagaimanapun AS cemas dan khawatir dengan kebangkitan militer China, selain isu nuklir Iran dan Korea Utara,’’ kata Prof Robert Gallucci di Universitas California Berkeley, pekan kemarin. 

Asia: Importir Senjata Terbesar di Dunia
Studi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan wilayah Asia-Pasifik menyumbang 44 persen impor senjata hasil produksi Eropa. Angka ini merupakan angka teratas dalam lima tahun terakhir. 

SIPRI melaporkan bahwa secara global volume perdagangan senjata pada periode 2007—2011 lebih tinggi 24% dibandingkan pada periode 2002—2006. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perdagangan senjata di Asia dan Oceania mencapai 44% dari perdagangan impor senjata di seluruh dunia. Angka itu tentu lebih tinggi dibandingkan dengan hanya 19% untuk wilayah Eropa, 17 untuk Timur Tengah, 11% untuk Amerika Selatan dan Utara, serta 9% untuk Afrika.

Tidak hanya Cina yang menaikkan anggaran militernya dengan US$100 miliar. Tapi juga Taiwan, Korsel, Filipina, Indonesia sampai Vietnam dan Singapura. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, naik pula anggaran militer mereka dengan ratusan juta dolar per tahun. Para pengamat sampai menyebut ada semacam lomba senjata di Asia.

Sepak-terjang India, sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi negara adidaya baru di Asia Pasifik kiranya penting untuk kita cermati secara seksama dan penuh kewaspadaan. 

Menurut data SIPRI, India merupakan importir senjata terbesar pada periode 2007—2011 dengan persentase impor mencapai 10% dari volume perdagangan internasional. 

Hal ini diikuti oleh Korea Selatan (Korsel) dengan 6%, Cina dan Pakistan (masing-masing 5%), serta Singapura (4%). Impor senjata India, Korsel, China, Pakistan, dan Singapura mencapai 30% dari volume perdagangan internasional.

“Impor senjata India meningkat menjadi 38% pada periode 2002—2006 dibandingkan dengan 2007–2011,” demikian laporan SIPRI. Dan itu termasuk pengiriman pesawat udara pada periode 2007—2011 meliputi 120 Su-30MK dan 16 MiG-29K dari Rusia serta 20 Jaguar Ss dari Inggris.

Perkembangan pesat postur pertahanan India tentu saja memancing Pakistan sebagai pesaing India di kawasan Asia Selatan, untuk meningkatkan juga postur pertahanannnya. 

Karena India menjadi importir senjata terbesar, tetangga yang juga musuh bebuyutannya, Pakistan dengan tak ayal menjadi pengimpor senjata terbesar ketiga. Pakistan membeli pesawat tempur pada periode 2007—2011 yakni 50 JF-17 dari China dan 30 F-16. India dan Pakistan juga mengimpor tank dalam jumlah besar.

“Sebagian besar negara pengimpor senjata kini terus mengembangkan industri senjata mereka. Dengan demikian, itu mempengaruhi penurunan pasokan senjata dari luar,” kata Pieter Wezeman, peneliti senior Program Impor Senjata SIPRI.

Pada 2006—2007 Cina merupakan pengimpor senjata terbesar dunia. Tapi tahun 2011 Beijing hanya menempati urutan keempat. Penurunan impor China dipengaruhi peningkatan industri senjata China yang masif.

Dengan penurunan peringkat China dalam impor, India merebut posisi itu pada 2011. SIPRI menyimpulkan, peningkatan posisi India itu karena faktor Pakistan. Sementara setelah tidak lagi menjadi pengimpor senjata terbesar, China kini terus membuat terobosan.

Di Asia, Bejing kini justru menjadi pengekspor senjata terbesar keenam setelah Amerika Serikat (AS), Rusia, Jerman, Prancis,dan Inggris.

Negara-negara Asia Tenggara dan Cina kini lebih memilih kendaraan dan peralatan militer terbaru serba canggih. Yang mencolok adalah pembelian kapal selam. Malaysia baru saja membeli tiga kapal selam, Indonesia pesan tiga, Vietnam enam dan Thailand berniat membeli empat dari Jerman.
Negara-negara Asia tenggara membeli senjata karena faktor perasaan kurang aman. Vietnam dan Filipina misalnya cemas akan kebijakan maritim yang akan ditempuh Beijing. Di laut China Selatan ada enam pulau Vietnam.

Pesatnya perlombaan senjata di kawasan Asia, bisa dipastikan akan meningkatkan ketegangan militer dan bahkan militerisasi di kawasan Asia Pasifik.

Bagi Indonesia, tiada lain harus mencermati secara sungguh sungguh dan penuh perhatian kebijakan militer Cina dan Jepang yang kian agresif di kawasan Asia Pasifik. 




Sumber : theglobal-review

Baca lainnya

Amerika Serikat dan Sistem Keamanan Israel


Amerika Serikat akan mengeluarkan dana tambahan 680 juta dolar sampai tahun 2015 untuk memperkuat sistem anti-rudal Israel, Iron Dome. Partai Republik yang menguasai Komite Angkatan Bersenjata Kongres berencana memberikan jutaan dolar untuk sistem pencegat roket jarak pendek dan mortir. Mereka mengkritik Presiden Barack Obama karena kurangnya dukungan untuk program kerja sama pertahanan penting.

Iron Dome diklaim telah memainkan peran penting dalam keamanan Israel. Tel Aviv sejauh ini telah mengoperasikan tiga unit dari sistem itu dan membutuhkan total 13 atau 14 unit untuk melindungi berbagai wilayah perkotaan. Washington telah memberikan 205 juta dolar untuk mendukung pengoperasian Iron Dome. Sistem ini menggunakan radar kecil pemandu rudal untuk meledakkan roket dan mortir musuh di udara.

Selain transfer uang tahunan dan perlengkapan perangkat keras, AS juga membangun gudang amunisi di Israel dan ini bukan bagian dari perjanjian bantuan militer. Meskipun amunisi itu dimaksudkan untuk kepentingan militer AS, tapi dalam situasi darurat, Israel dapat menggunakannya. Biaya keseluruhan dari perlengkapan militer AS yang tersimpan di Israel diperkirakan sekitar 1 miliar dolar pada tahun 2012.

AS adalah sekutu paling penting dan pelindung utama Israel dalam berbagai bidang. Semua partai politik dan presiden AS baik dari kubu Republik atau Demokrat, membangun komitmen tak tergoyahkan dengan Israel dalam kerangka hubungan khusus antara kedua belah pihak. Pemerintahan Obama dan pendahulunya, menganggap Israel sebagai penjaga perdamaian di Timur Tengah, dimana kekuatan dan keunggulan Zionis sangat penting untuk stabilitas regional.

"Israel adalah sekutu jangka panjang demokratis dan kita berbagi ikatan khusus," kata Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Bidang Politik Militer, Andrew J. Shapiro. Dia juga menegaskan komitmen AS untuk melestarikan superioritas militer Israel. Dikatakannya, "Kami tidak hanya mendukung Israel karena ikatan tradisional, tapi kami mendukung Israel karena kepentingan nasional AS menuntut itu."

Ada banyak faktor mendasar yang telah memperkuat hubungan antara Washington dan Tel Aviv seperti, peran kelompok lobi Zionis di AS, kepentingan kolektif kedua pihak, dan kesamaan pandangan pada tingkat internasional.

AS senantiasa menganggap Israel sebagai investasi strategisnya dan mengucurkan dana besar-besaran untuk melindungi Zionis sekaligus mengamankan kepentingannya di Timur Tengah. Kubu konservatif dan Republik sedang berusaha meningkatkan bantuan militer kepada Israel untuk mempertahankan superioritas militer Zionis di kawasan.

Setelah menelan kekelahan memalukan dalam menghadapi Hizbullah Lebanon, rezim Zionis secara serius mulai memikirkan penguatan sistem pertahanan rudalnya. Sebelumnya, Israel mengembangkan sistem anti-rudal Arrow dan David Sling, namun pasca perang Lebanon, mereka memutuskan untuk memulai proyek raksasa guna merancang dan memproduksi sistem Iron Dome.

Pandangan strategis AS selama beberapa dekade lalu terhadap Israel telah mendorong negara itu untuk mengeluarkan dana fantastis sebagai bantuan militer tahunan. Sepanjang tahun fiskal 2009 hingga 2012, pemerintah AS telah memberikan 9 miliar dolar bantuan militer selain program-program terpisah yang diratifikasi oleh Kongres.

Selain bantuan militer, AS juga memberikan dukungan politik kepada Israel pada tingkat global. Washington senantiasa membela kebijakan ekspansionis dan rasis Zionis di tanah Palestina di forum-forum dunia, terutama PBB. Pada akhirnya, Israel berubah menjadi sebuah rezim yang tak tersentuh oleh hukum internasional dan kerap menjustifikasi brutalitasnya sebagai langkah membela diri. (IRIB Indonesia/RM/NA)



Sumber :Iran Indonesian Radio


Baca lainnya 

Monday, April 9, 2012

Dalih Hadapi Cina, AS Hadirkan Pesawat Drone Buat Intai Indonesia


Rencana Amerika memanjangkan markas militernya ke Darwin Australia, akan memanjangkan gerak drone, pesawat tanpa awaknya. Drone yang makin terkenal kala menaklukan Osama di Pakistan dan juga kala dibajak Iran, memang menjadi tren Obama saat ini. Penggunaan drone jaman Obama 5 kali lebih banyak daripada Bush. Selain untuk memantau dan memata-matai, drone juga berfungsi untuk membunuh karena mampu membawa dan melontarkan missil.

Amerika beralasan, keberadaan mereka di Darwin adalah untuk menyaingi China, karena China mulai mengembangkan missil-misilnya. Oleh karena itu, Amerika ingin mengimbangi dengan menempatkan pasukannya di titik-titik tertentu termasuk di Darwin. Walaupun cukup aneh kenapa Darwin yang dipilih melihat letaknya yang cukup jauh dari Cina. Australiapun menyambut baik keinginan Amerika itu.

Keberadaan Amerika dengan markasnya tentu difasilitasi lengkap dengan peralatan canggih yang dimiliki mereka termasuk drone, dan drone mereka pada kenyataannya, akhir-akhir ini, lebih banyak digunakan untuk memantau negara-negara asia, maupun afrika, yang bermayoritas penduduk muslim, yang bergejolak, seperti Mesir, Yaman, Afghanistan dan lain sebagainya. Penggunaan drone juga beralasan untuk mencari teroris, seperti yang terjadi di Pakistan, dan untuk alasan itu, fungsinya menjadi pembunuh.

Apakah Indonesia menjadi target pantauan mereka? Kondisi Indonesia yang bermayoritas penduduk Islam dan beberapa kejadian yang dikaitkan dengan terorisme memiliki kesamaan dengan apa yang mereka pantau belakangan ini di negara-negara bergejolak. Letak Indonesia yang dekat dengan Darwinpun memudahkan gerakan drone mereka. Terlebih mereka juag sebenarnya sudah punya markas di Guam, Papua Nugini, yang akan memperkuat kedudukan militer di posisi mereka di Australia.

Selanjutnya, penggunaan drone yang anti radar, akan menyulitkan kita untuk mendeteksi keberadaan mereka. Plus keberadaan mereka di Guam, Papua Nugini, entah apakah drone sudah malang melintang di sana termasuk ke Indonesia, Entah apakah kekuatan radar atau militer kita sudah cukup canggih mengenalinya. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini, harus extra waspada terutama dalam menangani medan udara, termasuk memantau drone itu. Bukan hanya karena kekhawatiran memata-matai, tetapi juga kemampuan membunuhnya. Plus harga diri dan kedaulatan yang harus kita pertahankan.



Thursday, April 5, 2012

Punya Nuklir dan Kapal Selam Canggih, Israel Ancam Keamanan Global


Untuk memperkuat ketahanan militernya, Israel terus menerus menambah pasokan senjata dan peranti perangnya. Disebutkan belum lama ini, armada kapal selam Israel kian canggih saja.

Sebelumnya, tiga kapal selam model kapal selam Dolphin telah dikirim ke Israel antara tahun 1998 dan 2000. Pada tahun 2006, Tel Aviv kembali memesan generasi keempat dan kelima untuk dua kapal selam yang lebih canggih.


Kapal keempat dijadwalkan akan dikirim pada tahun 2013 dan yang kelima dan keenam telah dipesan supaya dikirim secara berurut pada tahun 2014 dan 2016.


Suasana di dalam kapal selam Israel Dolphin Class Submarine (unik.casciscus.us)

Tak hanya itu, Israel adalah satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah dan tidak pernah mengizinkan fasilitas nuklirnya untuk diperiksa inspektur Badan Energi Atom Internsional (IAEA) serta tidak bersedia bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

Menurut survei pada tahun 2011 yang dilakukan oleh Yayasan Friedrich Ebert bermarkas di Berlin, lebih dari 50 persen masyarakat Eropa percaya bahwa Israel adalah ancaman paling serius terhadap keamanan global.






Sumber : Republika

Tuesday, March 6, 2012

Laut Cina Selatan: Medan Tempur Baru AS-Cina di Asia Tenggara


Menyusul ketegangan soal daerah perbatasan (border dispute) antara Cina dan Filipina di Laut Cina Selatan baru-baru ini, maka sudah selayaknya kita menaruh perhatian khusus pada negara-negara bersinggungan dengan Laut Cina Selatan. Maupun nilai strategis dari Laut Cina Selatan itu sendiri. 

Laut Cina selatan memang punya nilai strategis secara geopolitik. Betapa tidak. Posisi Laut Cina Selatan membentang dari Pulau Hainan hingga Malaysia dan Singapura. Belum lagi fakta bahwa Laut Cina Selatan dilalui sepertiga dari seluruh lalu lintas maritim dunia. 

Satu catatan lagi yang tak kalah penting, pasokan minyak yang diangkut melalui Selat Malaka dari Samudra Hindia menuju Asia Timur mencapai enam kali lipat jumlah kapal yang yang melewati Terusan Suez dan 17 kali lipat yang melewati terusan Panama. Bayangkan betapa straegisnya nilai geopolitik Laut Cina Selatan. 

Tak heran jika Laut Cina Selatan bakal jadi medan tempur terbuka antara Amerika dan Cina di masa depan. Dari segi kandungan kekayaan alam saja, Laut Cina Selatan memiliki potensi gas alam sekitar 7.500 kilometer kubik (266 triliun kaki kubik). 

Bukan itu saja. Dalam hal minyak mentah pun, Laut Cina Selatan jadi pusat perhatian banyak negara besar. Berdasarakan perhitungan kasar, terdapat kekayaan minyak mentah sebesar 7 miliar barel dan 900 triliun kaki kubik di bawah permukaan laut.

Karena itu, selain berpotensi jadi medan tempur antara AS dan Cina, juga menjadi pemicu konflik antara Cina dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. 

Sebagai misal, Cina mengklaim sebagian besar kawasan ini (terbentang ratusan mil dari selatan sampai timur di Propinsi Hainan). Beijing mengklaim hak mereka atas kawasan itu bermula dari 2.000 tahun lalu dan kawasan Paracel dan Spratly merupakan bagian dari bangsa Cina. 

Vietnam juga terlibat dalam persengketaan dengan Cina terkait Laut Cina Selatan. Vietnam menyanggah klaim Cina dengan mengatakan Beijing tidak pernah mengklaim kedaulatan atas kepulauan itu sampai tahun 1940-an dan mengatakan dua kepulauah itu masuk dalam wilayah mereka. 

Klaim Laut Cina Selatan 
Selain itu Vietnam juga mengatakan mereka menguasasi Paracel dan Spratly sejak abad ke-17, dan memiliki dokumen sebagai bukti.

Jika konflik Cina dan Vietnam kian menajam terkait konflik perbatasan di Laut Cina Selatan ini, maka bisa jadi prediksi pakar politik AS Samuel Huntington bahwa Cina bakal menginvasi Vietnam bisa jadi kenyataan, atau setidaknya tren ke arah ini harus dicermati secara intensif. 

Selain itu, secara historis Cina pernah punya dendam sejarah karena Vietnam pernah menginvasi Kamboja pada 1979 dengan dalih untuk menggusur Rejim Pol Pot yang dianggap otoriter dan kejam. Menariknya, Vietnam dan Kamboja sama sama negara pemenang perang karena pada 1975 keduanya berhasil mengusir Amerika dari kedua negara tersebut menyusul kemenangan Komunis di Vietnam dan Kamboja. 

Hanya saja, Vietnam waktu itu lebih condong ke Uni Soviet sedangkan Kamboja didukung ole Cina. Alhasil, invasi Vietnam ke Kamboja menggulingkan rejim Pol Pot, benar benar membuat Cina merasa dipermalukan.

Konflik Cina dan Vietnam memang bisa semakin meruncing jika pada perkembangannya Cina mengungkit kembali penguasaan Paracel dari Vietnam sejak 1974. Dan pada 1988, kedua negara ini malah pernah bentrok secara militer di Spratly.  

Akankah Vietnam kali ini akan diinvasi oleh Cina dengan dalih adanya sengketa Vietnam dan Cina terkait Laut Cina Selatan? Kiranya skenario seperti ini di masa depan perlu dicermati secara intensif oleh para pemegang otoritas keamanan nasional di Indonesia. 

Apalagi ketika Filipina pun pada perkembangannya juga terlibat konflik daerah perbatasan dengan Cina terkait Laut Cina Selatan. Filipina mengklaim Laut Cina Selatan dengan dalih karena adanya kedekatan geografis ke kepulauan Spratly.

Bagaimana dengan Malaysia dan Brunei Darusalam? Ternyata dua negara ASEAN yang hingga kini masih tergabung dalam Persekutuan Negara-Negara Persemakmuran eks koloni Inggris(Common Wealth) ini juga terlibat klaim daerah perbatasan dengan Cina. 

Malaysia dan Brunei, sampai detik ini juga mengklaim sebagian kawasan di Laut Cina Selatan yang menurut kedua negara tersebut masuk dalam Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), sebagaimana yang ditetapkan dalam konvensi PBB tentang Hukum Laut pada 1982. 

Bahkan Malaysia, mengklaim sejumlah kecil kawasan di Spratly sebagai wilayah milik mereka. 

Dari konstalasi konflik daerah perbatasan terkait Laut Cina Selatan seperti paparan di atas, masuk akal jika ke depan kawasan ini akan jadi medan tempur baru antara AS-Cina,  mengingat keterlibatan beberapa negara yang terlibat konflik dengan Cina, seperti Malaysia-Brunei-Filipina, merupakan tiga negara ASEAN yang secara tradisional hingga kini masih terikat persekutuan strategis dengan Amerika maupun Inggris. Seperti juga semasa Perang Dingin. 

Sehingga konflik terbuka antara salah satu dari tiga negara tersebut, praktis akan memicu konflik berskala luas antara AS dan Cina di kawasan ini. Meski dalam bentuk Proxy War atau Perang perpanjangan tangan, yang tidak memperhadapkan secara langsung antara AS dan Cina.

Kehadiran Militer AS di Asia Pasifik Semakin Menguat
Mengantisipasi ancaman Cina di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara, personel marinir AS telah ditempatkan di Darwin, Australia. Jelas hal ini untuk mengantisipasi semakin meruncingnya konflik perbatasan antara Cina dan beberapa negara ASEAN dalam kaitan Laut Cina Selatan. 

Opsi membangun pangkalan militer di Filipina seperti di Teluk Subic pada 1972, memang belum bisa diwujudkan mengingat basis militer AS tersebut telah ditutup pada 1992 karena atas desakan dari berbagai elemen masyarakat anti perang di Filipina pada waktu itu.

Namun ada opsi lain yang gejalanya sudah mulai nampak sejak Februari lalu. Seperti latihan militer gabungan 14 negara yang dimotori India di Pulau Andaman. Menariknya, dari 14 negara yang ikut latihan tersebut, beberapa di antaranya tergabung dalam negara negara Persemakmuran (Common Wealth) eks koloni Inggris, yang masih terikat persekutuan strategis dengan London seperti India, Australia, Malaysia, Brunei dan Singapura. Meski ikut serta juga Indonesia, Kamboja, Vietnam dan Thailand. 

Dari formasi peserta latihan militer gabungan 14 negara tersebut sudah bisa dibaca bahwa gagasannya adalah mengantisipasi ancaman Cina di kawasan Asia Pasifik. India, secara jelas berhasil diprovokasi oleh AS untuk secepatnya mengantisipasi ancaman militer Cina di kawasan Asia Pasifik. 

Hal ini tergambar melalui pernyataan pejabat teras intelijen AS itu sendiri. 

"Kami menilai, India semakin khawatir dengan penguatan postur militer dan sikap agresif Cina di Samudera India serta wilayah Asia Pasifik," ujar pejabat intelijen AS James Clapper, seperti dikutip PTI, Rabu (1/2/2012).

"Pasukan India yakin, konflik Cina dan India bukanlah suatu hal yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Namun pasukan India kerap meningkatkan kemampuannya untuk menghadapi konfrontasi militer dengan Cina,"  

Namun poinnya di sini jelas sudah. Bahwa AS berhasil menggiring India untuk menggalang satu kekuatan militer bersama untuk menghadang Cina setiap saat. Mengingat fakta bahwa yang dilibatkan dalam latihan militer gabungan 14 negara tersebut sebagian besar berasal dari Asia Tenggara (ASEAN) plus Australia, dan sebagian besar bertumpu pada negara negara ASEAN sekutu AS-Inggris, maka agenda tersembunyi AS dan Inggris di balik latihan militer bersama tersebut adalah mengondisikan persekutuan militer bersama menghadang Cina di kawasan Asia Tenggara. Khususnya di sekitar Laut Cina Selatan. 

Agenda tersembunyi AS dan sekutu-sekutunya di NATO dalam menggalang persekutuan militer di Asia Tenggara kiranya bukan khayalan dan spekulasi belaka. 

Kekhawatiran AS ihwal manuver Cina menguasai Laut Cina Selatan, setidaknya telah disuarakan oleh Robert D Kaplan, selaku pengamat dari Center for a New American Security. Kaplan yang juga anggota Dewan Kebijakan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, menilai bahwa Cina bermaksud menguasai Laut Cina Selatan sebagaimana AS menguasai Karibia. 

Berarti tersirat melalui kajian Kaplan, dia bermaksud merekomendasikan pemerintahan Obama agar memprioritaskan pengembangan kekuatan militer AS di kawasan Asia Pasifik. Mengingat latarbelakangnya sebagai anggota Dewan Kebijakan Departemen Pertahanan, berarti kajian Kaplan tak pelak lagi merupakan pesanan dari Pentagon yang agenda strategisnya adalah untuk memiliterisasikan politik luar negeri AS seperti di era kepresidenan George W Bush dulu. 

Upaya AS untuk menguasai Laut Cina Selatan menghadang Cina, terungkap melalui poin lain dari rekomendasi Kaplan. Menurut Kaplan, AS seharusnya mengincar perimbangan kekuasaan di Laut Cina Selatan, meski bukan sebagai pendominasi. Namun dari fakta ini, hakikinya AS punya agenda strategis menguasai Laut Cina Selatan melalui berbagai tahapan maupun opsi. 

Selain rekomendasi terselubung Kaplan untuk memperkuat kekuatan militer AS di Asia Pasifik, Hugh White sebagai pakar studi strategis dari Australian University, juga merekomendasikan hal yang secara teknis sejalan dengan rekomendasi Kaplan. 

White malah sudah sampai pada sebuah proyeksi bahwa AS akan menggantikan peran Cina sebagai pendominasi kawasan Laut Cina Selatan. Dengan merangkul Cina, India, Jepang  sebagai kekuatan utama di Asia namun tetap dalam orbit AS. Seperti juga halnya di Eropa Perancis, Jerman dan Inggris sebagai kekuatan utama di Eropa. 

Namun model ini diterapkan dengan asumsi bahwa AS akan memanfaatkan kekhawatiran Jepang terhadap kemungkinan Cina sebagai kekuatan dominasi tunggal di Laut Cina Selatan. 

Terhadap kedua rekomendasi dua pakar studi strategis tersebut, jelas lah sudah bahwa AS secara sadar dan sistematis bermaksud mengincar kawasan Laut Cina Selatan, dan tentunya saat ini sedang menggalang persekutuan militer dengan negara-negara di seputar Laut Cina Selatan. 




Thursday, March 1, 2012

Kekuatan Militer Indonesia Peringkat Ke-18 Dunia Tahun 2011 (3)



Berikut urutan negara 11-20 berdasar kekuatan militernya:
11. BRAZIL
12. IRAN
PERSONNEL
Total Population: 77,891,220 [2011]
Available Manpower: 46,247,556 [2011]
Fit for Service: 39,556,497 [2011]
Of Military Age: 1,392,483 [2011]
Active Military: 545,000 [2011]
Active Reserve: 650,000 [2011]


LAND ARMY
Total Land Weapons: 12,393
Tanks: 1,793 [2011]
APCs / IFVs: 1,560 [2011]
Towed Artillery: 1,575 [2011]
SPGs: 865 [2011]
MLRSs: 200 [2011]
Mortars: 5,000 [2011]
AT Weapons: 1,400 [2011]
AA Weapons: 1,701 [2011]
Logistical Vehicles: 12,000

AIR POWER
Total Aircraft: 1,030 [2011]
Helicopters: 357 [2011]
Serviceable Airports: 319 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 4,172,000 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 1,809,000 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 137,600,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 25,700,000 [2011]
Roadway Coverage: 172,927 km
Railway Coverage: 8,442 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $9,174,000,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $75,060,000,000 [2011]
Purchasing Power: $818,700,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 850 km
Coastline: 2,440 km
Square Land Area: 1,648,195 km
Shared Border: 5,440 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 261
Merchant Marine Strength: 74 [2011]
Major Ports & Terminals: 3
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 3 [2011]
Submarines: 19 [2011]
Frigates: 5 [2011]
Patrol Craft: 198 [2011]
Mine Warfare Craft: 7 [2011]
Amphibious Assault Craft: 26 [2011]

13. JERMAN
14. TAIWAN
15. PAKISTAN
16. MESIR
17. ITALIA

18. INDONESIA
JUMLAH PERSONIL
Total Population: 245,613,043 [2011]
Available Manpower: 129,075,188 [2011]
Fit for Service: 107,538,660 [2011]
Of Military Age: 4,455,159 [2011]
Active Military: 438,410 [2011]
Active Reserve: 400,000 [2011]

KEKUATAN ANGKATAN DARAT
Total Land Weapons: 1,577
Tanks: 335 [2011]
APCs / IFVs: 691 [2011]
Towed Artillery: 59 [2011]
SPGs: 0 [2011]
MLRSs: 42 [2011]
Mortars: 350 [2011]
AT Weapons: 100 [2011]
AA Weapons: 100 [2011]
Logistical Vehicles: 1,101

KEKUATAN ANGKATAN UDARA
Total Aircraft: 510 [2011]
Helicopters: 168 [2011]
Serviceable Airports: 684 [2011]

SUMBER DAYA ALAM
Oil Production: 1,023,000 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 1,115,000 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 4,050,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTIK
Labor Force: 116,500,000 [2011]
Roadway Coverage: 437,759 km
Railway Coverage: 5,042 km

ANGGARAN MILITER (USD)
Defense Budget: $4,740,000,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $96,210,000,000 [2011]
Purchasing Power: $1,030,000,000,000 [2011]

GEOGRAFIS
Waterways: 21,579 km
Coastline: 54,716 km
Square Land Area: 1,904,569 km
Shared Border: 2,830 km

KEKUATAN ANGKATAN LAUT
Total Navy Ships: 136
Merchant Marine Strength: 1,244 [2011]
Major Ports & Terminals: 9
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 2 [2011]
Frigates: 6 [2011]
Patrol Craft: 31 [2011]
Mine Warfare Craft: 12 [2011]
Amphibious Assault Craft: 8 [2011]

19. THAILAND
PERSONNEL
Total Population: 66,720,153 [2011]
Available Manpower: 35,444,716 [2011]
Fit for Service: 27,490,939 [2011]
Of Military Age: 1,043,204 [2011]
Active Military: 305,860 [2011]
Active Reserve: 245,000 [2011]

LAND ARMY
Total Land Weapons: 4,392
Tanks: 542 [2011]
APCs / IFVs: 1,005 [2011]
Towed Artillery: 741 [2011]
SPGs: 26 [2011]
MLRSs: 60 [2011]
Mortars: 1,200 [2011]
AT Weapons: 818 [2011]
AA Weapons: 378 [2011]
Logistical Vehicles: 4,600

AIR POWER
Total Aircraft: 913 [2011]
Helicopters: 443 [2011]
Serviceable Airports: 105 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 380,000 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 356,000 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 430,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 38,700,000 [2011]
Roadway Coverage: 180,053 km
Railway Coverage: 4,071 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $5,200,000,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $176,100,000,000 [2011]
Purchasing Power: $586,900,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 4,000 km
Coastline: 3,219 km
Square Land Area: 513,120 km
Shared Border: 4,863 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 164
Merchant Marine Strength: 382 [2011]
Major Ports & Terminals: 5
Aircraft Carriers: 1 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 0 [2011]
Frigates: 6 [2011]
Patrol Craft: 109 [2011]
Mine Warfare Craft: 7 [2011]
Amphibious Assault Craft: 9 [2011]

20. UKRAINA
——————————————————
Inilah kekuatan militer beberapa negara Asia Tenggara :
23. FILIPINA
PERSONNEL
Total Population: 101,833,938 [2011]
Available Manpower: 50,649,196 [2011]
Fit for Service: 41,570,732 [2011]
Of Military Age: 2,081,388 [2011]
Active Military: 120,000 [2011]
Active Reserve: 130,000 [2011]

LAND ARMY
Total Land Weapons: 2,379
Tanks: 41 [2011]
APCs / IFVs: 559 [2011]
Towed Artillery: 309 [2011]
SPGs: 0 [2011]
MLRSs: 0 [2011]
Mortars: 1,070 [2011]
AT Weapons: 400 [2011]
AA Weapons: 200 [2011]
Logistical Vehicles: 8,438

AIR POWER
Total Aircraft: 289 [2011]
Helicopters: 159 [2011]
Serviceable Airports: 254 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 9,671 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 307,200 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 168,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 38,900,000 [2011]
Roadway Coverage: 213,151 km
Railway Coverage: 995 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $2,439,510,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $62,370,000,000 [2011]
Purchasing Power: $351,400,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 3,219 km
Coastline: 36,289 km
Square Land Area: 300,000 km
Shared Border: 0 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 120
Merchant Marine Strength: 428 [2011]
Major Ports & Terminals: 6
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 0 [2011]
Frigates: 2 [2011]
Patrol Craft: 128 [2011]
Mine Warfare Craft: 0 [2011]
Amphibious Assault Craft: 10 [2011]

24. AUSTRALIA
PERSONNEL
Total Population: 21,766,711 [2011]
Available Manpower: 10,433,186 [2011]
Fit for Service: 8,651,943 [2011]
Of Military Age: 279,365 [2011]
Active Military: 57,500 [2011]
Active Reserve: 25,000 [2011]

LAND ARMY
Total Land Weapons: 3,259
Tanks: 59 [2011]
APCs / IFVs: 1,861 [2011]
Towed Artillery: 303 [2011]
SPGs: 0 [2011]
MLRSs: 36 [2011]
Mortars: 1,000 [2011]
AT Weapons: 500 [2011]
AA Weapons: 100 [2011]
Logistical Vehicles: 12,495

AIR POWER
Total Aircraft: 374 [2011]
Helicopters: 100 [2011]
Serviceable Airports: 465 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 589,200 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 946,300 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 3,318,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 11,620,000 [2011]
Roadway Coverage: 812,972 km
Railway Coverage: 38,445 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $26,900,000,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $38,620,000,000 [2011]
Purchasing Power: $882,400,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 2,000 km
Coastline: 25,760 km
Square Land Area: 7,741,220 km
Shared Border: 0 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 53
Merchant Marine Strength: 45 [2011]
Major Ports & Terminals: 19
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 6 [2011]
Frigates: 12 [2011]
Patrol Craft: 14 [2011]
Mine Warfare Craft: 6 [2011]
Amphibious Assault Craft: 8 [2011]

27. MALAYSIA
PERSONNEL
Total Population: 28,728,607 [2011]
Available Manpower: 14,817,517 [2011]
Fit for Service: 12,422,580 [2011]
Of Military Age: 519,280 [2011]
Active Military: 124,000 [2011]
Active Reserve: 640,199 [2011]

LAND ARMY
Total Land Weapons: 2,465
Tanks: 74 [2011]
APCs / IFVs: 977 [2011]
Towed Artillery: 54 [2011]
SPGs: 0 [2011]
MLRSs: 36 [2011]
Mortars: 200 [2011]
AT Weapons: 1,124 [2011]
AA Weapons: 733 [2011]
Logistical Vehicles: 3,200

AIR POWER
Total Aircraft: 258 [2011]
Helicopters: 103 [2011]
Serviceable Airports: 118 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 693,700 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 536,000 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 2,900,000,000 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 12,200,000 [2011]
Roadway Coverage: 98,721 km
Railway Coverage: 1,849 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $3,500,000,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $106,500,000,000 [2011]
Purchasing Power: $414,400,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 7,200 km
Coastline: 4,675 km
Square Land Area: 329,847 km
Shared Border: 2,669 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 65
Merchant Marine Strength: 321 [2011]
Major Ports & Terminals: 5
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 2 [2011]
Frigates: 4 [2011]
Patrol Craft: 37 [2011]
Mine Warfare Craft: 4 [2011]
Amphibious Assault Craft: 1 [2011]

41. SINGAPURA
PERSONNEL
Total Population: 4,740,737 [2011]
Available Manpower: 1,255,902 [2011]
Fit for Service: 2,105,973 [2011]
Of Military Age: 52,466 [2011]
Active Military: 72,000 [2011]
Active Reserve: 300,000 [2011]

LAND ARMY
Total Land Weapons: 8,001
Tanks: 523 [2011]
APCs / IFVs: 3,042 [2011]
Towed Artillery: 208 [2011]
SPGs: 48 [2011]
MLRSs: 18 [2011]
Mortars: 162 [2011]
AT Weapons: 4,000 [2011]
AA Weapons: 1,000 [2011]
Logistical Vehicles: 2,156

AIR POWER
Total Aircraft: 422 [2011]
Helicopters: 100 [2011]
Serviceable Airports: 8 [2011]

RESOURCES
Oil Production: 10,910 bbl/Day [2011]
Oil Consumption: 927,000 bbl/Day [2011]
Proven Reserves: 0 bbl/Day [2011]

LOGISTICAL
Labor Force: 3,075,000 [2011]
Roadway Coverage: 3,356 km
Railway Coverage: 0 km

FINANCIAL (USD)
Defense Budget: $9,829,496,000 [2011]
Reserves of Foreign Exchange & Gold: $225,800,000,000 [2011]
Purchasing Power: $291,900,000,000 [2011]

GEOGRAPHIC
Waterways: 10 km
Coastline: 193 km
Square Land Area: 697 km
Shared Border: 0 km

NAVAL POWER
Total Navy Ships: 47
Merchant Marine Strength: 1,422 [2011]
Major Ports & Terminals: 1
Aircraft Carriers: 0 [2011]
Destroyers: 0 [2011]
Submarines: 6 [2011]
Frigates: 6 [2011]
Patrol Craft: 18 [2011]
Mine Warfare Craft: 4 [2011]
Amphibious Assault Craft: 4 [2011]