Clock By Blog Tips
Showing posts with label News - Amerika. Show all posts
Showing posts with label News - Amerika. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

AL AS Tembak Kapal Nelayan India di Lepas Pantai UEA, Seorang Tewas

(AP/MC3 Daniel Meshel, US Navy). Gambar yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut AS tanggal 19 Juni 2012 memperlihatkan USNS Rappahannock (kanan) tengah berlayar di Laut Merah. Kapal tersebut, Selasa (17/6), menembak kapal nelayan India.

Tentara AS di kapal pengisi BBM Angkatan Laut AS melepaskan tembakan ke kapal motor kecil di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA), Selasa (17/7), setelah kapal itu mengabaikan peringatan agar tidak mendekat. Seorang pejabat pertahanan AS yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan satu orang tewas dan tiga lain cedera dalam penembakan itu.

Ia menambahkan kapal itu diyakini melaju menjauhkan diri setelah penembakan tersebut.

Jurubicara Komando Pusat Angkatan Laut AS menolak berkomentar mengenai korban dan menyerahkan masalah itu kepada pihak berwenang di UEA. Para pejabat di negara itu tidak bisa dihubungi untuk diminta keterangan mereka.

Kapal motor itu mengabaikan serangkaian peringatan agar berhenti ketika bergerak mendekati kapal AS Rappahannock di perairan dekat pelabuhan Jebel Ali, UEA, kata Komando Pusat Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.

"Awak kapal AS berulang kali berusaha memperingatkan operator kapal itu agar tidak mendekat," katanya, dengan menambahkan bahwa insiden itu kini masih diselidiki.

Angkatan Laut AS memperkuat pasukan di kawasan kaya minyak itu sejak terjadi ketegangan dengan Iran pada Desember menyangkut program nuklirnya, dan Teheran telah mengancam menutup Selat Hormuz yang strategis di Teluk selatan.

AS menempatkan dua kapal induk pesawat di kawasan itu -- USS Abraham Lincoln dan USS Enterprise -- dan melipatgandakan armada penyapu ranjau di daerah tersebut dari empat menjadi delapan kapal pada 23 Juni.

Penempatan itu bertujuan mengirim pesan tegas kepada Iran menyangkut ancamannya untuk meranjau Selat Hormuz, yang dilewati oleh sekitar seperlima minyak dagang dunia.

Sementara itu, India menyerukan Uni Emirat Arab Selasa (17/7), untuk menyelidiki penembakan fatal itu, kata kementerian luar negeri India.

Duta besar India untuk negara kaya minyak tersebut telah meminta pemerintahan UEA untuk menyelidiki keadaan sebenarnya insiden tragis itu, kata jurubicara kementerian Syed Akbaruddin.

Ia menambahkan bahwa kedubes India di Washington menghubungi badan berwenang di AS dan menjanjikan "penyelidikan penuh", sementara duta besar AS untuk New Delhi Nancy Powell telah menelepon "untuk menyampaikan rasa penyesalannya atas jatuhnya korban jiwa".

Para pengamat mengatakan Washington akan berupaya keras untuk mengetahui adanya dampak diplomatik terhadap hubungan mereka dengan India, dimana mereka mencoba untuk mempromosikan diri sebagai sekutu penting Asia untuk mengimbangi pengaruh China dan sebagai satu pasar ekspor baru bagi perusahaan AS.

Pejabat pertahanan AS mengatakan kapal nelayan itu telah mengabaikan peringatan untuk tidak mendekati kapal pengisi BBM USNS Rappahannock, dan bahwa pelaut di atas kapal Amerika mengkhawatirkan kapal nelayan tersebut melakukan sebuah ancaman.

Kedutaan AS di New Delhi telah mengeluarkan wpernyataan yang menyampaikan "permintaan maaf AS kepada keluarga kru kapal yang menjadi korban" namun mengatakan mereka tidak memperdulikan peringatan dan mendekati kapal AS dengan cepat.(Ant/Rtr/AFP/echo)


Sumber : Analisa

Wednesday, July 4, 2012

Militer AS Melarang Terbang Armada Hercules Pemadam Api


Angkatan Udara AS, Senin (2/7/2012), memutuskan melarang terbang tujuh pesawat C-130 Hercules yang dilengkapi alat khusus pemadam kebakaran setelah salah satu pesawat jatuh saat memadamkan kebakaran di South Dakota, sehari sebelumnya. 

Pesawat Hercules dari Wing Angkutan Udara ke-145 yang berpangkalan di Charlotte, North Carolina, itu, sedang membantu pemadaman kebakaran lahan di dekat kota Edgemont, sekitar 130 kilometer arah barat daya dari Rapid City, Negara Bagian South Dakota, Minggu (1/7/2012) sekitar pukul 18.00 waktu setempat.

Satu awak pesawat, yakni Letnan Kolonel Paul Mikeal dari Mooresville, North Carolina, tewas dalam kecelakaan tersebut. Sementara lima awak lainnya menderita luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit di Rapid City.

Setelah insiden tersebut, Garda Nasional Udara AS melarang terbang tujuh Hercules yang diperbantukan ke Dinas Kehutanan AS untuk memadamkan kebakaran lahan besar-besaran di kawasan Colorado. Pesawat tersebut dilengkapi dengan modul khusus pemadam kebakaran yang bernama Modular Airborne Firefighting System (MAFFS).

Dengan modul tersebut, pesawat bisa menumpahkan tak kurang dari 11.400 liter air atau zat pemadam api ke atas kawasan yang terbakar. Pesawat-pesawat ini sangat berguna dalam memadamkan kebakaran di wilayah luas, seperti kebakaran Waldo Canyon di Colorado, yang telah melalap habis lahan seluas 7.214 hektar.

Pelarangan terbang itu diterapkan untuk mengetahui apa penyebab kecelakaan dan mencegah insiden sama terulang lagi. "Kami perlu memastikan para awak dan pesawat-pesawat kami akan siap menjalankan lagi misi (pemadaman) ini dengan aman," tutur Komandan Grup Ekspedisioner Udara ke-153 Kolonel Jerry Champlin.

Dengan larangan terbang ini, proses pemadaman hanya akan mengandalkan 14 pesawat yang disewa dari perusahaan swasta oleh pemerintah federal AS. "Pada dasarnya kita tiba-tiba kehilangan delapan pesawat untuk memadamkan kebakaran, dan itu akan membuat kami makin sulit memadamkan api," tutur Mike Archer, juru bicara pihak pemadam kebakaran.

Presiden Barack Obama bulan lalu sudah menandatangani pemesanan tambahan tujuh pesawat pemadam kebakaran untuk memperkuat armada pemadam kebakaran AS yang sudah berkurang. Namun, pesawat-pesawat tersebut baru akan dikirim pertengahan Agustus. 
 
 
 
Sumber : Kompas

Friday, June 8, 2012

AS Bantah Kirim Komando ke Korea Utara

Juru bicara pers Departemen Pertahanan AS, George Little membantah AS menerjunkan komando ke Korea Utara (foto: dok).

Amerika membantah sebuah laporan bahwa komando militer AS telah  terjun dengan parasut ke Korea Utara untuk mengumpulkan  informasi intelijen mengenai instalasi militer bawah tanah Korea Utara.

Jurnal politik yang terbit di Tokyo,  The Diplomat memuat sebuah laporan hari Senin yang menduga seorang komandan operasi khusus Amerika mengungkap program komando rahasia itu dalam sebuah konferensi di Florida minggu lalu.

Juru bicara pers Departemen Pertahanan Amerika George Little mengatakan kepada wartawan hari Selasa bahwa laporan itu telah salah mengutip Brigjen Angkatan Darat Tolley.

Little mengatakan Amerika bekerja sama secara erat dan setiap hari dengan sekutunya di kawasan itu untuk mengembangkan informasi mengenai tujuan dan kemampuan Korea Utara.

Kolonel  Jonathan Withington, juru bicara Pasukan Amerika di Korea mengatakan kepada VOA komentar Tolley telah “diartikan sangat bebas” dan beberapa dari kutipan itu “direkayasa seolah olah berasal darinya”

The Diplomat mengutip Tolley yang mengatakan komando Amerika dan Korea Selatan ikut serta dalam misi pengintaian yang katanya untuk mengungkap informasi mengenai “ribuan terowongan bawah tanah “ yang dibangun oleh Korea Utara sejak Perang Korea.

Withington mengatakan sudah umum diketahui bahwa Korea Utara menggunakan terowongan bawah tanah untuk menyembunyikan operasi militernya yang sensitif. Tapi ia mengatakan  pasukan Amerika atau Korea Selatan “tidak pernah” terjun dengan parasut ke Korea Utara untuk mengadakan misi khusus itu.

Penulis laporan jurnal The Diplomat itu David Axe, menolak pendapat bahwa ia membuat-buat kutipan jendral itu. Ia mengatakan jika jendral itu berbicara dengan pengandaian “ia tidak mengatakan demikian” dan bahwa “jendral itu berbicara dalam bentuk waktu sekarang” dan “panjang lebar”. 


Sumber : VOA

Monday, June 4, 2012

Militer AS Incar Peran Strategis Pelabuhan Vietnam


Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, menyatakan, bekas pelabuhan pasukan negara adidaya itu dalam Perang Vietnam dapat memainkan peran penting dalam pergeseran tentara Amerika Serikat ke Asia-Pasifik.

Kunjungan Panetta ke teluk Cam Ranh itu yang pertama dilakukan kepala Pentagon sejak Perang Vietnam berakhir pada 1975 dan perjalanan sarat lambang, yang mencerminkan upaya Washington memperdalam hubungan dengan bekas musuhnya ketika negara itu berusaha melawan kekuasaan China, yang kian besar.

"Jalur bagi kapal angkatan laut Amerika Serikat ke sarana ini adalah kunci hubungan dan kami melihat peluang luar biasa di sini," katanya kepada wartawan di geladak USNS Richard E Byrd, kapal barang angkatan laut Amerika Serikat, yang saat ini di pelabuhan itu.

Dengan rencana baru menggeser sebagian besar armada angkatan laut Amerika Serikat ke Pasifik pada 2020, Panetta menggambarkan pelabuhan air dalam itu secara strategis penting.

"Sangat penting bekerja dengan mitra seperti Vietnam, untuk dapat menggunakan pelabuhan seperti ini, seperti menggerakkan kapal dari pelabuhan kami di Pantai Barat, pangkalan kami di sini di Pasifik," katanya.

Teluk Cam Ranh adalah salah satu pelabuhan alam terbaik di kawasan itu dan Amerika Serikat melihatnya bagus untuk meningkatkan kehadiran angkatan lautnya dalam persaingan di laut Cina Selatan.

Vietnam baru-baru ini mulai mengizinkan angkatan laut asing, termasuk Amerika Serikat, menggunakan teluk Cam Rahn untuk pemasokan dan perbaikan. Tapi, jumlah kunjungan setahun dibatasi dan panglima Amerika Serikat ingin memperluas jalur ke pelabuhan itu, mungkin termasuk kapal perang, kata pengulas.

Perjalanan Panetta itu mencerminkan peralihan hubungan Amerika Serikat dengan Vietnam serta peningkatan persaingan Cina dengan Amerika Serikat, dengan laut Cina Selatan di tengah lomba itu.

Saat melihat teluk itu, yang pernah penuh dengan kapal angkatan laut Amerika Serikat pada puncak perang Vietnam, Panetta berbicara tentang "kekuatan sejarah", saat
perang pahit memberikan jalan untuk zaman baru.

"Bagi saya pribadi, ini saat sangat menggetarkan," katanya.


Sumber : Republika

Thursday, May 31, 2012

Amerika Tolak Intervensi Militer di Suriah


Amerika Serikat (AS) menolak melakukan intervensi di Suriah, meskipun kendatipun pada Selasa (29/5/2012) kemarin telah mengusir seorang diplomat penting Damaskus setelah pembunuhan lebih dari 100 orang di satu kota negara itu. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nulland, mengatakan Perwakilan Pemerintah Suriah di AS, Zuheir Jabbour, diberikan waktu 72 jam untuk meningalkan negeri Paman Sam. Ini merupakan bagian dari gelombang pengusiran para diplomat Suriah oleh negara-negara Barat. Kendatipun tindakan-tindakan penting itu secara simbolis bertujuan untuk meningkat pengucilan terhadap Presiden Bashaa al-Assad, tetapi pemerintah Presiden Barck Obama tetap menolak intervensi militer AS di Suriah.

Pembunuhan di desa Houla, yang menurut ketua misi perdamian PBB di Suriah dilakukan milisi pro-Bashar, telah meningkatkan desakan pada pemerintah Barat untuk menghentikan pertumpahan darah lebih dari setahun di Suriah.

Sebelumnya, Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia dan Inggris melakukan tindakan-tindakan yang sama terhadap para diplomat Suriah di negara-negara itu melalui satu tindakan yang terkoordinasi. "Kami melakukan tindakan ini untuk menanggapi pembunuhan di desa Houla --yang sama sekali tidak dapat diterima, buruk, tercela karena membunuh wanita dan anak-anak, yang dilakukan Shabiha," kata Nuland.

Dalam pernyataan terpisah, Nuland menyebut serangan Jumat di Houla itu sebagai serangan ganas yang melibatkan tank-tank dan artileri. "Senjata-senjata itu yang hanya dimiliki pemerintah," tegasnya. Karena itu, pihaknya menuding pemerintah Suriah harus bertanggung jawab atas pembunuhan para warga yang tidak bersalah tersebut. Meskipun para pejabat Suriah membantah militer berperan dalam pembunuhan yang merupakan salah satu dari insiden-insiden yang paling banyak menimbulkan korban jiwa dalam konflik internal di negara tersebut.

Gedung Putih mengatakan bahwa pihaknya tidak yakin bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi intervensi militer di Suriah. Pemerintah Obama pun menolak imbauan kandidat presiden dari partai Republik, Mitt Romney, untuk melakukan intervensi militer guna mengakhiri pemerintah Bashar.

"Kami tidak yakin bahwa saat ini adalah jalan yang tepat bagi aksi militer. Kami yakin hal seperti itu akan memnimbulkan kekacauan yang lebih luas, dan lebih meningkatkan pembunuhan," kata juru bicara Gedung Putih, Jay Carney.

Sebelumnya, Romney mengeluarkan pernyataan yang mengecam kebijakan AS untuk melumpuhkan pemerintah Suriah. "Kita harus mendesak Rusia untuk menghentikan penjualan senjata kepada pemerintah Suriah dan menghentikan hambatannya di PBB. Dan kita harus bekerja sama dengan mitra-mitra untuk mempersenjatai oposisi agar mereka dapat mmpertahankan diri mereka sendiri," katanya, Selasa (29/5/2012) kemarin.


Sumber : Gatra

Monday, May 14, 2012

AS Tempatkan Kapal Perangnya di Singapura


Paman Sam akan segera mengirimkan satu kapal perang seri terbaru untuk pertama kalinya di Singapura pada 2013, untuk ditempatkan selama 10 bulan. Kapal tersebut mengemban misi memperluas pengaruh AS di Asia Pasifik.

Pejabat Angkatan Laut AS, Letnan Katie Corezo menyampaikan informasi itu lewat sebuah email kepada Agence France-Presse, Kamis (10/5/2012. Disebutkan pula, kapal tersebut berasal dari kelas terbaru "kapal tempur pesisir" (litoral combat ships). 

Kapal jenis permukaan yang kecil ini, bertugas untuk beroperasi di kawasan pesisir, dekat dengan pantai, sehingga dapat bergerak cepat mengatasi krisis. AS memandang kehadiran kapal itu akan menunjang kelangsungan strategi kehadiran AS di Asia-Pasifik.

Angkatan Laut (AL) AS juga menyatakan, kekuatan tempur lautnya harus dilengkapi dengan 55 kapal perang sejenis dan empat di antaranya akan ditempatkan di Singapura. Kapal-kapal itu akan ditempatkan secara bergantian di Singapura dan tidak ditempatkan permanen.

Di negara tetangga Indonesia itu, AS telah memiliki sebuah Pos AL yang bertugas mendukung logistik dan latihan bagi pasukannya di Asia Tenggara. Negara super power itu, juga akan meningkatkan kehadirannya di Filipina dan Thailand.

Akibat sikap agresif ini, Kementerian Pertahanan China telah mengecam aktivitas militer AS yang terus meningkat di kawasan itu. Beijing menegaskan, kehadiran militer Paman Sam itu, adalah sebuah bukti masih terpatrinya "mentalitas Perang Dingin" dari Washington.

Sebelumnnya, Washington pernah pula menyatakan keprihatinannya terhadap kemunculan sengketa kawasan di sekitar Pulau Spratly. Pulau ini kerap menjadi titik konflik antara China, Filipina, Brunei, Malaysia dan Vietnam, serta Taiwan. Apalagi, China berkali-kali melakukan latihan perang di sekitar perairan tersebut. 



Sumber :INTELIJEN.co.id 


Baca Juga 

Friday, May 11, 2012

AS Khawatir dengan Penjualan Persenjataan NATO ke Rusia


Laporan Dinas Riset Kongres AS (CRS) yang dirilis Kamis (10/5/2012) memaparkan kekhawatiran AS dan beberapa anggota NATO lainnya atas keputusan Perancis, Jerman, dan Italia menjual berbagai senjata dan peralatan militer lain ke Rusia. Penjualan itu dikhawatirkan bisa mendestabilisasi keamanan di Eropa.

Laporan tersebut dibuat oleh CRS atas permintaan Senator Richard Lugar dari Partai Republik di AS, yang khawatir senjata-senjata itu bisa digunakan melawan negara-negara sekutu AS dan suatu hari nanti bahkan bisa dijual ke China. 

Menurut laporan tersebut, Perancis menjual empat kapal serbu amfibi/kapal induk helikopter kelas Mistral kepada Rusia pada Juni 2011. Kapal kelas itu adalah kapal terbesar kedua di jajaran Angkatan Laut Perancis, dan merupakan kapal proyeksi kekuatan yang mampu membawa 16 helikopter, empat perahu pendarat, 13 tank tempur utama, dan ratusan prajurit. 

Kemudian, pada November 2011, raksasa perusahaan pertahanan Jerman, Rheinmetall, menandatangani kontrak pembangunan pusat latihan militer Rusia di kawasan Volga, Rusia. Rheinmetall menyatakan, pusat latihan senilai 131 juta dollar AS itu dilengkapi dengan sistem tercanggih yang ada di dunia. 

Italia juga menandatangani kontrak penjualan puluhan kendaraan lapis baja serba guna buatan anak perusahaan Fiat kepada Angkatan Bersenjata Rusia. 

Pemerintahan Presiden Barack Obama secara khusus keberatan dengan penjualan empat kapal kelas Mistral dari Perancis ke Rusia, dengan alasan bahwa penjualan itu bisa mengirimkan pesan yang salah baik kepada Rusia maupun kepada beberapa negara sekutu (AS) di Eropa Timur dan Eropa Tengah. 

Namun, Washington tidak menyatakan keberatannya itu secara terbuka karena prioritasnya untuk memperbaiki hubungan dengan Moskwa. 

Pihak Perancis, Jerman, dan Italia meyakini, penjualan perangkat militer itu tidak akan membuat Rusia menjadi ancaman serius bagi negara-negara NATO. Penjualan itu adalah "langkah yang logis" untuk memajukan kemitraan strategis dengan Rusia.
 
 
 
 
Sumber : Kompas
 
 

Wednesday, May 9, 2012

Senjata Diselundupkan dari Lebanon ke Suriah


Perserikatan Bangsa-bangsa dalam laporannya, Selasa (8/5/2012),  menyebut terjadi penyelundupan senjata lintas perbatasan, antara Lebanon dengan Suriah.

Suriah telah berulangkali menyatakan senjata diselundupkan melewati perbatasannya dari Lebanon dan negara lain guna mempersenjatai gerilyawan yang memerangi Presiden Bashar al-Assad dalam konflik tersebut. Para diplomat Barat dan pejabat PBB menyatakan meskipun gerilyawan menerima senjata, mereka tetap saja kalah lengkap.

Aparat keamanan menewaskan sedikitnya 10 orang dalam pertempuran di seluruh Suriah pada Selasa, kata beberapa aktivis, sementara penengah internasional Kofi Annan, Palang Merah dan Liga Arab memperingatkan negara itu mulai terperosok ke dalam perang saudara.

"Berdasarkan informasi yang kami peroleh ada alasan untuk percaya ada aliran senjata pada kedua arah dari Lebanon ke Suriah dan dari Suriah ke dalam Lebanon," kata Terje Roed-Larsen, utusan khusus PBB mengenai pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan yang menyerukan perlucutan senjata anggota milisi Lebanon.

"Kami tak memiliki pengamat independen untuk ini, tapi kami melandasi laporan kami atas keterangan yang kami terima dari bermacam sumber," ia mengatakan kepada wartawan setelah memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan (DK) PBB.

Menurut catatan penjelasan Roed-Larsen, ia memberitahu DK bahwa Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon telah membahas masalah pengiriman senjata lintas-perbatasan tersebut selama kunjungannya baru-baru ini ke Beirut. Ban mendesak para pejabat di Lebanon agar meningkatkan kendali perbatasan mereka.

Pemerintah Lebanon menyita sebanyak 60.000 unit amunisi yang disembunyikan di dalam dua mobil di kapal peti kemas Italia yang merapat di pelabuhan Tripoli di Lebanon utara, kata satu sumber keamanan, Selasa pagi. Tripoli menghadapi protes rutin guna mendukung aksi perlawanan terhadap Bashar, demikian laporan Reuters .

Pada akhir April, pemerintah Lebanon menyita banyak senjata yang dikirim dari Libya termasuk granat berpeluncur roket dan amunisi senjata berat dari satu kapal yang dicegat di Laut tengah. Pemilik kapal tersebut mengatakan kapal itu sedang dalam pelayaran ke Tripoli dari Lebanon.

PBB menyatakan lebih dari 9.000 orang telah tewas oleh pasukan negara, yang berusaha menggilas aksi perlawanan terhadap empat dasawarsa kekuasaan Bashar al-Assad dan dan ayahnya, Hafez al-Assad.

Apa yang berawal sebagai gerakan protes damai telah berubah jadi aksi perlawanan bersenjata terhadap pasukan Suriah. Pemerintah menyatakan pemrotes adalah teroris yang dikendalikan oleh kekuatan asing dan lebih dari 2.600 orang dari polisi serta militer telah tewas.

Penengah PBB-Liga Arab Kofi Annan mengatakan kepada Dewan Keamanan, Selasa pagi, perdamaian di Suriah tetap jauh dari jangkauan hampir satu bulan setelah gencatan senjata diumumkan.


Sumber : Kompas

Baca lainnya

Tuesday, May 8, 2012

Brasil dan Turki Tingkatkan Kerja Sama Militer


Menteri Pertahanan Brasil dan Turki, Senin (7/5/2012), berjanji untuk  meningkatkan kerja sama militer dan transfer teknologi di antara kedua negara berkembang itu.

Dalam sebuah pertemuan di Sao Paulo, Menteri Pertahanan Brasil, Celso Amorim, dan Menteri Pertahanan Turki, Ismet Yilmaz, yang sedang berkunjung, menandatangani letter of intent (LoI) yang meresmikan sebuah langkah untuk "mengembangkan kerja sama antara industri pertahanan kedua negara, termasuk transfer teknologi dan proyek bersama."

Yilmaz, pada permulaan kunjungan selama seminggunya ke Brasil, telah menyatakan minatnya pada teknologi kedirgantaraan, sibernetika dan pesawat tak berawak negara Amerika Selatan itu.

Dalam sebuah pertemuan para pemimpin kedua negara pada Oktober tahun lalu, kedua negara sepakat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan janji meningkatkan perdagangan. Presiden Brasil, Dilma Rousseff, dalam kunjungan ke Ankara ketika itu mengatakan bahwa perdagangan antara kedua negara mencapai 2 milar dollar AS pada 2011. 



Sumber : Kompas


Monday, May 7, 2012

Dua Pilot Menolak Menerbangkan Lagi F-22 Raptor


Dua pilot pesawat F-22 Raptor dari Angkatan Udara AS (USAF), memutuskan menolak menerbangkan lagi pesawat tempur tercanggih di dunia tersebut, karena kekhawatiran terhadap sistem pasokan oksigen di pesawat itu.

Mereka mengaku tak nyaman menerbangkan F-22, sampai masalah sistem oksigen itu dituntaskan.

Pengakuan dua pilot bernama Mayor Jeremy Gordon dan Kapten Josh Wilson tersebut, disampaikan dalam acara "60 Minutes" di stasiun televisi CBS. A

cara itu sendiri baru akan disiarkan hari Minggu (6/5/2012), tetapi sebagian kutipan dari acara itu sudah ditayangkan sejak Jumat (4/5/2012).

Saat ditanya apakah dia yakin pesawat tempur generasi kelima tersebut aman diterbangkan, Gordon menjawab, "Saya tak enak menjawab pertanyaan itu. (Yang jelas) saya merasa tak nyaman menerbangkan F-22 sekarang". Gordon dan Wilson berhenti menerbangkan F-22 sejak Januari 2012.

Mei tahun lalu, USAF melarang terbang seluruh armada F-22, setelah ditemukan masalah pada pasokan oksigen untuk pilot. Berbagai insiden terkait pesawat itu mengindikasikan gejala pilot terkena hipoksia (kekurangan oksigen), seperti pada satu insiden salah satu pesawat menyerempet pepohonan sebelum mendarat dan pilotnya mengaku sama sekali tak tahu atau tak ingat kejadian itu.

"Serangan hipoksia itu tersembunyi dan sangat membahayakan. Beberapa pilot bisa menjalankan seluruh misi, kemudian mendarat, dan tak tahu sama sekali bahwa mereka sempat mengalami insiden," papar Gordon.

Armada F-22 kemudian diizinkan terbang kembali sejak September 2011, tetapi para ahli masih terus mencari penyebab masalah tersebut. Selama dilarang terbang, para ilmuwan juga bingung, karena tak berhasil melacak penyebab masalah kurangnya pasokan oksigen itu.

Kini Gordon dan Wilson, yang sempat bertugas di Perang Irak dan kini menjadi anggota Garda Nasional Udara, sedang mencari perlindungan hukum sebagai "pembocor rahasia" kepada anggota Kongres Adam Kinzinger, wakil rakyat dari Partai Republik asal Illinois.

Pihak USAF menolak berkomentar soal isi acara 60 Minutes tersebut, tetapi menegaskan bahwa unsur keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama mereka.

"Meski program F-22 telah menghadapi berbagai macam tantangan, Angkatan Udara tetap berkomitmen tidak hanya untuk mencari penyelesaian masalah tersebut tetapi juga perhatian penuh terhadap masalah keselamatan," ungkap juru bicara USAF Letnan Kolonel John Dorrian.

F-22 Raptor saat ini adalah satu-satunya pesawat jet tempur generasi kelima yang telah dioperasikan oleh sebuah negara di dunia. Begitu banyaknya teknologi canggih dan sensitif yang dimasukkan ke pesawat itu, termasuk teknologi mengelak radar, sehingga Kongres AS mengeluarkan peraturan yang melarang pesawat itu dijual ke negara lain.

Pesawat yang dirancang untuk menjalankan misi pertempuran udara (dog fight) itu sejauh ini menjadi pesawat termahal yang sudah dibeli oleh Pentagon. Militer AS telah memiliki lebih dari 160 unit pesawat tersebut, dan berencana akan mengembangkan jumlahnya menjadi 187 unit.

"Adik" F-22, yakni F-35 Lightning II, hingga saat ini masih berada pada tahap pengembangan dan juga menemui berbagai masalah teknis dan penundaan produksi skala penuh. 



Sumber : Kompas

Baca Lagi

Friday, April 13, 2012

PBB Pertimbangkan Kirim 30 Pengamat Militer ke Suriah


Sebuah draft resolusi tengah dibahas Dewan Keamanan PBB yang berisi rencana pengiriman 30 pengamat militer ke Suriah untuk mengawasi aksi gencatan senjata antara pasukan pemerintah dan pejuang oposisi.

Draft tersebut meminta pemerintah Suriah untuk menjamin kebebasn bergerak bagi para pengamat tersebut. Para pengamat tersebut juga harus diizinkan mewawancarai siapa pun secara tertutup.

Draft itu juga menuntut pemerintah Suriah untuk menarik pasukan dan persenjataan dari wilayah padat penduduk.


Sumber : MI

Baca juga

Monday, April 9, 2012

AS akan kirim kapal perang ke Singapura untuk latihan bersama


Washington - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Leon Panetta pada Kamis mengumumkan rencana untuk mengirim kapal-kapal perang ke Singapura untuk latihan bersama.

Pengumuman itu dibuat sehari setelah Panetta bertemu dengan Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen di Pentagon dan saat pengiriman pertama 2.500 Marinir AS ke Australia mulai dilakukan.

"Tindakan departemen pertahanan untuk mengirim kapal-kapal tempur AS ke Singapura dan menaikkan tingkat pelatihan bersama akan memperkuat hubungan militer bilateral," demikian menurut pernyataan bersama dari para pemimpin pertahanan kedua negara yang dikutip Kantor Berita AFP.

Pernyataan itu juga menyebutkan, kedua pemimpin negara menegaskan keyakinan mereka bahwa kehadiran AS di kawasan Asia-Pasifik akan meningkatkan keamanan regional.

Desember lalu AS mengisyaratkan kemungkinan mengirim ke Singapura "kapal-kapal perang daerah pesisir kecil" yang digunakan untuk operasi-operasi dekat pantai.

Pernyataan Pentagon mengatakan kapal-kapal itu akan dikirim secara bergiliran dan tidak akan berpangkalan di Singapura, yang merupakan sekutu AS.

Militer AS telah mengoperasikan satu pos kecil di Singapura yang membantu logistik dan pelatihan pasukan di Asia Tenggara.

Kementerian pertahanan China mengecam kegiatan militer AS yang meningkat di Asia dan menyebutnya sebagai bukti "mental Perang Dingin" dari Washington.

AS juga semakin cemas atas kegiatan China yang semakin aktif dalam wilayah-wilayah yang disengketakan di kawasan Asia-Pasifik seperti di Laut China Selatan.


Sumber : Antara

Friday, March 30, 2012

Amerika Latin Tertarik Membeli Pesawat Rusia

Pesawat latih/serbu ringan Yakovlev Yak-130 Mitten buatan Rusia.

Negara-negara Amerika Latin dikabarkan tertarik membeli pesawat buatan Rusia. Salah satu pesawat yang mereka minati adalah pesawat latih/serbu ringan Yakovlev Yak-130 Mitten. 

Demikian diungkapkan Vladimir Sautov, Wakil Presiden Bidang Pemasaran Produsen Pesawat Asal Rusia, Irkut, di sela-sela pameran dirgantara FIDAE-2012 di Santiago, Cile, Kamis (29/3/2012), waktu setempat.

"Kami telah melakukan negosiasi dengan para panglima angkatan udara dari Argentina, Bolivia, Paraguay, dan Uruguay," ujar Sautov. Menurut dia, para pejabat militer tersebut bahkan tertarik dengan versi Yak-130 berkursi tunggal.

Saat ini Yak-130 baru diproduksi dengan versi kursi tandem. Versi kursi tunggal baru akan diproduksi jika sudah ada pesanan pasti dalam jumlah besar.

Irkut mulai mengekspor pesawat ini sejak 2011 dengan beberapa negara pemesan, seperti Aljazair, Vietnam, dan Suriah. Kapasitas pasar internasional untuk pesawat ini diperkirakan mencapai 250 unit pesawat.

Angkatan bersenjata Rusia sendiri telah menandatangani kontrak pemesanan 55 unit Yak-130 pada Desember 2011 dan akan mulai dikirim pada 2015.

Sebagai pesawat latih tingkat lanjut terbaru dalam jajaran peralatan militer Rusia, Yak-130 dikabarkan bisa menyimulasikan berbagai karakteristik pesawat-pesawat tempur generasi 4,5 dan bahkan pesawat tempur generasi kelima Rusia, seperti Sukhoi T-50 PAK FA.


Sumber : Kompas

Thursday, March 29, 2012

AS Akan Gelontorkan Bantuan Militer Tertinggi untuk Israel

Juru bicara Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) George Little

Amerika Serikat berencana mengalokasikan bantuan finansial lebih banyak untuk mendanai sistem anti-rudal Kubah Besi Israel yang dirancang untuk mencegat roket jarak pendek dan mortir.

Hal itu dikmeukakan juru bicara Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) George Little Selasa (27/3) dan mengatakan bahwa mendukung keamanan Israel merupakan prioritas utama Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Menhan Leon Panetta ... dan keduanya berniat mengajukan usulan peningkatan dana bantuan untuk Israel kepada Kongres dalam program tersebut sesuai dengan permintaan dari Israel dan kapasitas produksinya."

Pemerintahan Obama dan Kongres AS telah mengalokasikan 205 juta USD untuk sistem anti-rudal Iron Dome Israel dalam anggaran tahun 2011. Bantuan militer untuk Israel dalam anggaran untuk tahun depan direncanakan akan sebesar 3,1 miliar USD yang melebihi tingkat bantuan saat ini dan merupakan bantuan tertinggi Amerika Serikat terhadap negara asing.

Meskipun statemen Pentagon tidak menyebutkan angka spesifik, sumber-sumber Kongres mengatakan bahwa diperkirakan bujet yang diajukan untuk membeli 10 sistem rudal yang per unitnya akan menelan biaya 10 hingga 50 juta USD. (IRIB Indonesia/MZ)





Sumber :Iran Indonesian Radio



Baca juga 

Wednesday, March 28, 2012

Obama Tambah Dana untuk Perisai Rudal Israel


Washington - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) berencana akan meminta persetujuan Kongres untuk mendanai tambahan perisai rudal jarak pendek untuk Israel 'Iron Dome'. Tambahan dana AS untuk 'Iron Dome' ini untuk meningkatkan kemampuan Israel menangkal roket dari pejuang Palestina di Gaza.

Juru bicara Pentagon, George Little mengatakan mendukung keamanan Israel adalah prioritas utama Obama dan Menteri Pertahanan Leon Panetta. Menurutnya, selama serangan roket dari Gaza awal bulan ini, sistem 'Iron Dome' telah berperan penting dalam menjaga keamanan Israel.

Pejabat Pentagon, tambah Little, sebelumnya telah berunding dengan pemerintah Israel mengenai dukungan AS untuk tambahan sistem 'Iron Dome' ini. "Dan Washington berencana meminta meningkatkan penyesuaian dana," ungkap Little yang dilansir dari Reuters, Selasa (27/3).

Permintaan tersebut didasarkan kekhawatiran Washington mengatisipasi serangan balasan Iran ke Israel. Setelah retorika serangan Israel ke Iran meningkat. Ditambah ketakutan AS dan Israel dengan adanya gejolak kekerasan yang kian parah di sepanjang perbatasan selatan Israel.

Washington memprediksi biaya pengembangan roket 'Iron Dome' Israel, setelah disetujui Kongres AS sebesar 205 juta dolar AS. Sistem 'Iron Dome' ini dikembangkan oleh perusahaan Israel, Rafael Advanced Defense Systems Ltd pada 2006 lalu. Dimana sistem perisai rudal Israel ini ditujukan untuk melawan serangan roket Lebanon.

Walau berkali-kali Obama menginginkan penyeleseian diplomasi dengan Iran, namun disaat bersamaan AS ingin menunjukkan dukungan setia pada Israel.



Sumber : Republika

Tuesday, March 27, 2012

AS Akan Bangun Tameng Anti Rudal di Asia


Pejabat Pentagon mulai menjajaki beberapa pemimpin militer di Asia terkait rencana Amerika Serikat membangun tameng anti rudal di kawasan. Tameng serupa sebelumnya telah dibangun di Eropa, untuk menghadapi ancaman dari Iran dan Korea Utara.

Asisten menteri pertahanan AS untuk urusan strategi global, Madelyn Creedon, mengatakan bahwa Pentagon telah melakukan dua pertemuan trilateral, masing-masing dengan Jepang dan Australia, dan Jepang dengan Korea Selatan.

Dikutip Reuters, Senin 26 Maret 2012, Creedon mengatakan, tameng anti rudal balistik yang akan dibangun di Asia bertujuan untuk menangkis serangan rudal jarak jauh dari Iran dan Korut yang diarahkan ke AS. Baik Iran dan Korut diyakini AS juga tengah mengembangkan senjata nuklir.

Tameng ini berfungsi untuk melacak serangan dan mengintersepsi rudal dengan menghancurkannya di udara. Fasilitas ini sebelumnya dibangun AS dan NATO di wilayah Eropa, di antaranya di Polandia, Romania, Turki dan Spanyol.

Akibat pembangunan tameng anti rudal Eropa, Rusia meradang. Pemerintahan Vladimir Putin meminta jaminan tertulis bahwa fasilitas itu tidak akan digunakan untuk menyerang instalasi nuklir Rusia. Putin bahkan mengancam akan menghancurkan tameng AS jika tidak adanya jaminan tersebut.

Mantan pejabat militer senior dan penasihat rudal AS, Riki Ellison, mengatakan bahwa rencana pembangunan tameng di Asia diperkirakan akan ditentang keras oleh China, rival AS di kawasan. Kedua negara sempat terlibat ketegangan menyusul dukungan AS terhadap beberapa negara di Asia yang terlibat sengketa Laut China Selatan.

Selain di Asia, AS juga berencana membangun fasilitas yang sama di Timur Tengah. Dalam membangun tameng rudal ini, AS menggandeng beberapa perusahaan, di antaranya Boeing, Lockheed Martin, Raytheon dan Northrop Grumman.


Sumber : VivaNews

Thursday, March 22, 2012

AS Akui Peningkatan Kekerasan di Afghanistan

Jenderal John Allen

Komandan tertinggi Amerika Serikat di Afghanistan mengakui bahwa kekerasan meningkat di negara itu akibat penistaan terhadap ​​kitab suci al-Quran oleh pasukan Amerika, Press TV melaporkan pada Selasa (20/3).

Berbicara di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS di Washington, Jenderal John Allen menuturkan, insiden itu telah memberikan pukulan telak bagi misi AS di Afghanistan.

"Setelah tersiar kabar bahwa pasukan AS melecehkan teks-teks keagamaan, termasuk al-Quran, protes yang diwarnai kekerasan terjadi di beberapa daerah. Meski hanya terjadi di beberapa daerah di Afghanistan, 32 warga Afghanistan tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam kerusuhan itu," kata Jenderal Allen.

Ini adalah konfirmasi resmi pertama dari pejabat AS atas pelecehan mereka terhadap sakralitas agama.

"Sejak 1 Januari hingga sekarang saja, pasukan koalisi telah kehilangan 60 tentaranya dari enam negara berbeda. 13 dari mereka tampaknya tewas di tangan pasukan keamanan Afghanistan. Kami percaya bahwa sebagian aksi itu termotivasi oleh kasus penistaan al-Quran," jelas komandan AS itu.

Puluhan warga Afghanistan tewas dan sejumlah lainnya terluka setelah aksi unjuk rasa anti-AS berubah menjadi kekerasan, di mana demonstran menuntut proses hukum terhadap mereka yang terlibat.

Jenderal Allen juga menegaskan bahwa 13 pasukan asing tewas oleh pasukan keamanan Afghanistan setelah insiden pembakaran al-Quran.

AS sedang berjuang untuk mengatasi serangkaian kemunduran di Afghanistan, termasuk protes rakyat atas pembakaran al-Quran dan pembantaian 16 warga sipil Afghanistan oleh pasukan Amerika. (IRIB Indonesia/RM/SL)



Sumber :Iran Indonesian Radio



Baca juga 

Sunday, March 11, 2012

Misi Terakhir Kapal Induk USS Enterprise

Para awak kapal induk USS Enterprise (CVN-65) membentuk konfigurasi rumus terkenal Albert Einstein, E=mc2, pada 11 Februari 2011, dalam rangka peringatan 50 tahun penugasan kapal itu di Angkatan Laut AS.(Kompas.com)

Norfolk - Hari Minggu (11/3/2012) ini, kapal induk USS Enterprise milik Angkatan Laut AS akan berangkat meninggalkan pangkalannya di Norfolk, negara bagian Virginia, AS, menuju kawasan Timur Tengah. Ini akan menjadi misi terakhir kapal induk yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu.

Kapal induk tersebut akan berada di kawasan Timur Tengah selama tujuh bulan untuk bersiaga apabila konflik terbuka dengan Iran meletus, dan menjalankan misi antiperompak di perairan Somalia. Semua misi itu sudah tidak asing lagi bagi Enterprise, yang ditugaskan di AL AS sejak 25 November 1961, pada puncak Perang Dingin.

Kapal tersebut pada awalnya hanya dirancang untuk bertugas selama 25 tahun. Namun, perbaikan besar-besaran pada 1979 bisa memperpanjang usia kapal induk bertenaga nuklir pertama di dunia itu. Penugasan ke Timur Tengah kali ini akan menjadi misi ke-22 kapal induk tersebut.

Selama lebih dari 50 tahun karirnya, USS Enterprise telah terlibat dalam berbagai misi bersejarah, mulai Krisis Rudal Kuba pada Oktober 1962, Perang Vietnam awal 1970-an, serangan ke Iran pada 1988, serangan pertama ke Afganistan setelah tragedi 11 September 2001, Operation Iraqi Freedom di Irak, 2003-2004, sampai terlibat dalam operasi merespons penyanderaan warga AS oleh perompak Somalia, awal tahun lalu.

Kapal dengan julukan "Big E" ini juga sangat populer di dunia pop setelah menjadi lokasi pengambilan gambar film Top Gun (1986) yang dibintangi Tom Cruise. Beberapa nama terkenal di dunia musik, seperti grup rock Hootie and The Blowfish, penyanyi Jewel dan Garth Brooks, pernah menggelar konser di atas geladak USS Enterprise.
Dengan panjang 342 meter, kapal induk ini juga menjadi kapal induk terpanjang dalam jajaran kapal induk yang pernah dioperasikan AL AS. Kapal tersebut diawaki oleh lebih dari 5.000 personel dan mampu membawa lebih dari 60 pesawat berbagai jenis.

Kapal induk ini menjadi kapal perang kedelapan di AL AS yang menyandang nama USS Enterprise dan menjadi kapal satu-satunya di kelasnya.

Usai menjalankan misi terakhirnya ini, USS Enterprise akan pulang ke pangkalannya di Pangkalan AL Norfolk, pada musim gugur nanti, dan akan resmi dipensiunkan pada 1 Desember dalam upacara yang akan dihadiri Presiden AS Barack Obama.

Musim panas tahun depan, kapal dijadwalkan ditarik ke galangan kapal Newport News dekat pangkalannya, untuk menjalani proses pelepasan bahan bakar nuklir dari delapan reaktor nuklirnya. Proses ini akan berlangsung hingga 2015, sebelum kapal dibawa ke negara bagian Washington untuk dipotong-potong menjadi besi tua.

Letnan Commander Sarah Self-Kyler, juru bicara USS Enterprise, mengatakan, kapal yang mencatat rekor sebagai kapal dengan masa operasi terlama di AL AS itu tidak akan dimuseumkan. Menurut dia, proses pengambilan bahan bakar nuklir tersebut mengharuskan dinding kapal dilubangi, dan biayanya akan terlalu besar untuk memperbaiki dinding yang sudah berlubang itu.  
 
 
Sumber : Kompas
 

Bom Sakti AS Ancam Fasilitas Nuklir Iran

Foto : Bom GBU-31

Sebuah sumber asal AS mengungkapkan pada Selasa 6 Maret 2012 bahwa Presiden Barack Obama merestui Israel memiliki sistem persenjataan penghancur sasaran bawah tanah atau bunker. Persenjataan itu meliputi pesawat pengisi bahan bakar di udara KC-35 dan bom untuk sasaran bawah tanah GBU-31.

Khabar ini muncul setelah di pagi hari sebelum konvensi AIPAC dilaksanakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan menghadang ancaman penghancuran Israel oleh nuklir Iran. Netanyahu juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan Gedung Putih dan Uni Eropa yang ingin melanjutkan kembali perundingan macet terkait program nuklir dengan Iran.

Uni Eropa memberi penawaran atas nama China, Prancis, Jerman, Federasi Rusia, Inggris dan AS untuk melanjutkan perundingan. Di sisi lain, Teheran mengisyaratkan kesediaannya untuk membiarkan inspektur internasional mengunjungi pangkalan militer Parchin di mana tes ledakan nuklir diduga dilakukan di sana.

Disebutkan pula bahwa intelijen AS sangat tahu pasti apa yang terjadi di Parchin. Begitu pula dengan Presiden Obama, dimana ketika berbicara pada konvensi AIPAC, ia berjanji untuk mencegah pengembangan lebih lanjut dari nuklir Iran.

Senada dengan Obama, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta juga berbicara sebelum konferensi AIPAC bahwa ia berjandi, AS akan mengambil tindakan militer untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir jika diplomasi gagal.

Lalu bila serangan jadi dilakukan terhadap, maka bom GBU-31 akan dijadikan tumpuan harapan Israel guna melumat mimpi senajata nuklir Iran. Bom ini bukan senjata biasa, melainkan sebuah  bomb yang bisa dibimbing menuju sasaran dengan memanfaatkan gaya grafitasi.

GBU-31 mampu membawa hulu ledak konvensional seberat 230 – 910 kilogram. Dengan menggunakan bom ini, Israel dan negara-negara Barat berharap fasilitas nuklir Iran di bawah tanah bisa dijangkau dan dihancurkan.


Sumber : Intelijen

Friday, March 2, 2012

AS Kembali Ingatkan Konsekuensi Aksi Militer Terhadap Iran

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney

Washington, Pemerintah Amerika Serikat kembali mengingatkan konsekuensi besar yang akan terjadi jika serangan militer atas Iran dilakukan. Diingatkan Gedung Putih, aksi militer terhadap Iran akan menimbulkan ketidakstabilan besar yang bisa mengancam keselamatan warga Amerika di Afghanistan dan Irak.

"Setiap aksi militer di wilayah itu berisiko menimbulkan ketidakstabilan lebih besar di wilayah tersebut," kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (1/3/2012).

Peringatan itu disampaikan beberapa hari menjelang pertemuan antara Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang rencananya akan digelar pada 5 Maret.

Dikatakan Carney, Iran berbatasan dengan Afghanistan dan Irak. "Kita punya personel sipil di Irak. Kita punya personel militer maupun sipil di Afghanistan," tutur petinggi Gedung Putih tersebut.

Pemerintahan Obama terus mengupayakan solusi politik atas masalah nuklir Iran. "Kita terus meningkatkan tekanan terhadap Iran," tegas Carney.

Beberapa waktu lalu, pemerintah Israel mengancam akan melancarkan serangan militer atas fasilitas nuklir Iran jika sanksi-sanksi yang dijatuhkan gagal memaksa Iran menghentikan program nuklirnya. Kabarnya, Israel bahkan tak akan lebih dulu memberitahu AS jika negara itu jadi menyerang Iran.


Sumber : Detik