Clock By Blog Tips
Showing posts with label Alutsista. Show all posts
Showing posts with label Alutsista. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Panser Produksi Indonesia Perkuat Pasukan UNIFIL

Kendaraan tempur Anoa produksi PT Pindad-Indonesia yang akan digunakan oleh Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL.

Suatu kehormatan bagi Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL untuk menggunakan kendaraan tempur (ranpur) Anoa yang merupakan sebuah kendaraan tempur militer lapis baja dan merupakan salah satu hasil karya terbaik anak bangsa yang diproduksi secara langsung oleh PT Pindad-Indonesia.

Salah satu kelebihan yang ada pada Anoa adalah sistem perlindungan yang diberikan oleh lapisan baja dan rangka, yaitu memiliki tingkat STANAG 3 level 3. Ini berarti, ranpur tersebut bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62 x 51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s, serta bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.

Selain itu, Anoa dibekali sistem navigasi terbaru dan alat komunikasi anti-jamming. Kendaraan tempur tersebut bisa digunakan untuk bermacam fungsi, mulai dari sebagai pembawa pasukan, kendaraan komando, hingga rumah sakit berjalan, di medan tempur.

Persenjataan yang terpasang adalah senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm untuk varian infanteri dan Automatic Grenade Launcher (AGL) 40 mm untuk varian kavaleri. Untuk pertahanan diri, Anoa dilengkapi dengan pelontar tabir asap 2 x 3 66 mm.

Saat melakukan test drive Anoa beberapa waktu lalu, ranpur ini mampu dipacu hingga 100 km/jam. Anoa juga mampu melompati parit selebar 1 meter dan melahap tanjakan dengan kemiringan 45 derajat. Seluruh bodi Anoa dilapisi baja tahan peluru. Apabila diberondong senapan AK-47 atau M-16 dijamin tidak bakal tembus.

Pengiriman 7 unit ranpur Anoa ke Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL ini merupakan program Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Mabes TNI, dalam rangka menggantikan APC VAB - NG buatan Perancis yang sudah sejak 2006 menjadi bagian yang sangat penting dalam pelaksanaan misi PBB di UNIFIL.

Kedatangan 7 unit Anoa pada Sabtu (21/7/2012) di Markas UNIFIL-Naqoura, yang juga merupakan tempat Satgas Indo FPC, disambut langsung oleh Dansatgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL Mayor Inf Wimoko dan didampingi oleh Kapten Kav I Nyoman Artawan selaku Perwira Kavaleri merangkap Pasilog Satgas.

Penggunaan ranpur Anoa oleh Satgas Indo FPC adalah untuk menunjang tugas pokok Satgas, antara lain dalam pelaksanaan patroli keamanan wilayah Markas UNIFIL (Green Hill) dan sekitarnya, pengawalan UNIFIL HoM dan Force Commander dalam rangka Tripartite Meeting antara LAF (Lebanes Armed Force), IDF (Israel Defence Force) dan UNIFIL, serta latihan-latihan gabungan dengan pasukan dari negara asing yang tergabung dalam UNIFIL.



Sumber : Kompas

Monday, July 23, 2012

Harga Selangit, Jepang Tetap Beli Jet Siluman F-35


Jepang tetap akan membeli empat jet tempur siluman F-35 buatan AS meskipun harganya naik tajam. Seorang pejabat dari kementerian pertahanan Jepang mengatakan sekarang Jepang harus membayar ¥ 9.600.000.000 ($ 120 juta) per unit, naik dari harga sebelumnya yang dialokasikan yaitu $ 110.000.000 per unit.

Dia menambahkan, para pejabat AS telah mengatakan bahwa kenaikan harga F-35 tersebut tak dapat dihindari dan Tokyo menerima situasi ini. "Kami tahu alasan kenaikan harga ini karena Amerika Serikat memutuskan untuk menunda pengadaan 179 unit F-35 untuk dalam negeri dalam lima tahun ke depan karena anggaran AS yang minim," kata pejabat itu, yang berbicara tanpa menyebutkan nama. "Kami menerimanya dan hal itu dapat dimengerti. Akan sulit bagi mereka untuk menawarkan kepada kami harga yang lebih rendah, mengingat bahwa jet tempur tersebut dikembangkan secara bersama oleh sembilan negara," lanjutnya.

Kementerian pertahanan Jepang tahun lalu memilih jet dari perusahaan senjata Lockheed Martin AS untuk menggantikan armada F-4s yang sudah tua. Sebelumnya, F/A-18 Super Hornet buatan Boeing dan Eurofighter Typhoon juga menjadi opsi pilihan bagi Jepang. F-35, dikembangkan bersama dengan raksasa industri pertahanan Inggris yaitu BAE Systems, adalah yang paling mahal di antara tiga kandidat jet tempur tersebut. Pada bulan Februari lalu, menteri pertahanan Jepang Naoki Tanaka mengancam akan membatalkan seluruh kontrak senilai $ 4,7 miliar untuk 42 unit F-35 karena tidak jelasnya batas waktu pengiriman dan harga yang naik.



Alhasil, Tokyo tetap menandatangani Letter of Offer dan Acceptance untuk empat jet tempur F-35 pada harga $ 120 juta per unit, bersama dengan dua simulator dan aksesoris lainnya dengan total biaya 60 miliar yen. Rencana pembelian 38 jet tempur siluman F-35 lainnya belum secara resmi dikonfirmasi. F-35 adalah program senjata paling mahal dalam sejarah Pentagon dan dalam pembangunannya telah diusik oleh biaya yang semakin membengkak dan penundaan teknis lainnya.

Tahun lalu sebuah memo bocor dan mengungkapkan berbagai masalah terpapar dalam tes penerbangan F-35, termasuk diantaranya masalah dengan roda pendarat, kelebihan bobot pesawat dan getaran. Amerika Serikat berkata manis tentang F-35, F-35 adalah sebuah keajaiban teknologi yang tidak akan terdeteksi oleh radar musuh saat ini dan memungkinkan pasukan sekutu untuk tetap melakukan tugasnya di udara bersama dengan pesawat tempur AS.

Tapi biaya program F-35 ini telah meroket seiring dengan krisis global, dan rasanya sulit mendapatkan pembeli-pembeli lain, hampir semua negara di Eropa saat ini tengah "mengencangkan ikat pinggang". Italia pun telah mengurangi pembelian F-35 yang awalnya direncanakan 131 unit menjadi 90 unit dan anggota parlemen di Belanda memutuskan untuk membatasi pesanan kedua mereka, sementara rencana awal untuk 138 pesawat di Inggris masih belum jelas.

Sebenarnya ada 1 negara yang saat ini sedang "jor-joran" dalam membeli peralatan perang, yaitu India. Tapi India sepertinya tidak tertarik dengan F-35, kiblat India untuk pesawat tetap mengarah ke Rusia. Ya, Anda sudah tahu jet tempur siluman Sukhoi PAK FA T-50 lah yang bakal melengkapi Angkatan Bersenjata India.




Sumber : altileri

Thursday, July 19, 2012

Roket RX 550 dan Rudal Strategis Untuk Menjaga Perbatasan


Negara tetangga boleh saja banyak uang. Mereka bisa membeli mesin perang canggih dengan uang yang berlimpah. Yang repotnya adalah jika negara tetangga itu mulai bertingkah. Mereka mulai menyusun rencana untuk memperluas wilayah, dengan cara mencaplok perbatasan negara yang bersengketa. Apakah itu mungkin ?. Sangat mungkin, jika negara Indonesia lemah, sehingga gampang ditekan dengan kekuatan militer.
Berbicara tentang uang tidak ada batasnya untuk mereka. Sementara Indonesia harus berpikir 10 kali, untuk membeli mesin perang yang canggih.

Sadar akan situasi ini, Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan missile/ peluru kendali jarak menengah dan jauh. Senjata ini akan membuat negara lain yang ingin mengganggu Indonesia mulai pikir-pikir.

RX 550 LAPAN
Perjalanan pembuatan Roket dan Missile Indonesia masih panjang dan berliku, jika dibandingkan Jepang, India, Iran dan China.

Namun para ahli LAPAN telah berjanji akan membuat roket Indonesia yang bisa mengarungi ruang angkasa, serta peluru kendali jarak jauh. Coba bayangkan kecanggihan peluru kendali China. Roket mereka berhasil menembak jatuh satelit yang berada di luar angkasa. Jika China mau, mereka bisa menembak semua satelit yang memata-matai negara mereka.


Bagaimana dengan Indonesia ?. LAPAN memiliki rencana ambisius dengan meluncurkan satelit buatan Indonesia ke ruang angkasa pada tahun 2014.

Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan pabrik baja Krakatau Steel, membuat diameter roket lebih besar dari RX 420. Krakatau Steel berhasil mengerjakannya dan terciptalah roket RX 550 (kaliber 550mm).

RX 550 merupakan komponen tingkat pertama dan kedua dari Roket Pengorbit Satelit yang memiliki panjang 8-10 meter. Saat ini roket RX 550 terus menjalani tahap revisi desain. Lapan menargetkan, RX 550 mampu meluncur hingga 500 km dan rampung pada akhir tahun 2012.

Selain menggarap RX 550, LAPAN dan lembaga lembaga strategis lainnya juga sedang merancang roket kendali atau cruisser. Salah satunya diberi nama Roket Kendali Nasional atau RKN 200.

RKN 200 akan menjadi roket tingkat empat yang berfungsi sebagai roket pengorbit satelit. RKN 200 sedang dirancang untuk memiliki tujuh kali kecepatan suara atau 7 Mach.

HSFTB
Pembuatan roket kendali memang rumit, karena Indonesia belum menguasai guide missile-nya. Sejak tahun 2010 guide missile tersebut dipelajari dengan membuat pesawat tanpa awak High Speed Flying Test Bed, HSFTB.

HSFTB merupakan wahana terbang turbojet, untuk menguji sistem kendali dengan memeriksa beragam parameter dinamika terbang yang tepat dan akurat.


Selain untuk roket pengorbit satelit, HSFTB berguna sebagai tahapan membuat rudal nasional dan UAV tingkat advance.

Wahana terbang HSTFB menganalisa anomali trayektori, menguji signifikansi perbaikan peralatan, serta menguji strategi terbang agar mencapai sasaran.

Informasi dari pesawat HSFTB ditransfer ke RKN 200 untuk merevisi kemampuan flight control system (rate gyro, akselero dan GPS), sistem tracking rocket jarak jauh (Multi Gain IMU), serta teknologi UAV (komunikasi data).

Pesawat yang dijadikan acuan dalam proses desain HSFTB LAPAN adalah Long range missile: Storm Shadow/SCALP EG buatan Konsorsium Eropa, serta AGM-158 Joint Air-to-Surface Standoff Missile, Lockheed Martin, USA.



Sumber : theglobal-review

Wednesday, July 18, 2012

Australia Beli Pesawat Tempur F/A-18F


Pejabat pertahanan Australia beberapa waktu lalu pergi ke Amerika Serikat untuk mengunjungi Lockheed Martin, produsen Jet tempur siluman F-35 JSF Lightening II, hal ini dimaksudkan untuk mengkonfirmasi tentang jadwal pengiriman jet tempur F-35 untuk Australia. 

Negara ini berencana membeli hingga 100 unit fighter F-35 dan telah menempatkan rencana pembelian awal sebanyak 14 unit. Angkatan Udara Australia diperkirakan akan segera menggunakan jet tempur siluman canggih F-35 yang pertama pada tahun 2018. 

Meskipun ada jaminan dari Lockheed Martin bahwa 14 fighter F-35 pertama akan dikirim ke Australia tepat waktu, pejabat pertahanan Australia yakin bahwa pengiriman fighter generasi baru tersebut ke RAAF (AU Australia) tidak akan terlaksana sebelum tahun 2020 atau bahkan bisa melewati tahun 2020.

Sebagai pertimbangan atas F/A-18F Super Hornets yang sudah tua dan akan segera mengakhiri masa baktinya di RAAF, dan untuk menjembatani kesenjangan dalam kekuatan pertahanan udara Australia (sebelum F-35 dikirimkan), Australia kembali menimbang opsi untuk membeli 18 unit atau lebih F/A-18F Super Hornets dengan total biaya sebesar 1,6 miliar dolar. Pemerintah Australia sebelumnya telah juga telah menandatangani kesepakatan dengan AS pada tahun 2007 untuk pembelian 24 unit F/A-18F Super Hornets yang dikirimkan secara bertahap.



Sumber : altileri

Thursday, July 12, 2012

Presiden: Rencana Pembelian Leopard Tak Perlu Dirisaukan


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, tidak perlu ada yang dirisaukan terkait rencana pemerintah membeli tank Leopard produksi Jerman, karena peruntukannya memang diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan pertahanan nasional. "Saya pastikan semua itu terbuka dan transparan, kami tidak pernah menggunakan tank tempur untuk menembaki rakyat kami. Dan itu harapan kami dengan harapan peaceful, dan sebuah negara memerlukan minimum essential force," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers di Istana Merdeka Jakarta, Selasa sore usai melakukan pertemuan bilateral dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Kepala Negara mengatakan kerjasama pertahanan Indonesia dengan Jerman memiliki dimensi yang luas, selain pelatihan, saling mengunjungi dan juga kerjasama di bidang industri pertahanan juga dilakukan pembelian peralatan pertahanan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.

"Di ASEAN tidak ada lagi hostility tetapi terus terang 20 tahun Indonesia tidak memodernisasi senjata kami sehingga negara kami tertinggal, padahal Indonesia negara besar dan ekonomi besar di Asia saat ini," kata Presiden.

Kerjasama pertahanan merupakan salah satu sektor kerjasama yang disepakati Indonesia dan Jerman yang dituangkan dalam Deklarasi Jakarta sebagai upaya peningkatan kerjasama ke level kerjasama komprehensif.

Kerjasama pertahanan meliputi pelatihan militer, penelitian dan pengembangan, pelatihan bagi tanggap bencana, logistik militer, pelatihan kesehatan militer dan juga pelatihan misi pemeliharaan perdamaian.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan membeli Tank Berat (Main Battle Tank) Leopard dari Jerman sebanyak 100 unit dalam rangka modernisasi alat utama sistem senjata TNI Angkatan Darat, padahal sebelumnya Kemhan berencana untuk membeli Tank Leopard dari Belanda.

"Kita telah putuskan membeli Tank Leopard dari Jerman dengan pertimbangan memperoleh kepastian waktu dan target dari volume peralatan militer yang kita perlukan," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada wartawan di Kantor Kemhan, Jakarta, Senin (2/7)

Rencana pembelian MBT Leopard dari Belanda, kata Wamenhan, dihentikan dan difokuskan kepada proses pengadaan pembelian tank yang berasal dari Jerman, sehingga dapat berjalan lancar.

Ia menjelaskan, pertimbangan pembelian Man Battle Tank Leopard dari Belanda tidak diteruskan karena adalah faktor kepastian dari waktu yang diperlukan, namun pihak Belanda tidak memberikan suatu jawaban.

Sjafrie menjelaskan, alokasi anggaran untuk pembelian 100 unit Tank Leopard sebesar 280 juta dolar AS, dengan sistem pinjaman luar negeri, di mana proses pengadaan melalui "grand book" maupun "blue book" baik dari Bappenas maupun Kementerian Keuangan. 


Sumber : Analisa

Tuesday, July 10, 2012

Qatar Ingin Beli Black Hawk Terbaru dari AS

Salah satu varian helikopter UH-60 Black Hawk yang digunakan Angkatan Udara AS

Qatar dikabarkan telah mengajukan permintaan kepada Pemerintah AS untuk membeli 12 unit helikopter multiguna Sikorsky UH-60M Black Hawk, yang merupakan varian terbaru dari heli legendaris tersebut. Jika disetujui Pemerintah AS, nilai kontrak pembelian itu sekitar 1,1 miliar dollar AS (Rp 10,3 triliun).

Demikian diwartakan majalah pertahanan IHS Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 20 Juni 2012. Menurut pihak Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS (DSCA), nilai kontrak tersebut sesuai dengan permintaan Qatar yang ingin membeli helikopter beserta mesin cadangan, sistem bantuan pertahanan, persenjataan, peralatan penglihatan malam, pelatihan, serta dukungan teknis dan logistik lainnya.

Heli-heli tersebut akan dilengkapi 24 mesin yang sudah terpasang ditambah dua mesin cadangan tipe General Electric T700-GE-701D; 15 unit sistem peringatan serangan rudal bersama AN/AAR-57V(7); 15 unit sistem pendeteksi sinyal radar AN/APR-39A(v)4; 26 pucuk senapan mesin M240H; dan 26 unit teropong penglihatan malam AN/AVS-6.

Selain itu, Qatar juga meminta flares anti-inframerah M206; flares AIRCM (Advanced Infrared Countermeasure Munitions) M211 dan M212; dan senapan mesin Gatling M134D-H dalam jumlah yang belum ditentukan.

Beberapa barang lain yang dipesan meliputi simulator, generator, sarana pengangkut helikopter, suku cadang, dan berbagai dukungan logistik lainnya. 
 
 
Sumber : Kompas

Monday, June 25, 2012

PTDI percepat produksi pesawat N295


PT Dirgantara Indonesia (Persero) sudah mempercepat produksi pesawat transport militer menengah CN295 guna memenuhi kebutuhan TNI-AU mengganti Fokker-27.
"Kami ini sudah masuk gigi tiga untuk produksi N295 karena harus mengejar waktu penyelesaian sembilan pesawat sampai akhir 2014," kata Sonny Saleh Ibrahim, Asisten Dirut PTDI Bidang Sistem Manajemen Mutu Perusahaan merangkap Pembina Komunikasi Perusahaan, yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.
Sonny dimintai komentarnya sehubungan dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Rio de Janeiro, Brazil, Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB, setelah menyampaikan belasungkawa untuk korban gugur dalam jatuhnya pesawat Fokker F27 TNI AU di Jakarta, Kamis lalu. 
Menanggapi pernyataan Presiden itu, Sonny mengatakan PTDI memang sebelumnya sudah mempercepat produksi N295 bahkan sudah 60 personel PTDI dikirimkan secara bertahap ke Airbus Military (dahulu Casa yang melebur ke Airbus Military) di Spanyol.
Langkah percepatan PTDI itu, menurut Sonny, tak hanya terkait pada kebutuhan di dalam negeri, yakni untuk operasional TNI-AU, namun juga sudah ada ikatan bisnis dengan Airbus Military untuk menjadikan PTDI sebagai pusat pengiriman (delivery center) pesawat-pesawat C295 di kawasan Asia-Pasifik.
Sonny menjelaskan, pesawat angkut sedang tersebut untuk penggunaan di Indonesia akan disebut N295 sebagaimana yang diucapkan Presiden di Brazil, namun untuk pemasaran Asia-Pasifik disebut CN295. Untuk penjualan di kawasan lain, tetap sebagai C295.
Berdasarkan kerjasama itu, PTDI mengerjakan komponen-komponen tertentu N295 yang selanjutnya diintegrasikan di pabrik Airbus Military. Setelah empat atau lima pesawat dikerjakan di Spanyol, selanjutnya keseluruhan produksi dilaksanakan di Bandung.
Sonny menambahkan untuk sembilan pesawat yang dibutuhkan TNI-AU, dalam tahun 2012 akan diselesaikan dua pesawat, yang keseluruhan pembuatannya memang masih di Spanyol. Namun target pengerjaan untuk sisa pesanan pertama itu di Bandung sudah akan tercapai pada tahun 2012.
Cocok untuk Indonesia

Sonny menjelaskan, tipe pesawat angkut sedang N295 sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia, khususnya dalam operasi-operasi penerjunan personil yang selama 35 tahun terakhir perannya dilakukan oleh Fokker F-27.
N295 berkapasitas angkut 45 personil, di atas CN235 yang untuk 35 personil, namun jauh di bawah pesawat transport berat C130 Hercules yang mampu membawa 90 personel. Pesawat ini multi fungsi, operasi militer, logistik, kemanusiaan, maupun evakuasi medis
Tingkat kecocokan dengan medan Indonesia itu karena penerjunan pasukan kerap harus dilakukan pada ketinggian rendah mengingat wilayahnya berpulau-pulau, atau wilayah-wilayah perkotaan padat penduduk. "Jika pakai transport berat, maka penerjunnya bisa tercerai berai," katanya.
Pengadaan sembilan N295 untuk TNI-AU ditandatangani Dirut PTDI dengan Kementerian Pertahanan disaksikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Dirut PTDI Budi Santoso saat Pameran Dirgantara Singapura awal tahun ini.
PTDI menandatangani pengadaan untuk Kementerian Pertahanan tersebut dengan Airbus Military sebagai produsen utama C295. Meski dibuat oleh Airbus Military, C295 merupakan turunan proyek bersama sebelumnya CN235, salah satu jenis pesawat transport terpopuler di dunia. 
C295 yang terbang perdana pada 1998 ini pengembangan pesawat CN-235, dengan peningkatan muatan 50 persen dan mengalami peningkatan mesin, menggunakan PW127G baru. Pesawat ini ini butuh landasan sepanjang 670 meter untuk tinggal landas, dan 320 meter untuk mendarat ini. 
Pesawat C-295 memiliki tiga varian, C-295M (versi transport militer, kapasitas angkut 48 personel pasukan payung/para, atau 27 tandu, atau tiga kendaraan ringan. Kedua, C-295MPA/Persuader (patroli maritim/anti-kapal selam), ketiga versi C-295 AEW&C (tipe peringatan dini/airborne early warning).
Awak dua orang, daya angkut 9.250 kg, berat lepas landas 23.200 kg, mesin 2  Pratt & Whitney Canada PW127G Hamilton Standard 586-F, masing-masing 1,972 kW. Kecepatan maksimum 576 km/jam (311 knots), kecepatan jelajah 480 km/jam (260 knots, 300 mph).
 
Sumber : Analisa

Tuesday, May 29, 2012

RI Siap Produksi Jet Tempur Sekuat Sukhoi


Ini kabar membanggakan dari industri alat utama sistem persenjataan Indonesia. Para insinyur Indonesia sedang menyiapkan jet tempur baru. Kualitas  pesawat ini diharapkan mampu menandingi jet dari Rusia Sukhoi Mk 2.

Teknisi putra bangsa bekerja bersama dalam proyek yang disebut jet tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang dilakukan bersama Korea Selatan. "Perkembangannya sangat bagus," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen Hartind Asrin kemarin (28/05).

Sepanjang 2012 ini, para teknisi diharapkan bisa menguasai pengembangan teknis pesawat KFX. Sampai sekarang, pengembangan teknis sudah berjalan sesuai rencana. "Kita harapkan prototype pesawat tuntas pada tahun depan," katanya.

Delegasi Komite Kerja Sama Industri Pertahanan Korea Selatan juga sudah berkunjung ke Indonesia pekan lalu. Menurut Hartind, pihak Korsel sangat puas dengan kinerja insinyur Indonesia.

Tahun depan,  para teknisi harus sudah beralih pada pencapaian berikutnya, yakni pengembangan mesin dan manufaktur. Diharapkan, pada tahap ini sudah bisa dibuat enam buah prototipe pesawat KFX.

Menurutnya, teknisi dari Indonesia dalam alih teknologi KFX/IFX ini bisa mengimbangi para teknisi dari Korea Selatan yang notabene adalah negara perancang pesawat itu. "Awalnya sulit bagi teknisi kita. Tapi, saat ini mereka sudah bisa mengimbangi," ujarnya.

Sekitar tujuh bulan lalu, Kemhan telah mengirimkan 37 teknisi untuk tahap awal proses alih teknologi. Mereka terdiri atas enam pilot pesawat tempur TNI AU, tiga orang dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan, 24 teknisi dari PT Dirgantara Indonesia, dan empat dosen teknik penerbangan dari Institut Teknologi Bandung.

Mantan Atase Pertahanan KBRI Malaysia ini mengatakan, untuk pengiriman para teknisi selanjutnya, Kemhan akan mempersiapkan sarana dan prasana, sumber daya manusia, serta manajemen yang baik."Biasanya kita akan meminta kepada pihak Korea, pengembangan apa yang bisa dilakukan lebih awal. Kita berupaya melengkapi sesuai dengan keinginan mereka agar alih teknologi berjalan sebaik-baiknya," katanya.

Kemhan berkomitmen, alih teknologi ini tidak hanya fokus pada hasil, tetapi pada proses. Hal ini dinilai penting agar proses alih teknologi benar-benar berjalan sempurna dan Indonesia bisa segera mampu membuat jet tempur sendiri.

Rencananya, proyek KFX/IFX ini akan berlangsung hingga 2020 dengan jumlah pesawat yang akan dibuat adalah 150 unit senilai USD 8 miliar. Sementara Indonesia akan mendapatkan sebanyak 50 unit dengan anggaran sebesar USD 1,6 miliar. "Jika lancar semua, ini adalah pesawat jet tempur pertama yang dibuat oleh ilmuwan Indonesia," katanya.

Sumber : JPNN

Monday, May 28, 2012

Prototipe Pesawat KFX/IFX Diharapkan Selesai Pada 2013


Pembuatan pesawat jet tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang dilakukan bersama Korea Selatan terus mengalami perkembangan, bahkan tim dari kedua negara "Technical Development Test" (TDT), sehingga diharapkan prototipe pesawat tersebut telah selesai pada 2013.

"Sepanjang 2012 ini, para teknisi diharapkan bisa menguasai pengembangan teknis pesawat KFX. Sampai sekarang, pengembangan teknis sudah berjalan sesuai rencana. Kalau pun mundur, akan kita upayakan untuk dikejar," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto usai menerima kunjungan delegasi Komite Kerja Sama Industri Pertahanan (DICC) Korea Selatan di Kantor Kemhan, Kamis.

Karena, lanjut dia, pada tahun 2013 para teknisi harus sudah beralih pada pencapaian berikutnya, yakni pengembangan mesin dan manufaktur sehingga diharapkan pada tahap ini sudah bisa dibuat enam buah prototipe pesawat KFX.

Menurut dia, teknisi yang dikirim pemerintah Indonesia untuk melakukan alih teknologi pesawat tempur KFX/IFX bisa mengimbangi para teknisi dari Korea Selatan yang notabene adalah negara perancang pesawat itu.

"Awalnya teknisi kita memang agak kesulitan mengimbangi teknisi mereka. Tapi, saat ini mereka sudah bisa mengimbangi," ujarnya.

Sekitar tujuh bulan lalu, Kemhan telah mengirimkan 37 teknisi untuk tahap awal proses alih teknologi. Mereka terdiri atas enam pilot pesawat tempur TNI Angkatan Udara, tiga orang dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan, 24 teknisi dari PT Dirgantara Indonesia, dan empat dosen teknik penerbangan dari Institut Teknologi Bandung.

Ia mengatakan, untuk pengiriman para teknisi selanjutnya, Kemhan akan mempersiapkan sarana dan prasana, sumber daya manusia, serta manajemen yang baik.

"Biasanya kita akan meminta kepada pihak Korea, pengembangan apa yang bisa dilakukan lebih awal. Kita berupaya melengkapi sesuai dengan keinginan mereka agar alih teknologi berjalan sebaik-baiknya," tuturnya.

Khusus untuk SDM, lanjut Eris, Kemhan akan mencari teknisi yang bisa mengimbangi para teknisi Korea agar tak ada kendala dalam alih teknologi sehingga ke depan Kemhan akan membagi mana yang bisa dilibatkan dalam proses alih teknologi ini, baik dari kalangan industri, akademisi, maupun dari pihak pemerintah.

Ia mengatakan, sebenarnya ada sedikit perbedaan yang memantik diskusi panjang dengan delegasi DICC Korea, yakni soal perbedaan sistem antara industri pertahanan dalam negeri dan Korea karena industri pertahanan di korea murni swasta, sedangkan di Indonesia di bawah BUMN.

Oleh karena itu, dalam kerja samanya perlu ada beberapa poin yang harus didiskusikan, kata Eris.

Kendati demikian, Kemhan berkomitmen bahwa alih teknologi ini tidak berfokus hanya pada hasil, tetapi pada proses. Hal ini dinilai penting agar proses alih teknologi benar-benar berjalan sempurna dan Indonesia bisa segera mampu membuat pesawat tempur sendiri.

Pimpinan DICC Korea Selatan Noh Dae-Lae mengatakan program alih teknologi dengan Indonesia selama ini berjalan baik karena kebijakan revitalisasi industri pertahanan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ternyata memiliki arah yang sama dengan kebijakan di negaranya.

"Diharapkan, ke depan hubungan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan bisa terus-menerus ditingkatkan. Saya berharap kerja sama ini melaju cepat," ujarnya.

Pesawat tempur KFX adalah pesawat tempur generasi 4,5 atau setingkat dengan pesawat F-18 milik Amerika Serikat. Artinya, pesawat ini lebih canggih dari pesawat tempur yang dimiliki Indonesia, termasuk pesawat F-16 dan Sukhoi.

Rencananya, proyek alih teknologi ini akan berlangsung hingga 2020 dengan jumlah pesawat yang akan dibuat adalah 150 unit senilai 8 miliar dolar Amerika. Sementara Indonesia akan mendapatkan sebanyak 50 unit dengan anggaran sebesar 1,6 miliar dolar Amerika.



Sumber : Kemhan

Wednesday, May 23, 2012

30 Tank Leopard Jerman Siap ke Jakarta

Tank Leopard. worldwide-military.com

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, mengatakan pada Oktober ini, sebanyak 30 tank jenis Leopard yang dipesan dari Jerman akan dikirim ke Jakarta.

“Awalnya tawaran datang dari Belanda dan Jerman, tetapi kita pilih Jerman karena lebih menjanjikan,” kata Pramono, di Markas Kodam XII/Tanjungpura, Selasa 22 Mei 2012, di Pontianak.

Sebanyak 30 unit tank ini, katanya, tinggal menunggu pihak Jerman untuk mengirimkannya ke Indonesia. Jenis yang akan dibeli adalah Leopard 2A6 yang merupakan hasil "retrofit 2A4" alias pengembangan teknologi terbaru karena cetak baru teknologi Leopard serupa sudah tidak diproduksi lagi.

Kelebihan memilih tawaran Jerman adalah dapat melakukan transfer of technology (TOT). Jerman juga menawarkan joint production untuk pembuatan beberapa bagian tank seberat 60 ton tersebut dengan menggandeng PT Pindad.

Masih terkait tank yang dibutuhkan TNI untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedianya di Kalimantan Barat akan ditempatkan pula satuan tank. Pramono mengatakan, saat ini di Kalimantan Barat hanya dilengkapi dengan light tank dan ke depannya akan ditingkatkan dengan tank untuk tempur. Satuan Kavaleri di Kalbar juga akan ditingkatkan dari Datasemen menjadi batalion penuh.



Sumber : Kompas

Wednesday, May 9, 2012

Belanda Jual Tank Bekas ke Indonesia?


Netherland - Kabinet demisioner Belanda akan menjual tank bekas ke Indonesia. Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah pada harian De Volkskrant.

Kabinet Belanda sebenarnya tidak mendukung transaksi ini, tapi Menteri Pertahanan Hans Hillen, yang harus melakukan operasi penghematan anggaran di departemennya, sangat membutuhkan dana hasil penjualan senilai 200 juta euro tersebut.

Melalui dukungan pada mosi Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini. Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak azasi manusia Belanda.

"Militer Indonesia melanggar hak azasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," tutur Arjan al Fassed.



Sumber : Republika

Friday, April 20, 2012

Pesawat militer akan dioperasikan di Papua

Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua Barat, Bambang Dharmono (ANTARA/Ujang Zaelani/10)

Jakarta - Pemerintah akan menyiapkan pesawat angkut militer dan kepolisian untuk mengangkut logistik di Papua. Beberapa kali terjadi penembakan terhadap pesawat udara sipil sehingga maskapai penerbangan Susi Air dan Trigana Air belum mau beroperasi di sana.

Di Bandara Mulia, Puncak Jaya, masih dalam bilangan jam, terjadi lagi insiden penembakan pesawat terbang sipil.

"Jika dalam waktu dekat mereka belum beroperasi, kami akan mengerahkan pesawat militer atau pesawat polisi untuk mengganti penerbangan Susi Air dan Trigana Air di Bandara Mulia," kata Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat, Bambang Darmono, kepada pers di Istana Wakil Presiden, di Jakarta, Kamis.

Dia ke Jakarta untuk melaporkan berbagai hal unitnya kepada sejumlah petinggi negara, yang kali itu dipimpin Wakil Presiden, Boediono.

Dia katakan, hingga kini kedua operator penerbangan komersial Trigana Air dan Susi Air belum mau beroperasi di Puncak Jaya karena merasa keamanannya belum terjamin.

Pesawat perintis jenis Twin Otter milik PT Trigana Air ditembak orang tak dikenal pada 8 April 2012 di Bandara Mulia, Puncak Jaya, Papua. Satu orang tewas dan empat orang lainnya luka akibat insiden itu.

Darmono mengatakan, kepolisian setempat sudah menyerahkan surat jaminan keamanan kepada kedua operator penerbangan di Papua itu, namun mereka tetap tidak percaya.
Kepolisian setempat juga akan meningkatkan pengamanan bandara untuk menjamin keselamatan penerbangan.

Karena maskapai penerbangan tidak mau beroperasi maka jalur logistik barang menuju dan dari sana sangat terganggu. Satu-satunya moda transportasi menuju dan dari Kabupaten Puncak Jaya adalah pesawat terbang.


Sumber : Antara

Wednesday, April 18, 2012

RI Beli Tank, Malaysia Borong Rudal Rusia

Igla, rudal anti pesawat Rusia (en.rian.ru)

Tak hanya Indonesia yang gencar berburu peralatan militer ke Rusia. Negara Jiran, Malaysia, diberitakan tengah bernegosiasi dengan Rusia untuk mendapat sejumlah persenjataan.

Laman Ria Novosti, Selasa 17 April 2012, melaporkan Malaysia akan menandatangani kontak pembelian sejumlah rudal dari perusahaan militer Rusia, Rosoboronexport.

Rudal anti tank Kornet dan rudal anti pesawat udara Igla menjadi incaran negeri jiran itu. Selain itu, Malaysia juga diberitakan berhasrat membeli rudal kendali dan kapal patroli dari Rusia.

Wakil Kepala Rosoboronexport, Viktor Komardin, mengatakan Rusia siap menjual lisensi pembuatan Molniya--kelas kapal rudal--dan Mirazh--kelas kapal patroli--ke Malaysia.

"Malaysia tertarik dengan Kapal Molniya dan Mirazh kami," kata Komardin seperti dikutip Ria Novosti. Dia menambahkan, Malaysia ingin membuat kapal ini di galangan lokal. Komardin juga menilai pembuatan kapal di Malaysia juga cukup bagus.

Sementara itu, Indonesia hampir dipastikan membeli tank ringan, BPM-3F, dari Rusia. Saat ini, proses negosiasi pembelian ini tengah berjalan. "Ini masih preaudit, lalu teken kontrak, baru diketahui berapa unityangkita beli," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin kepada VIVAnews. "Preaudit kira-kira dua minggu lagi selesai."

Namun, Hartind mengaku belum tahu berapa unit BMP-3F yang akan dibeli Indonesia. Ria Novosti melaporkan, Indonesia akan membeli 37 unit BMP-3F dengan harga sekitar US$100 juta.



Sumber : VivaNews

TNI-AL Uji Coba Helikopter NBell 412EP PTDI


Bandung, -. TNI-AL melaksanakan uji coba pesawat helikopter NBell 412EP buatan PT Dirgantara Indonesia dengan melakukan penerbangan Bandung - Jakarta, Selasa. Heli kedua pesanan TNI-AL dari PTDI itu diterbangkan langsung oleh Kepala Pusat Penerbang TNI-AL (Penerbal) Laksamana Pertama TNI Sugianto yang take off pukul 09.30 WIB.
 
TNI-AL memesan tiga unit NBell 420EP kepada PTDI. Satu unit sudah diserahkan, sedangkan satu diantaranya yang diujicobakan Selasa ini, satu lainnya akan diselesaikan akhir 2012.

Kepala Humas PTDI Rakhendi menyebutkan, pesawat kedua tersebut sudah rampung dan akan diuji coba oleh jajaran Penerbal dalam beberapa hari ke depan. "Uji coba ini merupakan tes pembelian, yang akan dilakukan oleh jajaran Penerbal yang didampingi pilot dari PTDI. Jenisnya heli angkut personil," kata Rakhendi.



Rencananya, TNI AL akan menambah pembelian dua pesawat sejenis kepada PTDI untuk memperkuat jajaran helikopeternya.

Selain itu, TNI AL juga memesan empat unit pesawat CN-235 MPA untuk patroli maritim. Sebelumnya TNI AL juga mengoperasikan N-219 untuk patroli maritim.

TNI AD juga melakukan pemesanan empat pesawat helikopeter NBell 412EP itu, dua unit diantaranya sudah diserahkan, sedangkan dua lainnya masih dalam finishing.

Helikopter NBell 412EP yang bermesin Twin Turbine Pratt & Whitney PT6T-3D 1800SHP merupakan helikopeter ukuran sedang yang bisa mengangkut dua pilot dan 13 penumpang. Heli tersebut digunakan sebagai pesawat pengangkut personil dan cocok untuk operasi militer maupun operasi non militer atau sipil. "Heli ini merupakan pesawat N-Bell terbaru yang dibuat PTDI, TNI AD dan TNI AL merupakan costumer pertamanya," kata Rakhendi menambahkan. 
 
 
 
Sumber : Analisa
 

Malaysia akan pesan 32 panser Rimau PT Pindad

Akan seperti inilah kendaraan tempur (armoured personnel carrier) Anoa buatan PT Pindas (Persero) yang akan dibeli Malaysia nanti. TNI memakai kendaraan tempur ini untuk berbagai satuannya, di antaranya Detasemen Kavaleri 5/Birgus Latro Cakti TNI-AD. Selain untuk misi tempur dan tempur perkotaan yang memakai senapan mesin kaliber 12,7 milimeter, kendaraan tempur ini juga sering dipakai untuk persiapan evakuasi VIP. (FOTO ANTARA/Izaac Mulyawan)

Kuala Lumpur - Malaysia akan memesan 32 buah panser Anoa dari PT Pindad. Oleh Malaysia, Anoa itu diberi nama Rimau yang berarti harimau dalam bahasa Melayu dan kesepakatan dengan pihak negara tetangga tersebut sudah pada tahap akhir.

"Malaysia mau gunakan panser 6 x 6 dan kini kami menantikan closing deal", kata Direktur Utama PT Pindad, Adik A Soedarsono,  di sela-sela pameran Defence Services Asia (DSA) 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin.

Menurut dia, saat ini pihaknya juga sedang melakukan penjajakan dengan sejumlah negara di Timur Tengah, Eropa termasuk dengan sesama anggota Asean seperti Brunei Darussalam.

Bahkan, lanjut dia, pada saat ini ada rencana Sultan Brunei yang hadir dalam pameran DSA 2012 itu akan mengunjungi panser Rimau yang juga dihadirkan dilokasi pameran tersebut.

Ketertarikan Malaysia terhadap panser buatan pindad tersebut sudah disampaikan oleh Panglima Angkatan Tentera Diraja Malaysia, Jenderal Tan Sri Datu Sri Zulkifli Mohammad Zein, saat berkunjung ke Indonesia tahun lalu.

Hal itu disampaikan Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, usai pertemuan Zein dengan Presiden Susilo Yudhoyono di kantor Presiden, Selasa (5/7). "Tadi disinggung soal panser 6x6, malaysia yang berkeinginan untuk membeli, akan terus dilanjutkan," ujar Suhartono.

Sementara itu, semenjak 9 April 2010, sebanyak 13 buah Anoa telah digunakan untuk mengawal misi perdamaian PBB di Lebanon bersama Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL. Panser ANOA 6x6 maupun 4x4 biasa digunakan untuk pengawalan kegiatan-kegiatan penting negara.

Pada 15 November 2011 ANOA varian 6x6 yang menggunakan persenjataan senapan mesin berat 7.62 mm digunakan sebagai kendaraan tempur untuk patroli dan penjagaan ring pada acara KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali.

Panser jenis ini juga dipakai oleh Paspampres untuk pengawalan kunjungan-kunjungan presiden. Selain kegiatan resmi, ANOA juga dipakai untuk pengamanan car-free day di Bundaran HI. 



Sumber : Antara

Tuesday, April 10, 2012

TNI AU Persiapkan Modernisasi Alutsista


Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat, mengatakan TNI AU mempersiapkan diri untuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Cara yang dilakukannya adalah dengan meningkatkan dedikasi dan profesionalisme prajurit.

"Kita akan tingkatkan persiapan personel dan satuan TNI AU untuk menyongsong modernisasi alutsista," kata Imam dalam sambutannya pada peringatan HUT Ke-66 TNI AU di Halim Perdanakusuma Jakarta di Jakarta, Senin (9/4). Selain sebagai penjaga dan pelaksana alutsista, katanya, TNI AU harus memelihara dan mengoperasikan alutsista secara optimal karena operasi penerbang tidak lepas dari risiko.

"Risiko itu jika gagal dikelola akan menimbulkan potensi terjadinya insiden atau 'accident' yang secara langsung akan menurunkan kesiapan operasi tempur yang saat ini sangat terbatas. Kita sadari bahwa untuk mencapai "zero accident" bukan pekerjaan yang mudah, perlu ada upaya yang sungguh-sungguh, terpadu, bersinergi terus menerus dan berkelanjutan," katanya.

Selain itu, katanya, hal yang perlu diperbaiki menyangkut budaya safety yang berdasarkan kepada kejujuran, keterbukaan, dan profesionalitas para perwira TNI. Ia meminta para prajurit mengembangkan dan meningkatkan budaya disiplin dalam berbagai lingkup kegiatan, khususnya berkaitan dengan operasional penerbangan sehingga terwujud keselamatan untuk semua.

Selain itu, katanya, prajurit TNI harus meningkatkan soliditas sesama angkatan udara, TNI, dan polri untuk menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI. Ia mengatakan, prajurit TNI AU harus meningkatkan disiplin, dedikasi, loyalitas, dan motivasi sebagai insan dirgantara yang mengabdi kepada bangsa dan negara.



Sumber : Republika

Thursday, April 5, 2012

Indonesia Tambah Tiga Kapal Selam pada 2015

                                              ANTARA/Asep Fathulrahman/w

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia akan menambah tiga kapal selam dari dua yang sudah ada saat ini dalam upaya pengamanan wilayah laut Indonesia.

"Sekarang kapal selam baru ada dua, kita akan tambah lagi tiga yang sekarang masih dipesan di Korea. Harapannya 2015 sudah bisa beroperasi," kata Purnomo Yusgiantoro usai menerima Brevet Hiu Kencana di Kapal Selam KRI Nanggala-402 di Perairan Selat Sunda di Cilegon, Banten, Rabu.

Ia mengatakan, tambahan armada tersebut untuk memperkuat pengamanan wilayah maritim Indonesia termasuk memperkuat kapal-kapal Angkatan Laut yang di permukaan.

Sementara itu Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengharapkan setelah 2014 masuk satu kapal, selanjutnya satu lagi diharapkan bisa dioperasikan pada awal 2015 dan tahun selanjutnya satu kapal dikerjasamakan dengan Korea.

Sebelumnya, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menyematkan brevet kehormatan Hiu Kencana kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo.

Penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana tersebut, dilaksanakan dalam upacara militer di dalam kapal selam KRI Nenggala-402 pada kedalaman 45 meter di bawah permukaan laut perairan Selat Sunda, Banten.

"Penyematan brevet kehormatan Hiu Kencana dimaksudkan sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada Menhan, Kapolri dan Kasad yang selama ini telah mendukung pembangunan dan pengembangan kekuatan TNI Angkatan Laut," kata Laksamana Soeparno dalam siaran persnya.

Acara tersebut dihadiri juga Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Soeparno, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, Wakil Gubernur Banten Rano Karno, dan sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan dan TNI.




Enam Pesawat Super Tucano Dipastikan Tiba Agustus


Enam pesawat EMB-314 Super Tucano buatan Brasil akan tiba pada Agustus 2012 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurahman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kepastian itu dikatakan Panglima Komando Operasi  TNI-AU II (Pangkoopsau II) Marsekal Muda Ismono Widjajanto, di Malang usai upacara serah terima jabatan (Sertijab) Komandan Lanud (Danlanud) Abduracham Saleh, Selasa (3/4).

"Pengiriman pesawat buatan Brasil ini akan dilakukan secara bertahap, dan dari total 18 pesawat taktis yang dipesan, enam pesawat dipastikan tiba bulan Agustus 2012," katanya.

Sedangkan untuk penerbang yang akan mengawaki pesawat itu, akan diambilkan dari penerbang lama pesawat tempur taktis lama OV-10F Bronco yang ada di berbagai skadron udara.

"Kedatangan pesawat tempur Super Tocano ini akan menggantikan pesawat tempur taktis OV-10 F Bronco buatan North American Rockwell Amerika Serikat yang sudah dinyatakan grounded, dan tiba kali pertama ke Indonesia ketika itu tahun 1976," katanya.

Rencananya, pesawat Super Tucano akan digunakan untuk misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat sebab pesawat tersebut memiliki keunggulan "close air support".

Pesawat Super Tucano memiliki mesin tunggal buatan Empresa Braziliera de Aeronautica, dan memiliki kemampuan menembakkan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.

Selain itu, pesawat itu tidak hanya sebagai pesawat latih, namun juga memiliki kemampuan untuk misi penghancuran.



Menhan jadi warga kehormatan Satuan Kapal Selam

Brevet Selam Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) disaksikan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono (kiri) memegang monitor periskop di ruang kontrol Kapal Selam KRI Nenggala 402 saat berlayar di kedalaman 45 meter di Selat Sunda, Banten, Rabu (4/4). Kapal yang baru mengalami moderenisasi tersebut kembali dioperasikan dengan kemampuan membawa senjata strategis seperti torpedo, ranjau laut, serta rudal laut ke darat. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menjadi warga kehormatan Satuan Kapal Selam TNI Angkatan Laut.

Penyematan brevet Hiu Kencana kepada ketiganya dilakukan di dalam kapal selam Nanggala-402 yang menyelam pada kedalaman 45 meter di bawah permukaan laut perairan Selat Sunda, Provinsi Banten, Rabu, melalui upacara yang dipimpin oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

Namun, kata Kadispenum Puspen TNI Kolonel Cpl Minulyo Suprapto, penyematan brevet dilakukan oleh Komandan Satuan Selam TNI AL Kolonel Laut Jefri Stanley Sangel.


Hingga saat ini, warga kehormatan kapal selam telah mencapai 116 orang. Panglima TNI dan KSAU menerima Brevet Hiu Kencana dan menjadi warga kehormatan TNI AL sejak 2010.

Panglima TNI dalam amanatnya mengatakan, pada hakekatnya Brevet Kehormatan Hiu Kencana merupakan wujud penghargaan, penghormatan, dan kepercayaan yang diberikan khusus oleh keluarga besar awak kapal selam jajaran TNI Angkatan Laut.

Ia pun mengapresiasi penyematan brevet Hiu Kencana kepada Menhan, Kapolri, dan Kasad.

"Brevet Hiu Kencana sebagai suatu kualifikasi khusus yang merupakan kebanggaan bagi prajurit awak kapal selam jajaran TNI AL. Tentunya, kekhususan tersebut harus dapat dimaknai sebagai wujud tanggung jawab kehormatan, dan kepercayaan yang diberikan oleh negara secara utuh," kata Agus.


Panglima TNI menambahkan, menjadi prajurit satuan kapal selam tidak hanya memiliki kebanggaan dengan Brevet Hiu Kencana, tetapi juga bangga dengan segala pengorbanan dan dedikasi dalam mendarmabaktikan dirinya demi tugas mulia sebagai penegak kedaulatan negara.


Ia pun berpesan agar kebanggaan itu senantiasa ada dan terus digelorakan dalam diri setiap prajurit Hiu Kencana dalam menunaikan tugas.


Acara itu dihadiri KSAL Laksamana TNI Soeparno, KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat, Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Hotma Marbun, Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Among Margono, Aspers Panglima TNI Marsda TNI Bambang Wahyudi, Askomlek Panglima TNI Laksda TNI Slamet Yulistiyono, Aster Panglima TNI Mayjen TNI Widjonarko.

Kemudian, Danseskoal Laksda TNI Arief Rudianto, Pangarmabar Laksda TNI Didik Hendriawan, Pangarmatim Laksda TNI Agung Pramono, Kasdam III/Slw Brigjen TNI Sudirman dan Wakapuspen TNI Kolonel Czi Suratmo serta Wakil Gubernur Banten Rano Karno.


Sumber : Antara

Baca lainnya

TNI Musnahkan 16.581 Stok Ranjau Darat

                                                               Ilustrasi

Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah memusnahkan 16. 581 stok ranjau darat yang disimpan di gudang senjata TNI. "Kita diberi waktu 4 tahun menghancurkan ranjau darat di gudang. Jumlah keseluruhan mencapai 16. 581 buah. Indonesia tidak pernah menganggap ranjau darat sebagai alutsista utama," kata Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kementerian Luar Negeri, Febrian Ruddyard, dalam seminar tentang pelarangan ranjau di Fisipol UGM Yogyakarta, Rabu (4/3).

    Febrian mengakui, meski jumlah ranjau darat yang dimusnahkan termasuk dalam kategori kecil, namun tidak semua stok ranjau darat milik TNI dimusnahkan. Pasalnya, beberapa stok ranjau darat tersebut masih dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan militer. "Sekitar 2.454 ranjau darat dimanfaatkan untuk pelatihan. Jumlah itu masih diperbolehkan," katanya.

    Ia menyebutkan, sebanyak 45 juta ranjau darat telah dimusnahkan di 159 negara, sejak ditandatangani Konvensi Ottawa tentang perjanjian pelarangan ranjau. Indonesia disebutkan merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani perjanjian tersebut

    Singapura dan Mynamar merupakan dua anggota Asean yang belum menandatangani Konvensi Ottawa. Keduanya dianggap negara yang memproduksi dan pemakai ranjau darat. Di seluruh dunia ada 73 negara yang belum bergabung dalam konvensi tersebut. Negara besar yang belum bergabung tersebut di antaranya Rusia, China, India dan Korea Selatan. Kendati mereka mengetahui pemakaian ranjau darat telah banyak menimbulkan korban, terutama di kalangan masyarat sipil.

    "Masalah ranjau darat bukan sekadar senjata perang di perbatasan, tapi masyarakat sipil menjadi korban setelah perang. Biasanya peta ranjau ini hilang dan ranjaunya pun tidak pernah dimusnahkan," tuturnya.

    Sementara itu Lars Strenger dari Jesuit Refugee Service menyebutkan, sampai kini terhitung 73.576 orang yang telah menjadi korban ranjau darat, 70-80 persen di antaranya berasal masyarakat sipil."Kebanyakan korbannya adalah anak-anak," sebutnya.

    Sejak ditandatangi Konvensi Ottawa, korban akibat ranjau darat berkurang dari 20 ribu menjadi 4 ribu orang per tahun. "Jumlah ini masih sangat besar," katanya. Disebutkan pula ada 4.191 korban ranjau darat pada tahun 2011 atau sekitar 12 korban setiap harinya.

    Menurut Lars Strenger, ranjau darat wajib dimusnahkan agar tidak menimbulkan korban masyarakat sipil, yang rentan menghadapi dampak buruk dari perang.

    Ranjau darat merupakan bahan peledak yang akan meledak ketika ditekan pemicunya. Ranjau ini meledak saat terinjak kaki manusia maupun hewan. "Ranjau ini sangat berbahaya, tanpa memadang korbannya. Ranjau ini bisa berfungi 30-60 tahun walau sudah ditanam di tanah," jelasnya.



Sumber : Suara Karya