Clock By Blog Tips
Showing posts with label News - Eropa. Show all posts
Showing posts with label News - Eropa. Show all posts

Wednesday, August 1, 2012

Rusia rundingkan pembukaan pangkalan AL di Kuba dan Vietnam


"Rusia akan melakukan perundingan tentang pembukaan pangkalan angkatan laut di Kuba dan Vietnam serta Seychelles," kata Panglima Angkatan Laut Rusia, Laksamana Madya Viktor Chirkov, Jumat.
"Benar, kami sedang berusaha membangun angkatan laut Rusia di luar wilayah Rusia," kata Chirkov kepada kantor berita RIA Novosti.

"Dalam rangka ini kita akan membicarakan kemungkinkan membangun pusat-pusat pasokan materi dan teknik di wilayah Kuba, Seychelles dan Vietnam," kata Chirkov menjelang satu pertemuan antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Pesiden Vietnam, Truong Tan Sang, Jumat malam.

Angkatan Laut Sovyet memiliki pangkalan-pangkalan di negara asing di Cam Rahn, di Vietnam Selatan dan Tartus, Suriah.

Putin pada 2001 memutuskan akan menutup pangkalan di Vietnam, yang Moskow sewa sejak masa Uni Sovyet,sebagai satu hasil dari perjanjian pada 1979 antara Vietnam dan Uni Sovyet. Rusia meninggalkan pangkalan itu pada 2002. 

Pangkalan Tartus di Suriah, yang dibangun pada 1971 sebagai pusat pasokan bagi armada Rusia di Mediterenia, merupakan satu-satunya pengkalan militer Moskow di luar Uni Sovyet.

Kendatipun para pengamat menganggap pangkalan Tartus sebagai aset strategis penting bagi Moskow di Mediterenia, prasarananya sederhana dengan hanya puluhan staf berpangkaan di sana pada satu saat dan kapal-kapal angkatan laut hanya datang untuk kunjungan singkat.

Pada awal masa jabatan kepresidenannya, Putin juga menutup satu pos pengawas di Kuba, satu sekutu era-Sovyet, dan apa yang dianggap saat itu sebagai satu langkah penting menuju pada perbaikan hubungan pasca-Perang Dingin dengan Washington.

Tetapi hubungan antara Rusia dan Barat berada dalam satu periode ketegangan pada awal masa jabatan ketiga Putin, Moskow dianggap akan menghidupkan kembali aliansi-aliansi era-Sovyet.

Kantor berita RIA Novosti mengatakan diperlukan membuka pangkalan-pangkalan angkatan laut yang baru di luar negeri pertama diungkapkan tahun 2008 ketika armada Rusia ikut dalam operasi-operasi anti-pembajak di Teluk Aden.

Pada saat itu Angkatan Laut Rusia memikirkan tentang kemungkinan pembukaan satu pangkalan di Djibouti Afrika, kata kantor berita itu.


Thursday, July 26, 2012

AS Tempatkan Pasukan di Polandia



Pentagon, Rabu, mengatakan pihaknya berencana untuk mengirimkan detasemen angkatan udara Amerika Serikat ke Polandia guna mendukung jet-jet tempur dan transportasi pesawat. Kehadiran detasemen udara AS, menandai untuk pertama kali tentara Amerika telah ditempatkan di negara ini.

Pengumuman itu dibuat pada akhir pembicaraan antara Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dan timpalannya Menteri Pertahanan Polandia Tomasz Siemoniak di Washington.

Detasemen itu "akan tiba pada musim gugur ini untuk mendukung penyebaran triwulanan F-16 dan C-130 mulai tahun 2013 dan akan menjadi pasukan AS pertama yang ditempatkan di wilayah Polandia," kata juru bicara Pentagon George Little dalam satu pernyataan.

"Kedatangan detasemen ini akan menandai langkah baru ke depan dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Polandia dan memungkinkan kerja sama miiter lebih dekat."

Jet-jet tempur AS F-16 dan pesawat transportasi Hercules akan digunakan di Polandia secara bergiliran pada tahun depan, kata pernyataan itu.

Para menteri juga membahas kontribusi Polandia kepada pasukan internasional di Afghanistan, di mana hampir 2.500 tentara Polandia ditempatkan di timur Provinsi Ghazni, dan Warsawa partisipasi dalam pertahanan rudal NATO.

Polandia dan Rumania masing-masing diharapkan menjadi tuan rumah satu pencegat rudal balistik pada tahun 2018. Sedangkan Turki menjadi tuan rumah sistem radar peringatan dini.


Sumber : Republika

Wednesday, July 18, 2012

Unjuk Kekuatan Militer Meriahkan Quatorze Julliet


Sejumlah warga antusias menaiki tank tempur andalan Angkatan Darat Prancis yang dipamerkan dalam parade militer 14 Juli lalu.

Hampir sebulan sudah cuaca di Paris mengalami anomali. Dalam bahasa Jawa situasi dem i kian biasa diistilahkan salah mong so. Juli yang menjadi ba gi - an musim panas dan se ha rus nya bermandikan sinar men tari mendadak lebih sering di be kap mendung dan hujan, ter ka dang diselingi angin ken cang. Berhari-hari kondisi ini stagnan, tidak ada pergantian suasana.

“Banyak pengusaha di wilayah pantai yang me nangis,” ujar seorang teman. “Mereka seharusnya sudah ‘panen raya’ karena berkah sinar men - tari, tapi mesti mengerutkan kening akibat hujan dan men - dung,” tambahnya. Namun apa yang terjadi pada 14 Juli yang lalu terbilang benar-benar mengherankan. Jika pada hari-hari se be lum - nya awan kerap hitam, pada hari itu terang-benderang. Alam seolah memberikan ke in - dahan terbaiknya, tepat pada Hari Kemerdekaan Prancis. Pada perayaan “tujuh be las - an” Negara Anggur tersebut, hari benar-benar cerah.

Sempat di pengujung acara gerimis kecil terselip, tetapi secara ke - se luruhan cuaca sangat bersahabat. Quatorze Julliet (baca: kators Julie) demikian ungkapan po pu - ler warga Prancis dalam menyambut hari kemerdekaan mereka, sepadan dengan perayaan 17 Agustus di Indonesia. Jika di Tanah Air HUT ke mer - dekaan dimaknai sebagai hari kemenangan dari belenggu penjajahpada1945, maka14Juli di Prancis adalah ke mer de kaan hasil perjuangan me le lah kan yang dirintis sejak 1789 (awal meletusnya Revolusi Prancis). Kemerdekaan itu adalah pesta kemenangan revolusi rak yat atas kesewenang-wenang an (tirani) kaum aris tokrat (kerajaan).

Perayaan ini senantiasa disambut gegap gempita bukan hanya oleh warga asli Paris, tetapi juga para wisatawan mancanegara yang tak henti mengaliri negeri romantis ini. Satu di antara beragam aca ra yang paling kesohor dalam pe ra - yaan tersebut adalah pa ra de militer. Tahun ini, parade mi liter di bawah tanggung jawab Kepala Angkatan Bersenjata Prancis Admiral Edouard Gui - llaud dan dikomandoi lang sung Jendral Bruno Dary.

Serupa dengan tahun-tahun se be lumnya, parade memamerkan kekuatan armada Angkatan Udara Prancis dengan me nampilkan jet Alpha, C 135, Mirage F1 CR, Mirage 2000 RDY, Mirage 2000 D, serta Mirage 2000 N. Parade militer kali ini juga diramaikan parade para siswa sekolah militer dan kepolisian seperti Ecole Speciale Mili ta ire de Saint-Cyr, Ecole Militaire interarmes, Ecole Militaire des officiers de la Marine na tio nale, Ecole Militaire des offi ciers de la gendarmerie nationale. Sementara Angkatan Darat Prancis yang populer disebut Armee de Terre seperti tidak mau ketinggalan. Mereka pun turut unjuk gigi dengan me nampilkan kekuatannya.

Pada kesempatan kali ini mereka menampilkan resimen in fan - teri, artileri, resimen terjun, transmisi, pasukan pemburu khusus (chasseurs alpins), dan pasukan elite Prancis yang kesohor di seluruh dunia, yaitu Legion Etrangere. Parade m i - liter ini tentu saja melibatkan pula Angkatan Laut Prancis (Marine Nationale), bahkan satuan motor kepolisian Pran - cis (Escadron Motorcycliste de la Police Nationale). 



Sumber : Sindo

Wednesday, July 11, 2012

Sumber Militer: Rusia Kirim Enam Kapal Perang ke Suriah

Kapal Perang Rusia Admiral Chabanenko

Rusia mengirim satu armada angkatan laut terdiri atas enam kapal perang dipimpin kapal perusak anti-kapal selam ke pangkalan angkatan lautnya di pelabuhan Tartus, Suriah, kata kantor berita Interfax pada Selasa.

Kapal Laksamana Chabanenko dan tiga kapal pendarat meninggalkan pelabuhan mereka di Severomorsk di Arctic Circle menuju laut Tengah, tempat mereka akan bergabung dengan kapal patroli Rusia Yaroslav Mudry serta satu kapal pendukung, kata sumber militer kepada kantor berita itu.

"Program pelayaran itu termasuk satu persinggahan di pelabuhan Tartus Suriah," kata sumber yang tidak disebut namanya kepada kantor berita itu.

Sumber itu mengatakan kunjungan itu dilakukan sejalan dengan rencana-rencana kesiapan militer armada Rusia. Menurut Interfax, sumber itu menegaskan penggelaran tersebut "tidak ada hubungannya dengan situasi yang meningkat di Suriah."

"Di Tartus kapal-kapal itu akan mengisi pasokan bahan bakar,air dan bahan makanan," kata sumber itu dan menambahkan penggelaran kapal-kapal di Mediterania akan berlangsung sampai akhir September.

Rusia dikecam keras Barat karena tidak memutuskan hubungan militer dengan Suriah kendatipun konflik antara pemerintah itu dan pemberontak menewaskan ribuan orang, demikian AFP.



Sumber: Republika

Tuesday, June 26, 2012

Inikah Pintu Aksi Militer Itu?

Penjaga pantai Turki, Minggu (24/6), mencari reruntuhan pesawat tempur F-4 Turki yang ditembak jatuh oleh Suriah di lepas pantai Samandagi, Provinsi Hatay, sisi timur Laut Tengah. Turki mendesak NATO menggelar pertemuan untuk membahas penembakan tersebut dengan alasan mengancam keamanan mereka.

Turki memutuskan membawa kasus penembakan pesawat militer F-4 Phantom miliknya oleh Suriah ke forum Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Langkah itu diambil berdasarkan hak Turki sesuai Pasal 4 Traktat Atlantik Utara yang ditandatangani di Washington DC, AS, 4 April 1949.

Dalam pasal itu disebutkan, semua anggota NATO akan membahas bersama respons yang akan diambil apabila ada salah satu anggota yang merasa integritas teritorial, kemerdekaan politik, atau keamanannya terancam. Turki adalah salah satu anggota kunci NATO sejak 18 Februari 1952.

NATO akan menggelar pertemuan darurat di markas besarnya di Brussels, Belgia, Selasa (26/6) ini, untuk menentukan respons yang tepat terhadap insiden tersebut. Pertemuan ini membuka kemungkinan adanya intervensi militer NATO terhadap Suriah untuk menghentikan gelombang kekerasan yang telah menewaskan lebih dari 15.000 orang sejak demonstrasi anti-pemerintah pecah, Maret 2011.

Secara terbuka, beberapa menteri luar negeri (menlu) negara anggota NATO telah menolak intervensi militer sebagai reaksi yang tepat terhadap insiden penembakan itu. ”Intervensi militer di Suriah tak akan dibahas. Ini bukan masalah pertimbangan Pemerintah Belanda, tetapi itu juga menjadi sikap dalam konteks NATO,” tutur Menlu Belanda Uri Rosenthal.

Namun, bukan berarti peluang untuk itu sama sekali tertutup. Pasal 5 Traktat Atlantik Utara membuka kemungkinan respons militer bersama jika salah satu anggota diserang musuh. Pasal tersebut menyatakan, serangan bersenjata terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh NATO dan reaksi militer bersama dimungkinkan jika dipandang perlu.

Respons militer

Dalam pasal selanjutnya dijabarkan, yang bisa dikategorikan sebagai serangan adalah serangan langsung terhadap wilayah negara anggota atau salah satu kekuatan militernya, seperti kapal perang dan pesawat tempur, selama serangan itu terjadi di wilayah negara anggota atau wilayah internasional di Laut Tengah dan Samudra Atlantik Utara.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi TRT Turki, Menlu Turki Ahmet Davutoglu menegaskan, pesawat Phantom Turki ditembak di wilayah udara internasional yang berjarak 24 km dari garis pantai Suriah. Pesawat itu juga tak bersenjata karena merupakan pesawat pengintai (tipe RF-4E Phantom II, varian pengintai dari F-4) dan ditembak tanpa peringatan lebih dulu.

Huseyin Bagci, profesor hubungan internasional dari Middle East Technical University di Ankara, mengatakan, sekarang pertanyaannya tinggal apakah penembakan pesawat itu akan dikategorikan sebagai serangan terhadap Turki. ”Jika itu diinterpretasikan sebagai serangan terhadap Turki, debat mengenai penggunaan Pasal 5 akan mengemuka,” ungkapnya kepada kantor berita Agence France-Presse.

Jika Pasal 5 ini diterapkan, serangan militer sepihak terhadap Suriah bisa dilakukan dengan dalih aksi membela diri. Dalam konteks NATO, respons militer itu bisa dilakukan tanpa mandat dari Dewan Keamanan PBB. Pasal 5 hanya mengatur, setiap serangan militer seperti itu harus dilaporkan ke Dewan Keamanan (DK) PBB.

Selama ini, beberapa pihak menduga NATO akan melakukan intervensi militer ala Libya untuk menurunkan paksa Presiden Suriah Bashar al-Assad. Beberapa negara Arab bahkan mendorong intervensi militer ini segera dilakukan.

Namun, langkah ke arah aksi yang lebih tegas terhadap Suriah telah dihalang-halangi Rusia dan China. Dua negara itu telah dua kali memveto rancangan resolusi DK PBB yang memuat ancaman sanksi terhadap rezim Assad. 


Sumber : Kompas
 

Tuesday, June 19, 2012

Rusia siapkan kapal perang ke Suriah


Rusia bersiap mengirim kapal perangnya ke Suriah kalau-kalau diperlukan untuk melindungi personel dan memindahkan peralatan dari instalasi Angkatan Lautnya di Pelabuhan Tartus di Laut Tengah.

Suriah adalah pijakan paling kuat bagi Moskow di Timur Tengah, membeli senjata dari Rusia dengan nilai miliaran dolar AS, dan menjadi satu-satunya tempat pelabuhan permanen air hangat Rusia di luar bekas Uni Sovyet.

Laporan tersebut mengutip keterangan perwira yang tak disebutkan jatidirinya di jajaran komando Angkatan Laut Rusia. Angkatan Laut dan Kementerian Pertahanan Rusia tak bersedia memberi komentar.

Presiden Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dijadwalkan bertemu Senin malam untuk pembicaraan di sisi pertemuan tingkat tinggi G20 di Meksiko, demikian laporan Reuters, Senin malam.

Rusia telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan guna mencegah upaya Barat untuk mengutuk Presiden Bashar dan memastikan penyingkirannya. Moskow berpendapat desakan terhadap pemerintah untuk menggunakan tekanan luar negeri tak bisa diterima.

Hanya dialog antara pemerintah dan oposisi dapat menyelesaikan krisis tersebut, kata Moskow.


Sumber : Antara

AU Rusia akan terima 10 jet MiG 31


Distrik Militer Pusat Angkatan Udara Rusia akan menerima sepuluh pertama jet tempur pencegat jenis MiG-31BM pada 2012, kata layanan media Distrik Militer pada Senin.

"Distrik Militer Pusat AU akan menerima pengiriman sepuluh jet tempur pencegat MiG-31BM dan dua helikopter angkut berat Mi-26 pada 2012," kata perwakilan Distrik Militer Pusat, lapor RIA Novosti.

AU Rusia sebelumnya mengatakan pihaknya berniat menerima pengiriman yang mencapai 60 unit MiG-31BM hingga 2020 melalui kontrak yang telah ditandatangani bersama United Aircraft Corporation pada 2011 lalu.

Jet MiG-31BM merupakan jenis MiG-31 yang dimodifikasi total dan dilengkapi dengan jaringan data digital serta perlengkapan pemandu terbang (avionic) yang dipercanggih.

Selain itu, jet tersebut juga telah diperkuat dengan radar mode ganda yang baru, layar kokpit berfungsi ganda yang berwarna dan sistem kendali penembakan yang lebih kuat.

Pesawat dapat mengetahui target yang mengudara pada jarak sekitar 320 kilometer dan mampu melacak sepuluh target sekaligus.

Untuk persenjataan, menurut ahli pertempuran udara dari Institut Internasional bidang Penelitian Strategis yang bertempat di London, Douglas Barrie, MiG-31BM bisa mengusung rudal udara ke udara yang baru, termasuk rudal udara ke udara jarak jauh K-37M yang telah dikembangkan secara khusus untuk pesawat tersebut.

MiG-31BM adalah pesawat yang mampu terbang dengan kecepatan supersonik dan dikendalikan oleh dua awak.

Menurut data dari RIA Novosti, pesawat sanggup terbang dengan kecepatan hingga menembus "mach" 2,83 atau sekitar 3.000 kilometer per jam dan mampu mencapai maksimal ketinggian 20.600 meter di atas permukaan laut.

Dengan bobot seberat 46,2 ton, MiG-31 mampu terbang sejauh 3.000 kilometer yang didukung oleh dua mesin D-30F6 turbofans dengan afterburner. (B019/M014)


Sumber : Antara

Tuesday, May 22, 2012

NATO Sepakat Pasukan Prancis ditarik Lebih Awal dari Afghanistan


Prancis dan NATO sepakat terkait penarikan pasukan Prancis lebih awal dari Afghanistan. Demikian dikatakan Presiden Prancis Francois Hollande, Minggu.
"Pasukan perang Prancis akan ditarik dari Afghanistan pada akhir tahun ini. Pada 2013 mereka hanya akan melatih pasukan kepolisian dan tentara Afghanistan. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari operasi ISAF dan dengan prinsip ini kami berhasil mendapatkan kesepakatan," kata Hollande kepada Reporter.

Lebih lanjut pemimpin baru Prancis itu mengatakan, kedua lembaga itu menjamin posisi Prancis dihormati dan dilaksanakan sepenuhnya.

"Saya menujukan hal ini dengan cara memperlihatkan terdapat tindakan yang tetap masuk dalam kerangka kerja ISAF."

Hollande, pada tur luar negeri pertamanya sejak disahkan sebagai presiden baru pada Selasa, mengatakan kalau dia berbicara dengan "terbuka" kepada Presiden Barrack Obama.

"Dan saya memberitahukan kepada semua orang yang berbicara dengan saya, hal ini tidak bisa dinegosiasikan karena menyangkut kedaulatan Prancis dan semuanya mengerti."

Hollande juga menyoroti pemberitahuan Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen dalam pembicaraan mereka pada Minggu, keputusan Prancis "tidak merubah operasi NATO tersebut." (TGR/ANT/AFP)


Sumber :ANTARA



Baca lainnya 

Monday, May 21, 2012

Inggris Pertahankan 200 Pasukan Khusus di Afghanistan


Walau diagendakan akan menarik seluruh pasukannya yang berada di Afghanistan hingga Desember 2014, Inggris akan mempertahankan sejumlah pasukannya di Afghanistan.

Menurut seorang pejabat senior Pemerintah Inggris, pihaknya akan tetap mempertahankan keberadaan 200 anggota pasukan khusus di Afghanistan, untuk memerangi terorisme.

Namun tugas mereka bukanlah terjun dalam medan pertempuran, namun akan memberikan pelatihan di Akademi Latihan Nasional Petugas Keamanan Afghanistan.

"Mayoritas pasukan yang tetap tinggal di Afghanistan nanti akan berperan memberikan pelatihan, menjadi mentor untuk sejumlah institusi seperti di Akademi Latihan Nasional Petugas Keamanan Afghanistan," ujar pejabat tersebut tanpa mau disebutkan namanya, seperti dikutip dari BBC, Minggu (20/5/2012).

"Namun saya tidak akan mengesampingkan bahwa ada peran sejumlah kecil pasukan yang akan ikut terlibat perang terhadap terorisme jika dibutuhkan. Ini akan membuat kita tetap bisa melindungi ancaman terorisme yang berasal dari bagian negara lain seperti di Semenanjung Arab," lanjutnya.

Pada bulan lalu, Menteri Pertahanan Inggris, Philip Hammond mengatakan negaranya akan tetap memberikan bantuan pendanaan bagi pasukan keamanan Afghanistan, meskipun operasi mereka di negara itu telah berhenti.
Inggris, menurutnya, akan menyumbang 70 juta Poundsterling pertahun dari dana bantuan internasional yang diperkirakan mencapai 4 miliar Poundsterling yang digunakan untuk memerangi terorisme di Afghanistan.



Sumber : TribunNews

Monday, May 14, 2012

Perisai Rudal NATO dan Ancaman Petinggi Militer Rusia


Isu penempatan perisai rudal Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di sejumlah negara Eropa anggota organisasi ini rupanya masih menjadi polemik antara Rusia dan Barat, khususnya dalam beberapa pekan terakhir. Perang verbal antara petinggi kedua pihak pun tak terelakkan.
Terkait hal ini, sekitar satu pekan ancaman serangan militer terhadap sistem anti rudal AS dan NATO di Eropa oleh Jend. Nikolai Makarov, kepala Staf Gabungan Militer Rusia, kini giliran Menteri Pertahanan Rusia, Anatoly Serdyukov kembali mengulang ancaman tersebut.

Anatoly Serdyukov pada hari Jum'at (11/5) dengan transparan menyatakan bahwa Rusia mungkin akan menggunakan rudal berhulu ledak nuklir, Iskander untuk menghancurkan perisai rudal AS. Ia menjelaskan rudal Iskander mampu menghancurkan target persenjataan yang mungkin akan menghambat peluncuran rudal Rusia. Menurutnya, senjata yang dimiliki Rusia sepenuhnya mampu menarget sistem anti rudal Barat.

Menteri Pertahanan Rusia, Anatoly Serdyukov mengingatkan, di konferensi internasional perisai rudal Eropa yang digelar di Moskow baru-baru ini kami telah mengingatkan bahwa penempatan sistem anti rudal di Eropa sangat mengkhawatirkan kami. Oleh karena itu, kami tengah menunggu usulan baru AS terkait masalah ini.

Ia menambahkan, pernyataan AS yang siap memberikan jaminan hukum terkait sistem anti rudalnya di benua Eropa bukan hal baru dan jika mereka siap memberikan jaminan seperti ini pandangan kami terkait hal ini akan berbeda.

Di sisi lain, Sekjen NATO, Andress Fogh Rasmussen langsung mengkritik pedas ancaman petinggi Rusia terkait kemungkinan serangan militer untuk menghancurkan sistem anti rudal di Eropa. "Pernyataan seperti ini tak berdasar dan sepenuhnya tak tepat," ungkap Rasmussen.

Dengan demikian, sepertinya ketika KTT NATO di Chicago tinggal satu pekan lagi, sekjen organisasi ini tak segan-segan merilis reaksi pedas terhadap statemen petinggi Rusia. Menurut Rasmussen, statemen ini bertentangan dengan kesepakatan Moskow dan NATO di akhir tahun 2010 terkait peningkatan kerjasama kedua pihak.

Terkait hal ini Rasmussen mengatakan, ancaman petinggi Moskow terkait hubungan NATO atau negara-negara anggota organisasi ini serta kemungkinan serangan terhadap NATO bertentangan dengan garis yang ditetapkan oleh Dewan Bersama Rusia-NATO.

Sementara itu, Jend. Makarov menandaskan, meski adanya kekhawatiran sangat dari Rusia, namun tidak melakukan perubahan apapun di program penempatan sistem anti rudalnya setelah sidang pemimpin NATO pada November 2010. Ia menambahkan, kekhawatiran Rusia hingga kini tidak mendapat perhatian sama sekali dari Washington.

AS dan sekutunya dari Eropa di NATO menyatakan penempatan sistem anti rudal ini sebagai program perlindungan terhadap seluruh anggota organisasi ini dari serangan rudal balistik. Adapun Rusia memiliki pandangan berbeda dengan klaim Barat ini dan menilainya sikap Barat tersebut ditujukan untuk memperlemah kekuatan strategis rudal Moskow.

Dengan demikian dalam masalah ini setiap langkah AS dan NATO selalu mendapat penentangan dari Rusia, termasuk upaya mereka menempatkan sistem radar di Turki serta kesepakatan penempatan perisai rudal antara AS dan Rumania. Belum lagi kesepakatan penempatan sistem anti rudal Barat di Polandia dan pesisir pantai Spanyol terus menuai protes keras dari Moskow.

Tak heran jika saat ini upaya keras AS dan NATO untuk secepatnya menempatkan sistem pertahanan anti rudal mereka di berbagai wilayah Eropa dalam pandangan petinggi militer dan politik Rusia sebagai ancaman terpenting bagi negara mereka. Oleh karena itu, Rusia langsung memberikan reaksi dengan meningkatkan kekuatan strategisnya. (IRIB Indonesia/MF)

Sumber :Iran Indonesian Radio


Baca Juga 

Wednesday, May 9, 2012

Rusia Baru Akan Miliki ICBM Generasi Baru Setelah 2022

Rudal balistik antarbenua (ICBM) berhululedak nuklir R-36M2 Voyevoda (SS-18 Satan) milik Rusia.

Moskwa - Rusia membutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) generasi baru, yang memanfaatkan bahan bakar cair. Rudal tipe baru ini dirancang khusus, untuk menaklukkan sistem perisai rudal yang sedang digelar AS di Eropa.

Pihak militer Rusia pertama kali menyebutkan kemungkinan pengembangan ICBM baru itu pada 2009, tetapi keputusan resmi program pengembangan rudal tersebut baru diambil akhir tahun lalu.

Rudal jenis baru seberat 100 ton ini dirancang untuk menggantikan rudal Voyevoda R-26M2, yang oleh NATO dijuluki "Setan" (SS-18 Satan), karena mampu membawa 10 hulu ledak nuklir independen yang masing-masing berdaya ledak 550-750 kiloton TNT.

"Secara statistik, (pengembangan rudal) ini butuh waktu 10 tahun. Jika sebuah negara sudah tidak melakukan itu selama 30 tahun, tentu saja berbagai kesulitan akan tak terhindarkan," ujar Andrei Goryaev, Deputi Direktur perusahaan pembuat rudal Rusia, yang ditugaskan mengembangkan rudal baru ini, NPO Mashinostroyeniya, Selasa (8/5/2012).

Desember 2011, Panglima Pasukan Rudal Strategis Rusia (SMF), Letnan Jenderal Sergei Karakayev, mengatakan, rudal-rudal ICBM Rusia saat ini, yang masih menggunakan bahan bakar padat, kemungkinan tak akan bisa menembus sistem perisai rudal AS yang sudah sangat canggih.

Oleh sebab itu dibutuhkan jenis rudal baru yang menggunakan bahan bakar cair, sehingga akan memiliki kemampuan manuver yang lebih baik.

Saat ini, SMF dilaporkan menggelar lebih dari 400 pucuk ICBM, termasuk 171 rudal Topol (SS-25), 70 rudal Topol-M (SS-27), dan tiga rudal RS-24 Yars.


Sumber : Kompas


Baca Juga

Monday, May 7, 2012

Israel Sadap Komunikasi Pilot Tempur Turki

             Foto: Pilot pesawat tempur F-16 Turki

Israel dituduh memata-matai komunikasi pilot pesawat tempur Turki. Akibatnya, Ankara dilaporkan telah memulai sebuah program rahasia untuk mengenkripsi komunikasi antara peserta pelatihan pilot tempurnya dengan pusat komando di darat.

Sebelumnya terungkap, percakapan antara pilot tempur dan komando Turki di darat dimata-matai, bahkan dihentikan intelijen Israel. Tuduhan itu disiarkan awal pekan ini oleh surat kabar Habertürk Turki.

Surat kabar yang berbasis di Ankara mengklaim bahwa Israel telah secara khusus menarjetkan Pangkalan Utama Jet Komando Grup 3 di Konya, Anatolia, Turki, sebagai sasaran utama penyadapanya. Konya adalah salah satu basis angkatan laut paling aktif di negara itu, di mana ratusan pilot menjalani pelatihan awal jet tempur F-16 jet tempur.

Setelah menyelesaikan pelatihan, para pilot itu diminta menjalani pelatihan tempur secara, sebelum kemudian masuk jajaran Angkatan Udara Turki (AUT) sebagai pilot pesawat tempur penuh.

Habertürk menyebutkan pula, tujuan Israel memata-matai informasi itu adalah untuk mengungkap rincian program pelatihan AUT dan strategi pertempurannya. Adanya intersepsi Israel ini, telah membuat insinyur berfikir keras guna merancang perangkat lunak khusus, untuk menyandikan komunikasi para pilot itu.

Pengamat Timur Tengah menyatakan bahwa sebelumnya, militer dan intelijen kedua negara memiliki hubungan dekat. Bukan itu saja, hubungan kedekatan itu juga diikat dengan banyak perjanjian kerjasama bilateral yang sangat baik.

Tapi semua ini berakhir tiba-tiba pada musim panas 2010, ketika pasukan komando Israel menyerang MV Mavi Marmara, sebuah kapal Turki yang membawa aktivis internasional dan mengangkut bantuan internasional ke Jalur Gaza.

Serangan yang terjadi di perairan internasional itu, telah menewaskan sembilan warga sipil, delapan di antaranya adalah warga Turki. Sengketa diplomatik berikutnya, yang mengakibatkan penghentian hubungan ekonomis, politik, dan militer antara Ankara dengan Tel Aviv hingga hari ini, yakni karena Israel selalu menolak keinginan Turki untuk secara resmi meminta maaf atas insiden berdarah tersebut.



Sumber : Intelijen

Friday, May 4, 2012

Rusia Kembali Ancam Rudal NATO

Rusia akan memperkuat hulu ledak rudal balistiknya (REUTERS/KCNA)

Rusia kembali bersitegang dengan Amerika Serikat dan NATO. Pemicunya adalah rencana penempatan pertahanan rudal di negara-negara Eropa Tengah oleh AS dan NATO.

Sebenarnya, Rusia, AS, dan NATO telah menggelar pertemuan untuk membicarakan masalah ini sejak Kamis kemarin. Namun, Rusia mengklaim pertemuan itu hampir buntu. Sehingga, negara pewaris Uni Soviet itu memberikan peringatan keras kepada AS dan NATO.

"Keputusan untuk menggunakan kekuatan penghancur akan diambil jika situasi memburuk," ujar Kepala Staf Pertahanan Rusia, Jenderal Nikolai Makarov sebagaimana dikutip BBC.

Rusia menyebut rencana AS dan NATO itu mengancam keamanan negaranya. Makarov menambahkan, jika rudal pertahanan Eropa itu tetap dibangun, maka Rusia siap memperkuat hulu ledak pada rudal-rudal balistiknya.

Namun, AS dan NATO menyatakan rencana penempatan pertahanan rudal di Eropa Tengah ini untuk perlindungan dari kemungkinan serangan Iran dan Korea Utara. NATO juga tetap optimis pembicaraan yang digelar di Moskow itu akan memperoleh kesepakatan.

Bahkan, perwakilan NATO, Jenderal Alexander Vershbow, mengatakan kekhawatiran Rusia itu tidak berdasar. Menurutnya, sistem rudal pertahanan yang akan dibangun AS dan NATO itu tidak bisa menandingi kekuatan nuklir Rusia.

Rusia dan AS telah bersitegang soal rudal pertahanan sejak 2000--sejak ide ini pertama kali dimunculkan pada masa pemerintahan George W Bush. Pada 2008, Barack Obama yang menggantikan Bush membatalkan rencana perluasan pertahanan rudal di Polandia dan Republik Ceko.

Namun pada 2010, AS menandatangani perjanjian dengan Polandia untuk menggunakan pangkalan tua di Redzikow, wilayah dekat Pantai Baltik, sebagai basis pertahanan rudal. Rusia sendiri dimasukkan ke dalam komisi sistem radar di wilayah Baltik.




Sumber : VivaNews

Thursday, April 19, 2012

NATO Tak Anggap Rudal India sebagai Ancaman


NATO tidak memandang India sebagai ancaman keamanan dunia meski negara itu berniat menguji coba rudal balistik antarbenua yang berkemampuan membawa hulu ledak nuklir. 

Demikian ditegaskan Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen di Brussels, Belgia, Rabu (18/4/2012).

India saat ini sedang bersiap menguji rudal balistik Agni-5, yang merupakan rudal buatan asli India. Rudal tersebut memiliki jarak tembak hingga 5.000 kilometer, yang berarti mampu menjangkau sebagian besar wilayah Asia —termasuk bagian paling utara dari China, dan sebagian besar wilayah Eropa.

India berniat menembakkan rudal dengan roket tiga tingkat berbahan bakar padat itu dari Wheeler Island di Teluk Bengala untuk menembak sasaran di bagian selatan Samudera Hindia. Jika uji coba ini sukses, India akan bergabung dengan klub eksklusif negara-negara pemilik rudal balistik antarbenua (ICBM), yakni AS, Rusia, Inggris, Perancis, dan China.

Berbicara dalam jumpa pers di markas besar NATO di Brussels, Rasmussen mengatakan, pihaknya tak menganggap kemampuan rudal India itu akan menjadi ancaman bagi NATO dan wilayah negara-negara anggotanya.

Hal ini sangat berbeda dengan saat Korea Utara meluncurkan roket untuk mengorbitkan satelit sipil pekan lalu. AS dan sekutu-sekutunya mengecam rencana Korut itu dan menganggap peluncuran itu sebenarnya adalah uji coba rudal jarak jauh.


Sumber : Kompas


Monday, April 16, 2012

Rusia Akan Latihan Perang Bersama China


Vladivostok - Empat kapal perang dari Armada Pasifik Rusia, serta kapal-kapal pendukungnya, pesawat-pesawat tempur, helikopter dan infanteri angkatan laut, Minggu meninggalkan Vladivostok untuk latihan gabungan dengan angkatan laut China.

Kapal-kapal perang Rusia - dengan peluru kendali penjelajah Varyag dan tiga antikapal selam besar, Marsekal Shaposhnikov, Laksamana Panteleyev dan Admiral Vinogradov - diperkirakan tiba di China pada Minggu itu juga untuk latihan perang bersama yang dijadwalkan pada 22-27 April di Laut Kuning, lapor Xinhua.

Lebih dari 20 kapal perang Rusia dan China serta kapal-kapal pendukung akan terlibat dalam pelatihan perang gabungan.

Sejak tahun 2005, China dan Rusia telah melakukan beberapa latihan militer bersama dalam kerangka Organisasi Kerja sama Shanghai. 



Sumber : Antara

Wednesday, April 4, 2012

Rusia Kerahkan Varyag untuk Latihan dengan China


Vladivostok - Empat kapal perang Rusia, termasuk kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag, akan dikirim untuk mengikuti latihan perang laut dengan China, akhir bulan ini. Rusia juga akan mengirim pesawat tempur, helikopter, kapal suplai, dan pasukan infanteri angkatan lautnya.

Armada Pasifik Rusia, yang berpangkalan di Vladivostok, menyatakan, Selasa (3/4/2012), AL Rusia akan mengirimkan sedikitnya empat kapal perang utama, termasuk Varyag dan tiga kapal besar antikapal selam, dalam latihan yang akan berlangsung di Laut Kuning, 22-29 April mendatang.

Secara keseluruhan, lebih dari 20 kapal perang dan kapal suplai dari Rusia dan China akan mengikuti latihan tersebut. Latihan militer kedua negara sudah berlangsung sejak 2005 di bawah payung Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).


Sumber : Kompas

Rusia: Ancaman Militer Atas Iran tak Bisa Diterima

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov seraya menolak opsi militer untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran. Ia mengatakan, "Kami tidak bisa menerima ancaman-ancaman militer terhadap Republik Islam Iran."

IRNA melaporkan, Ryabkov, Selasa (3/4) menuturkan, Moskow tidak akan menerima ancaman-ancaman yang berhubungan dengan serangan militer ke Iran. Ditambahkannya, kelompok 5+1 dapat mencapai kesepakatan dengan Iran berdasarkan prinsip-prinsip yang diterima.

Juru runding senior nuklir Rusia ini menandaskan, ancaman politik dan sanksi tidak akan membuat Iran mundur. Meski demikian, Ryabkov menyerukan dimulainya kembali perundingan antara Iran dan kelompok 5+1.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan penentangan negaranya terhadap segala bentuk serangan pre-emptive ke Iran. Dikatakannya, serangan seperti itu tidak dibenarkan oleh Piagam PBB. "Sama sekali tidak ada solusi militer untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran," tegas Lavrov.

Seraya menjelaskan bahwa semua opsi tentang Iran akan dibahas, Lavrov menandaskan, "Kami hanya menerima opsi yang sesuai dengan undang-undang internasional dan Piagam PBB."

Dia juga menegaskan penentangan Rusia terhadap sanksi sepihak Amerika Serikat dan Uni Eropa atas Iran. "Upaya untuk menjatuhkan sanksi unilateral baru terhadap Iran oleh AS, Jepang, beberapa negara Eropa dan lainnya tidak bisa diterima," tegasnya.




Sumber : Republika

Tuesday, April 3, 2012

Kapal Perusak Rusia Segera Berlabuh di Suriah


Moskwa - Kapal perusak Rusia segera berlabuh di pelabuhan Tartus, Suriah, dalam beberapa hari setelah memaparkan rencana misi di kawasan tersebut, sejumlah kantor berita mengutip pejabat militer, Senin (2/4/2012).

Kapal perusak yang dilengkapi peluru kendali Smetlivy itu bertolak ke Mediterania dari pangkalan Sevastopol di Laut Hitam akhir pekan kemarin. Kapal itu diperkirakan tiba di pelabuhan Suriah yang disewa Rusia.

"Kapal itu membawa pasokan bahan makanan dan air sebelum melakukan latihan yang sudah direncanakan di pesisir Suriah," kata pejabat Angkatan Laut Rusia.

"(Misi) ini murni berlabuh yang dilakukan hampir semua kapal angkatan laut Rusia yang melakukan latihan di Mediterania," kata seorang pejabat senior di AL Rusia kepada kantor berita Interfax.

Sumber itu mengatakan, awak kapal itu tidak akan meninggalkan pelabuhan selama kapal itu berlabuh.

Tartus merupakan satu-satunya pangkalan yang digunakan Rusia di kawasan Mediterania.

Rusia merupakan sekutu dekat Suriah dan selama ini membentengi Presiden Bashar al-Assad dari kritik Barat karena tindakan kerasnya terhadap para pengunjuk rasa. Berdasarkan data PBB, penumpasan pemberontakan itu telah menewaskan lebih dari 9.000 orang.

Sebelum ini muncul laporan bahwa sebuah kapal Rusia mengirim senjata untuk Pemerintah Damaskus melalui pelabuhan yang sama pada Januari lalu.


Sumber : Kompas

Tuesday, March 27, 2012

Militer Eropa Boleh Gempur Perompak di Darat

Seorang tentara menjaga kapal tanker dari serangan bajak laut (REUTERS)

Uni Eropa memperpanjang mandat misi pasukan dari negara-negara anggotanya dalam menindak gerombolan bajak laut Somalia, yang mengancam kapal-kapal dagang dan tanker di Teluk Aden. Bahkan pasukan Eropa kali ini diberi restu tidak hanya menembaki para perompak di laut, mereka pun boleh diserang di darat.

Menurut stasiun berita BBC, 23 Maret 2012, keputusan itu disepakati para menteri pertahanan Uni Eropa, yang beranggotakan 27 negara. Mereka memperpanjang mandat operasi anti bajak laut di kawasan Teluk Aden, termasuk di perairan Somalia dan sekitarnya, selama dua tahun.

Uni Eropa mengerahkan sekitar sepuluh kapal perang beserta pasukannya untuk menjaga keamanan di perairan tersebut. Selain Eropa, militer AS, Korea Selatan, China dan negara-negara lain juga berpatroli melindungi rute kapal tanker dan kargo yang biasa melintasi Laut Arab dan Teluk Aden.

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi sejumlah penyanderaan atas kapal-kapal dagang. Para bajak laut meminta tebusan berupa uang, dan mereka tidak segan membunuh para sandera bila tuntutan tidak dipenuhi. Maka, sejak 2008, Eropa mengerahkan militer ke perairan itu.

Mandat UE yang membolehkan pasukannya menyerang basis bajak laut di wilayah darat Somalia merupakan terobosan baru. Ini mengingat para pembajak belakangan menerapkan modus baru, cepat-cepat membawa para sandera dengan perahu motor ke wilayah darat.

Menurut pejabat UE, kapal perang maupun helikopter militer Eropa diberi mandat membombardir basis bajak laut di darat, dengan target tong minyak, kapal, truk dan peralatan lain milik bajak laut di pantai.

Komandan Gugus Tugas Laut UE di perairan Somalia, Laksamana Muda Duncan Potts, pasukannya berhasil menekan jumlah kasus pembajakan di laut. "Tahun lalu ada 30 kapal 700 sandera yang ditahan. Namun dari awal tahun hingga hari ini hanya delapan kapal dan 200 sandera," kata Potts. Dia pun mendukung perluasan operasi militer terbatas ke wilayah darat Somalia. 

Selama dua dekade terakhir, Somalia tidak memiliki pemerintahan yang berjalan normal. Ini akibat perang saudara yang berkelanjutan di negara Afrika itu.

Situasi itulah yang membuat para kelompok kriminal merajalela di Somalia. Bermotif kesulitan ekonomi, mereka gemar melaut untuk membajak kapal.


Sumber : VivaNews

Monday, March 26, 2012

Jerman Sudah Jual Kapal Selam Nuklir Keenam untuk Israel


Jerman melalui Menteri Pertahanan Thomas de Maiziere, Selasa mengumumkan akan menjual kapal selam kelas Dolphin keenam kepada Israel yang mampu membawa hulu ledak nuklir dengan jangkauan operasi 4.500 kilometer.

Keputusan ini disampaikannya saat konferensi persnya bersama mitranya dari Israel Ehud Barak di Berlin, Selasa. "Sebuah kapal selanjutnya akan dikirim ke Israel dan akan ada bantuan keuangan," kata Maiziere.

Sumber pemerintah Jerman mengatakan, pada bulan November Berlin akan menanggung dana sebesar 135 juta Euro ($ 178 juta), sepertiga dari biaya kapal selam tersebut.

Sebelumnya, tiga kapal selam kelas Dolphin telah dikirim ke Israel antara 1998 dan 2000. Pada tahun 2006, Israel memesan dua kapal selam keempat dan kelima yang lebih maju.

Yang keempat dijadwalkan untuk pengiriman pada tahun 2013. Kelima dan keenam adalah perintah karena untuk pengiriman pada tahun 2014 dan 2016 masing-masing.

Israel merupakan satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah dan Tel Aviv tidak pernah mengizinkan fasilitas nuklirnya diinspeksi dan menolak bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Sebuah survei yang dilakukan oleh Pusat Arab untuk Riset dan Studi Kebijakan (ACRPS) di 12 negara Arab membuktikan bahwa 51 persen dari responden meyakini Israel sebagai ancaman utama bagi dunia Arab, sementara 22 persen lainnya menganggap AS sebagai ancaman terbesar.

Survei lain pada 2011 oleh Lembaga Friedrich Ebert yang bermarkas di Berlin menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen masyarakat Eropa percaya bahwa Israel adalah ancaman paling serius terhadap keamanan global.