Clock By Blog Tips
Showing posts with label News - Timur Tengah. Show all posts
Showing posts with label News - Timur Tengah. Show all posts

Wednesday, August 1, 2012

Militer: Iran tidak akan izinkan musuh memasuki Suriah


Iran "tidak akan mengizinkan musuh bergerak" memasuki Suriah, tetapi belum melihat diperlukan intervensi langsung, kata wakil panglima angkatan bersenjata Republik Islam itu yang dikutip media Selasa.

"Masih belum dibutuhkan bagi kalangan dalam sahabat-sahabat Suriah untuk memasuki penuh daerah itu, dan penilaian kami adalah tidak perlu dilakukan tindakan itu," kata Brigjen Masoud Jazayeri, yang dikutip surat kabar Shargh, lapor AFP.

"Dalam situasi khusus, kami memutuskan bagaimana mendukung perlawanan nasional (anti-Israel) dan para sahabat kami. Kami akan menunggu dan melihat situasi dan kondisi ke depan," katanya.

"Kami sangat peka apabila itu terjadi pada para sahabat kami dalam perlawanan (anti-Israel) di kawasan itu, dan kami tidak akan mengizikan musuh bergerak maju," katanya.

Seorang komandan senior dalam pasukan elit Iran Pengawal Revolusi, Jenderal Hamid Reza Moqadam-Far, yang dikutip surat kabar lainnya, Kayhan yang mengatakan para warga sipil Suriah kini memerangi pemberontak bersama pasukan pemerintah.

Ia menambahkan bahwa, jika pemberontakan itu dilumpuhkan, itu akan "menimbulkan satu pukulan besar terhadap Arab Saudi dan negara-negara Barat," yang Teheran anggap sebagai pemberi bantuan langsung kepada pemberontakan itu.

Iran adalah salah satu dari sekutu-sekutu penting dari pemerintah Presiden Bashar al-Assad bersama dengan Rusia dan China.

Iran menganggap Suriah sebagai bagian dari blok anti-Israel kawasan itu yang termasuk dirinya sendiri, milisi Hizbullah Lebanon dan kelompok Hamas Palestina.

Teheran memberikan bantuan kemanusiaan dan dukungan diplomatik kepada Damaskus, tetapi membantah laporan-laporan bahwa Teheran telah mengirim bantuan militer.

Menlu Ali Akbar Salehi melakukan percakapan telepon Senin malam dengan sejawat Swedianya,Carl Bildt, di mana ia mengatakan perlu dilakukan dialog antara pemerintah Suriah dan oposisi untuk menyelesaikan konflik itu.

"Para sahabat Suriah dan mereka yang menginginkan perdamaian dan stabilitas di kawsan itu harus bersiap-siap mendukung dialog antara pemerintah dan oposisi untuk memfasilitasi satu jalan keluar dari krisis itu," kata Salehi yang dikutip kantor berita resmi IRNA.

Pada Senin, pemerintah Suriah mengirim helikopter-helikopter tempur dan artileri untuk menggempur distrik-distrik yang dikuasai pemberontak di Aleppo, ibu kota bisnis negara itu.

Pemberontakan 16 bulan di Suriah itu, dan tindakan keras pasukan Bashar terhadap kelompok oposisi yang juga melakukan aksi serupa telah menewaskan lebih dari 20.000 orang, kata data para aktivis dan menyebabkan ratusan ribu warga sipil mengungsi.



Sumber : Antara

Thursday, July 26, 2012

Jenderal Israel Menolak Opsi Militer ke Suriah

Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal, Benny Gantz.

Krisis yang belakangan ini terjadi tidak hanya didominasi aksi kekerasan, yang terjadi hampir di beberapa wilayah Suriah, melainkan juga bergeser pada adanya dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Presiden Bashar Al Assad.

Terkait hal itu, beberapa negara Barat membuka kemungkinan untuk melakukan intervensi militer di Suriah. Salah satu negara yang getol ingin melakukan hal tersebut adalah Israel.

Namun, langkah negeri Yahudi tersebut mendapat pertentangan dari pejabat militernya sendiri. Adalah Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal (Letjen) Benny Gantz yang menentang langkah itu. Ia mengatakan, bahwa rezim Israel akan menghadapi konflik berskala besar jika melakukan intervensi militer (serangan).

"Kita perlu untuk mempertimbangkan apa yang akan tetap kita miliki setelah bertindak dan apa yang akan hilang dari tangan kita," katanya kepada parlemen Israel, Selasa (24/7).

Gantz juga menyatakan bahwa tentara Suriah menjaga senjata tersebut dan telah meningkatkan keamanan senjata tersebut. Pernyataan itu disampaikan dia beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak yang mengatakan bahwa Israel mungkin akan menyerang Suriah jika negara Arab itu mentransfer senjata pemusnah massal ke Lebanon.

"Saya sudah menginstruksikan militer untuk meningkatkan persiapan intelijen dan mempersiapkan apa yang dibutuhkan sehingga (jika diperlukan) kita akan meluncurkan operasi militer," bebernya.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi mengatakan kepada wartawan di Damaskus pada 23 Juli bahwa Suriah tidak akan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil, dan hanya akan menggunakannya jika terjadi agresi eksternal.

Rezim Israel sedang mencoba untuk membuka jalan untuk melakukan serangan terhadap Suriah dengan memanfaatkan alasan bahwa senjata kimia di negara Arab mungkin jatuh ke tangan lainnya.

Pada tahun 2003, Amerika Serikat menyerang Irak dengan dalih bahwa Baghdad memiliki senjata pemusnah massal (WMD). Namun, tidak ada WMD yang pernah ditemukan di Irak setelah invasi AS ke negara itu. 



Sumber : Republika

Iran Siap Produksi Sistem Militer Terbaru

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi


Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengatakan negaranya akan segera meluncurkan lini produksi dua sistem militer terbaru produksi dalam negeri. "Produksi rudal presisi tinggi dan kapal terbang bersenjata (pesawat amfibi) akan diluncurkan segera, katanya kepada wartawan, Rabu (25/7).

Selama beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan penting di sektor pertahanan. Bahkan, negeri Mullah tersebut telah mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan militer.

Republik Islam Iran telah berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militer Iran semata-mata berdasarkan pada doktrin pertahanan nasional dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.

Mengenai perkembangan di Suriah, Vahidi menolak laporan tertentu yang mengatakan bahwa Iran memiliki pasukan di negara Arab itu. Ia jugamengatakan propaganda media bertujuan untuk menutupi kehadiran teroris asing di negara ini.

"Pernyataan tersebut ditujukan untuk menutupi keberadaan teroris dari berbagai belahan dunia di Suriah," katanya menegaskan.



Sumber : Republika

Wednesday, July 25, 2012

Senjata Kimia Suriah Dikecam


Dunia mengkhawatirkan penggunaan senjata kimia oleh rezim berkuasa Suriah, di tengah keterdesakan mereka menghadapi pemberontak dan tekanan asing.

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama kemarin memperingatkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, bahwa jika menggunakan senjata kimia bakal menjadi “kesalahan tragis”. Kecaman Obama itu setelah Assad menegaskan bahwa mereka memiliki cadangan senjata kimia dan akan menggunakannya jika diserang oleh negara lain.Penegasan itu setelah pasukanpemberontaktelahmenguasai sebagian besar wilayah Damaskus pascapertempuran berat selama satu pekan terakhir.

”Kami ingin meminta kejelasan kepada Assad mengenai cadangan senjata kimia.Kami menegaskan padanya bahwa dunia terus memantaunya,”kata Obama di depan para veteran AS di Nevada, dikutip AFP. “Mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh komunitas internasional dan AS.Mereka akan membuat kesalahan tragis dengan menggunakan senjata-senjata itu.”

Bukan hanya Obama,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Kimoon pun mengatakan bahwa gagasan menggunakan senjata kimia adalah sesuatu yang tercela.“ Semua negara memiliki kewajiban untuk tidak menggunakan senjata pemusnah massal, apakah merekaterikat dengan konvensi atau tidak,” kata Ban.

Kemudian, Israel telah menyatakan keprihatinan mengenai nasib persenjataan Suriah. Perdana Menteri (PM) Israel Benyamin Netanyahu berbicara mengenai ancaman besar bahwa gudang-gudang senjata akan jatuh ke tangan kelompok Syiah Islam Lebanon, Hizbullah. Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius menegaskan, penggunaan senjata kimia oleh pasukan pemerintah Suriah tidak bisa diterima.

“Penggunaan senjata kimia sama sekali tidak bisa diterima. Presiden Obama telah membuat pernyataan dan juga lainnya. Senjata-senjata ini di bawah pengawasan ketat komunitas internasional,” ujar Fabius kepada France 2. Menurut Fabius, Presiden Assad dalam kondisi terjepit dan tawaran pelengseran lunak dari jabatannya oleh Liga Arab tidak akan menyelamatkannya dari hukuman.

“Liga Arab memang telah memberikan tawaran itu.Namun, saya kira untuk jangka panjang semua diktator harus membayar kejahatannya,”ujar Fabius,seperti dikutip AFP.“Pada akhirnya, bagi dia dan diktator lain tidak akan nada pengampunan. Assad akan jatuh. Hanya tinggal menunggu waktu.” Sebagai sekutu utama Suriah, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan perang sipil yang berlarut-larut seharusnya para pemberontakan diizinkan untuk menumbangkan Assad dari kekuasaan.

“Kami sangat khawatir jika kepemimpinan (Suriah) saat ini digulingkan dari kekuasaan secara inkonstitusional, maka oposisi dan kepemimpinan saat ini kemungkinan akan mengubah tempat,” kata Putin, dikutip kantor berita Interfax. Dia memperingatkan tidak ada yang dapat memprediksi berapa lama perang sipil bakal terjadi. Sementara pemimpin oposisi Suriah,Abdel Basset Sayda, memperingatkan adanya kemungkinan rezim Assad bakal menggunakan senjata kimia.

“Rezim yang membunuhi anak-anak,memerkosa perempuan, mereka bisa saja menggunakan senjata kimia,” kata Sayda kepada kantor berita Anatolia. Reaksi dunia itu hanya beberapa jam setelah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Suriah Jihad Makdissi memberikan pengakuan implisit pertama dari Damaskus, bahwa mereka memiliki simpanan senjata kimia. “Senjata itu disimpan dengan aman. Suriah tidak akan pernah menggunakannya untuk melawan rakyat mereka sendiri, tetapi hanya dalam kasus agresi asing,”kata Makdissi dikutip BBC.

Makdissi menambahkan, para jenderal yang akan memutuskan kapan dan bagaimana para tentara Suriah bakal menggunakan senjata kimia tersebut. Para pemberontak juga menuding Assad telah memindahkan senjata kimia ke perbatasan negara itu. Seperti diungkapkan Dewan Nasional Suriah (SNC),pemindahan senjata kimia untuk menekan komunitas internasional. “Kita berada pada komando bersama Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) sangat mengetahui di mana lokasi dan posisi senjata itu,” demikian pernyataan SNC.

“Kita juga tahu bahwa Assad telah memindahkan beberapa senjata itu dan perlengkapannya ke beberapa bandara di perbatasan.” Selanjutnya, sebagai solusi politik,kubu oposisi tetap mencari solusi politik.“Kita mempertimbangkan transisi yang sama seperti terjadi di Yaman, setelah berbulan-bulan berkonflik dengan mantan presiden Ali Abdullah Saleh,” Juru Bicara SND George Sabra. Lantas siapa figur yang bakal memimpin transisi?

“Suriah memiliki tokoh patriotik baik di pemerintahan dan militer yang dapat mengambil peran penting itu,”jawabnya.Hanya, dia tidak menjelaskan siapa figur yang dimaksud.


Sumber : Sindo

Friday, July 13, 2012

Pentagon Akui Kehebatan Sistem Rudal Iran


Pentagon ternyata mengakui kehebatan sistem rudal Iran. Disebutkan bahwa sistem rudal Iran telah meningkat dan akan menunjukkan kekuatan tangguh dalam mempertahankan wilayahnya.

"Iran telah meningkatkan tingkat mematikan dan efektivitas sistem-sistem yang ada dengan memperbaiki keakuratan dan mengembangkan muatan submunisi baru yang memberikan kekuatan pengrusak atas wilayah yang lebih luas," demikian laporan Pentagon yang dilansir Bloomberg, Jumat (13/7/2012).

Laporan Pentagon bertanggal 29 Juni itu, ditandatangani Menteri Pertahanan AS Leon Panetta. Laporan tersebut disampaikan ke empat komite pertahanan Kongres AS pekan lalu. Pembuatan laporan ini guna memenuhi instruksi tahun 2010 untuk memberikan penilaian rahasia dan tidak rahasia mengenai kekuatan militer Iran.

Dalam laporan itu ditekankan, peningkatan kemampuan rudal Iran terjadi secara pararel dengan pelatihan reguler rudal balistik yang terus terjadi di seluruh Iran dan tambahan kapal-kapal dan kapal selam baru.

Sebelumnya pada Juli lalu, unit Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolution Guards Corps melakukan uji coba rudal-rudal yang diproduksi di dalam negeri. Rudal yang diuji coba tersebut termasuk Shahab (Meteor) 1, 2, 3, Khalij Fars (Teluk Persia), Tondar (Kilat), Fateh (Kemenangan) and Zelzal (Gempa) serta Qiam (Kebangkitan).

Pemerintah Iran telah berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militernya bukan ancaman bagi negara-negara lain. Ditegaskan bahwa doktrin pertahanan Iran semata-mata untuk berjaga-jaga.



Sumber : Detik

Monday, July 9, 2012

Iran Yakin Bisa Hancurkan Semua Pangkalan AS di Timteng

Ketua tim perunding nuklir Iran Said Jalili (kanan) bersalaman dengan Ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano (kiri) di Teheran, Senin (21/5/2012).

Iran mengancam akan menghancurkan pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah dan menjadikan Israel sebagai sasaran cuma dalam beberapa menit setelah diserang, kata media Iran, Rabu (4/7/2012). Sementara itu Pengawal Revolusi Iran memperpanjang uji-coba penembakan rudal balistik pada hari ketiga, Rabu.

Israel telah mengisyaratkan kemungkinan menyerang Iran jika diplomasi gagal menghasilkan dihentikannya program nuklir Iran. Amerika Serikat juga telah membicarakan aksi militer sebagai pilihan terakhir, meskipun sering membujuk Israel untuk memberi waktu agar sanksi ekonomi yang ditingkatkan berhasil terhadap Iran.
"Semua pangkalan ini berada dalam jangkauan rudal kami, dan tanah pendudukan (oleh Israel) juga adalah sasaran bagus buat kami," kata Amir Ali Haji Zadeh, Komandan Divisi Udara Pengawal Revolusi, sebagaimana dikutip kantor berita Fars.

Haji Zadeh menyatakan 35 pangkalan AS berada dalam jangkauan rudal balistik Iran, yang paling canggih yang telah dikatakan para komandan bisa mengenai sasaran yang berjarak 2.000 kilometer.

"Kami telah mengukur jarak untuk mendirikan pangkalan dan menggelar rudal guna menghancurkan semua pangkalan ini dalam beberapa menit setelah serangan," ia menambahkan sebagaimana dilaporkan Reuters.

Tidak jelas dari mana Haji Zadeh memperoleh ukurannya mengenai pangkalan AS di wilayah tersebut. Instalasi militer AS di Timur Tengah berada di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Turki, dan AS memiliki sebanyak 10 pangkalan lagi di Afghanistan serta Kyrgyzstan.

Banyak pengamat pertahanan seringkali ragu mengenai apa yang mereka gambarkan sebagai pernyataan militer yang dibesar-besarkan oleh Iran dan mengatakan kemampuan militer negara Persia tersebut takkan bisa menandingi sistem pertahanan AS yang canggih.

Media Iran melaporkan ujicoba rudal yang berlangsung tiga hari dalam pelatihan militer yang dijuluki "Great Prophet 7", yang melibatkan puluhan rudal dan pesawat tanpa awak buatan dalam negerinya yang berhasil menghancurkan pangkalan udara dalam simulasi.

Korps Pengawal Revolusi Iran menguji-tembak rudal  Shahab 1,2,3, Fateh, Tondar, Zelzal, Khalij-e-Fars dan Qiam selama pelatihan militer "Great Prophet 7" itu


Sumber : Kompas

Thursday, June 28, 2012

Yaman akui penggunaan pesawat tak berawak AS

Pesawat tanpa awak (defence.pk)

Yaman meminta penggunaan pesawat tak berawak AS "dalam sejumlah kasus" untuk menyerang pemimpin-pemimpin Al Qaida di negara itu, kata Menteri Luar Negeri Yaman Abu Bakr al-Kurbi, Rabu.

"Pesawat-pesawat tak berawak digunakan atas permintaan Yaman dalam sejumlah kasus untuk menyerang pemimpin Al Qaida yang melarikan diri," kata Kurbi kepada AFP di sela-sela konferensi pemberantasan perompakan di Dubai.

Pernyataan menteri itu merupakan pengakuan resmi pertama Yaman mengenai penggunaan pesawat tak berawak AS.

Pasukan Yaman bulan ini berhasil merebut kembali sejumlah kota yang dikuasai Al Qaida tahun lalu di provinsi wilayah selatan, Abyan.

Pada Mei dalam wawancara di program televisi ABC "This Week", Menteri Pertahanan AS Leon Panetta memuji penggunaan pesawat tak berawak sebagai "senjata paling tepat yang kami miliki" dalam operasi untuk menyerang kelompok militan tersebut.

Pernyataan itu juga merupakan pengakuan resmi pertama AS mengenai penggunaan pesawat tak berawak untuk menyerang tersangka anggota Al Qaida di Yaman.

Kurbi mengatakan, "Yang dikhawatirkan adalah penyusupan ekstrimis dan teroris ke Yaman" dari Somalia.

"Sangat sulit bagi kami untuk menyebutkan perbedaan antara seseorang yang mengungsi karena alasan kemanusiaan dan seorang teroris," katanya.

Pada Februari, panglima pasukan Uni Afrika di Mogadishu Mayor Jendral Fred Mugisha mengatakan, gerilyawan Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al Qaida melarikan diri dari negara itu menuju Yaman dalam jumlah besar.

Bulan ini, serangan bom bunuh diri gerilyawan Somalia menewaskan panglima militer untuk Yaman selatan Jendral Salem Ali Qoton, yang memimpin ofensif lima pekan terhadap militan Al Qaida.

Ofensif pasukan Yaman yang diluncurkan bulan lalu berhasil menghalau militan Al Qaida dari sejumlah kota dan desa di wilayah selatan dan timur yang selama lebih dari setahun mereka kuasai.

Sejak ofensif militer dimulai pada 12 Mei, ratusan orang yang mencakup anggota Al Qaida, prajurit, militan lokal pro-militer dan warga sipil tewas.

Ofensif itu didukung oleh pesawat tak berawak AS yang pada hari itu melancarkan dua serangan udara di Yaman timur yang menewaskan 11 terduga anggota Al Qaida.

Pada 6 Mei, serangan udara AS di Yaman timur menewaskan pemimpin Al Qaida Yaman Fahd al-Quso, yang diburu dalam kaitan dengan pemboman mematikan terhadap kapal USS Cole pada 2000.

Serangan pada Oktober 2000 terhadap USS Cole, kapal perusak Angkatan Laut AS, di pelabuhan Aden, Yaman, menewaskan 17 pelaut dan mencederai 40 orang.

Quso tewas dalam serangan dua rudal di dekat rumahnya di Rafadh, sebelah timur Ataq, ibu kota provinsi Shabwa.

Menurut laporan-laporan, pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan sekitar sepuluh serangan udara di Yaman dalam empat bulan terakhir.

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) meminta izin untuk melancarkan serangan lebih lanjut pesawat tak berawak di Yaman, meski ada risiko korban mungkin bukan teroris, kata Washington Post pada April.

AS tidak pernah secara resmi mengakui penggunaan pesawat tak berawak terhadap Al Qaida di Yaman, yang dianggap sebagai cabang paling aktif dan mematikan dari jaringan teror global itu dan menjadi pusat perang melawan teror.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).

AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu.

Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabuh Mansur Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida.

Pada Maret, 185 prajurit tewas dalam serangan besar Al Qaida terhadap sebuah kamp militer di dekat Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan.


Sumber : Antara
 

Iran: intervensi militer di Suriah rusak keamanan regional

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast intervensi asing di Suriah akan merusak keamanan regional.

Setiap upaya oleh negara asing untuk ikut campur secara militer di Suriah dapat membahayakan keamanan regional, kata Mehmanparast seperti dilaporkan Press TV.

Ia menambahkan masalah Suriah perlu diselesaikan "melalui kerja sama diantara negara yang berpengaruh" di wilayah tersebut.

Mehmanparast juga menggambarkan kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (23/6) ke Israel sebagai "alamiah".

"Sebagai Presiden Rusia, Putin mengupayakan perkembangan regional," kata pejabat Iran itu sebagaimana dikutip Xinhua.

Dia menduga kunjungan tersebut bertujuan untuk mengkaji perkembangan regional dan menemukan penyelesaian bagi krisis yang berlangsung di Suriah.

Mehmanparast juga mendesak kerja sama semua negara berpengaruh guna membantu menyelesaikan krisis Suriah dengan memfasilitasi kondisi dialog antara pemerintah Suriah dan oposisi.

Duta Besar Rusia Vitaly Churkin, Selasa (24/6), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov "sepenuhnya siap" menghadiri pertemuan 30 Juni mengenai Suriah. Moskow berharap pertemuan mendatang di Jenewa akan "produktif".


Sumber : Antara

Tuesday, June 26, 2012

Klaim Mampu Tangkis Rudal, Pakar: Israel Hanya Menipu

Peluncuran sistem anti-rudal Israel

Seorang pakar militer seperti dikutip media Israel, Yediot Aharonot, mengatakan, semua klaim khususnya terkait keberhasilan sistem Iron Dome Israel dalam menangkal roket-roket pejuang Palestina hanyalah cara untuk menipu opini publik internal Israel.

Sebab kapasitas sistem tersebut hanya 50 persen. Hal itu juga bertentangan dengan  klaim media-media lain bahwa sistem Iron Dome mampu mencegat serangan dari Palestina hingga 67 persen.

Pakar tersebut menambahkan, dari 30 roket yang ditembakkan ke Israel, Iron Dome hanya mampu menangkal empat hingga lima roket. Sementara itu, pejabat Tel Aviv mengemukakan berbagai dalih untuk menjustifikasi kegagalan sistem tersebut.


Sumber : Republika

AS-Israel Akan Gelar Latihan Militer Terbesar

Tentara Israel berjalan dekat tank Merkava "Mark 4" saat menggelar latihan perang di Gurun Arava, Eilat, Israel selatan, guna persiapan menghadapi Iran.

Israel dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah merencanakan sebuah latihan perang terbesar sepanjang sejarah kerja sama militer kedua negara. Latihan bersama itu disebut akan digelar pada Oktober mendatang dengan melibatkan ribuan tentara dari kedua negara.

The Times of Israel, Senin (25/6) melansir, seorang petinggi militer AS, Letjen Craig A Franklin, telah membentuk komite representatif untuk membahas lebih lanjut rencana latihan militer itu dalam kunjungannya ke Israel beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, AS disebut telah setuju untuk melibatkan 3.000 personel militernya dalam latihan itu.

Salah satu kegiatan yang dijadwalkan dalam latihan adalah simulasi serangan dari pihak luar ke wilayah Israel. Dalam simulasi, Israel akan diserang ratusan roket dari Iran dan Suriah pada waktu yang bersamaan.

Israel akan mempertunjukkan versi terbaru sistem pertahanan Arrow 2. Sedangkan AS akan membawa sistem pertahanan anti-roket balistik Aegis dan pertahanan anti-serangan udara PAC-3 Patriot.

Latihan bersama ini memberi sinyal kepada Iran bahwa AS dan Israel akan segera menerapkan tindakan militer setelah sanksi ekonomi atas program nuklirnya tidak digubris.


Sumber : Republika

Thursday, June 21, 2012

Delapan Roket Ditembakkan Dari Gaza ke Israel


Para pejuang Palestina menembakkan roket-roket dari Gaza ke Israel untuk hari keempat berturut-turut pada Kamis, kata militer, meskipun Hamas mengumumkan telah sepakat untuk gencatan senjata dengan negara Yahudi itu.

    Tujuh roket menghantam Israel selatan setelah tengah malam, tidak menyebabkan korban dan satu lagi tertangkap oleh sistem pertahanan anti-roket Iron Dome, kata juru bicara militer.

    Serangan-serangan terbaru itu terjadi setelah tiga hari kekerasan meletus dan menyebabkan delapan warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel, sementara para gerilyawan menembakkan puluhan roket ke negara Yahudi tersebut, salah satunya menghantam satu pos polisi perbatasan, melukai empat orang.

    Juru bicara militer mengatakan bahwa sejak awal minggu, 129 proyektil telah ditembakkan dari Gaza menghantam Israel selatan, sehingga dalam empat orang di pos terdepan menjadi korban serta terjadi kerusakan harta benda.

    Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer gerakan Islam Hamas, gerakan yang menguasai Gaza, mengatakan Rabu malam mereka telah sepakat untuk pada gencatan senjata dengan Israel yang ditengahi Mesir.

    "Menanggapi upaya Mesir untuk menghentikan agresi kepada rakyat kami, kita di Al-Qassam dan semua faksi perlawanan menyatakan kami komitmen untuk menghentikan putaran konfrontasi, selama (Israel) berkomitmen untuk menghentikan kejahatannya," katanya dalam sebuah pernyataan.

    Ia menambahkan bahwa mereka telah menembakkan 96 roket dan sembilan mortir ke negara bagian Yahudi selama gelombang kekerasan terakhir, dalam satu pertunjukan langka kekuatan kelompok yang telah mengamati gencatan senjata de facto terhadap serangan-serangan roket.



Sumber : Suara-Karya

Wednesday, June 20, 2012

Iran-Rusia-Cina-Suriah akan Gelar Latihan Militer Terbesar di Timteng


Persekutuan antara Iran, Rusia, Cina dan Suriah kian nyata. Kabar terkini berhembus bahwa keempat negara tersebut akan menggelar latihan militer amfibi yang terbesar bersama sepanjang pantai Suriah dalam beberapa pekan mendatang.

Demikian sumber-sumber informasi, seperti diberitakan Kantor Berita Fars, Senin (18/6). Menurut sumber-sumber informasi, 90.000 pasukan dari empat negara akan mengambil bagian dalam latihan darat dan laut yang dijadwalkan berlangsung di Suriah.

Pasukan darat, udara dan laut serta unit pertahanan dan rudal udara dari empat negara akan mengambil bagian dalam latihan.

Sumber itu mengatakan bahwa Mesir telah menyetujui akan mengizinkan melintasnya sampai 12 kapal perang Cina untuk berlayar melalui Terusan Suez. sumber itu juga menambahkan bahwa konvoi militer akan merapat di dermaga di pelabuhan Suriah dalam dua minggu ke depan.

Kapal selam atom Rusia dan kapal perang, kapal induk pesawat dan kapal perusak pembersih ranjau serta kapal perang dan kapal selam Iran juga akan tiba di Suriah pada sekitar tanggal yang sama.

Suriah berencana untuk menguji pertahanan rudal pantai ke laut dan rudal udara di latihan itu. Sebesar 400 pesawat tempur dan 1.000 tank juga akan digunakan dalam latihan.

Seorang pejabat Suriah, yang meminta untuk tetap anonim, telah memberitahu dua pekan lalu bahwa latihan akan dilakukan di Suriah segera.

Sumber tidak resmi juga mengatakan empat negara sekarang sibuk dengan mengambil langkah-langkah persiapan cepat untuk latihan terbesar yang pernah di gelar di Timur Tengah.

Sham Life melaporkan bahwa manuver akan digelar dalam waktu kurang dari satu bulan dari sekarang, yaitu awal Juni.


Sumber : Republika

Friday, June 15, 2012

Inilah Motif Manuver Militer Baru Israel


Israel kembali menggelar manuver militer baru di wilayah Shebaa. Sumber Lebanon menyebutkan Israel memulai latihan perang besar-besaran di selatan Shebaa dengan menerjunkan pasukan infanteri dan altileri. Tidak hanya itu, militer Israel juga mengerahkan pesawat pengintai tanpa awak dan helikopter di Sheba, dataran tinggi Golan, dan desa-desa perbatasan rezim agresor dan Lebanon.

Motif manuver militer terbaru Israel bisa dilihat dari berbagai sisi. Pertama, rezim Zionis melakukan "Show of Force" di wilayah yang dudukinya dengan target ambisius memperluas wilayah jarahan.

Kedua, latihan perang ini digelar untuk mengalihkan isu friksi di tubuh rezim Zionis terkait kemampuan militer agresor itu dalam menghadapi serangan balasan dari Iran, Hizbullah dan Hamas, jika Israel benar-benar menyerang instalasi nuklir Iran.

Pasalnya, beberapa waktu lalu, Mantan Kepala Mossad kembali memperingatkan pejabat teras Tel Aviv mengenai risiko besar yang harus ditanggung Israel, jika jadi menyerang Iran. Meir Dagan menilai setiap serangan terhadap situs nuklir Iran akan melibatkan Israel dalam perang regional dengan konsekuensi destruktif bagi Tel Aviv. Ynet melaporkan, Dagan berulang kali mengungkapkan bahwa provokasi ambisius Netanyahu menyerang Iran merupakan "ide terbodoh"  yang pernah muncul pada tahun 2011.

Ketiga, manuver militer ini digelar untuk meningkatkan kepercayaan publik Israel sendiri terhadap Tel Aviv, terutama terhadap militer Zionis. 

Keempat, latihan perang kali ini digelar untuk mempersiapkan kekuatan militernya menghadapi kemungkinan meletusnya perang baru dengan Hizbullah dan Hamas. Tel Aviv hingga kini mencari celah baru untuk menebus kekalahan memalukan atas Hizbullah dalam perang tahun 2000 lalu.



Sumber : Kompas

Wednesday, June 13, 2012

Motif di Balik Latihan Perang Baru Israel


Israel kembali menggelar manuver militer baru di wilayah Shebaa. Sumber Lebanon menyebutkan Israel memulai latihan perang besar-besaran di selatan Shebaa dengan menerjunkan pasukan infanteri dan altileri. Tidak hanya itu, militer Israel juga mengerahkan pesawat pengintai tanpa awak dan helikopter di Sheba, dataran tinggi Golan, dan desa-desa perbatasan rezim agresor dan Lebanon.

Manuver militer terbaru Israel bisa dilihat dari berbagai sisi. Pertama, rezim Zionis melakukan "Show of Force" di wilayah yang dudukinya dengan target ambisius memperluas wilayah jarahan.
Kedua, latihan perang ini digelar untuk mengalihkan isu friksi di tubuh rezim Zionis terkait kemampuan militer agresor itu dalam menghadapi serangan balasan dari Iran, Hizbullah dan Hamas, jika Israel benar-benar menyerang instalasi nuklir Iran.

Pasalnya, beberapa waktu lalu, Mantan Kepala Mossad kembali memperingatkan pejabat teras Tel Aviv mengenai resiko besar yang harus ditanggung Israel, jika jadi menyerang Iran. Meir Dagan menilai setiap serangan terhadap situs nuklir Iran akan melibatkan Israel dalam perang regional dengan konsekuensi destruktif bagi Tel Aviv. Ynet melaporkan, Dagan berulang kali mengungkapkan bahwa provokasi ambisius Netanyahu menyerang Iran merupakan "ide terbodoh"  yang pernah muncul pada tahun 2011.


Ketiga, manuver militer ini digelar untuk meningkatkan kepercayaan publik Israel sendiri terhadap Tel Aviv, terutama terhadap militer Zionis. Koran Zionis, Yediot Aharonot menyebut militer Israel keropos dan tidak memiliki kemampuan memadai untuk berperang menghadapi Iran. Koran berbahasa Ibrani ini, Kamis (31/5) mempublikasikan tulisan Amnon Abramovich dengan judul "Is IDF a Hollow Army ?" yang terang-terangan menyebutkan kelemahan militer Israel.

Mengenai kemampuan personil militer Israel, koran Yediot Aharonot mengungkapkan bahwa peralatan militer canggih seperti tank hanya dekorasi belaka tanpa dukungan kemampuan sumber dayanya yang memadai.
Sebelumnya, koran Haaretz mewawancarai seorang pakar militer Israel yang mengungkapkan bahwa personil militer Israel tidak memiliki kemampuan standar yang menyebabkan mereka gagal menjalankan misinya. Buktinya, mereka kewalahan dalam perang menghadapi Hizbullah dan Hamas. Sasaran kritik paling keras dilayangkan profesor pakar militer itu terhadap angkatan darat Israel.
Para analis militer memandang ancaman intervensi militer Israel terhadap Iran hanyalah perang urat syaraf untuk mendapatkan poin lebih besar, terutama untuk mendulang banjir bantuan dari AS
Tidak hanya itu, sebuah jajak pendapat baru di Israel mengungkapkan bahwa mayoritas warga Israel menentang serangan militer Israel terhadap program nuklir Iran. Polling yang dilakukan oleh Netanya Academic College Senin (4/6) menunjukkan 52 persen responden menentang serangan militer Israel terhadap Iran
Keempat, latihan perang kali ini digelar untuk mempersiapkan kekuatan militernya menghadapi kemungkinan meletusnya perang baru dengan Hizbullah dan Hamas. Tel Aviv hingga kini mencari celah baru untuk menebus kekalahan memalukan atas Hizbullah dalam perang tahun 2000 lalu. (IRIB Indonesia/PH)

Sumber :Iran Indonesian Radio
   













Monday, May 21, 2012

Pemerintah AS Siap Lancarkan Serangan Militer ke Iran

                                                       (eutimes.net)

Pemerintah Amerika Serikat (AS), menyatakan siap melancarkan serangan militer ke Iran, apabila langkah diplomasi gagal menghentikan langkah Teheran mengembangkan persenjataan nuklir.

Sikap AS itu, dibeberkan oleh utusan mereka untuk Israel, Dan Shapiro, seperti dikutip dari BBC News, Minggu (20/5/2012). Menurutnya hingga kini Washington masih mengedepankan upaya diplomasi, juga sanksi untuk menghentikan proyek ambisius Iran tersebut, namun jika dirasa perlu untuk mengerahkan kekuatan tempur, pihaknya tegas Dan, pihaknya telah siap.

"Akan lebih baik untuk menyelesaikan ini secara diplomatik melalui penggunaan tekanan dari pada menggunakan kekuatan militer," kata Dan.

"Namun bukan berarti pilihan tersebut (menggunakan kekuatan militer), belum siap. Perencanaan yang diperlukan telah dilakukan untuk memastikan langkah itu sudah siap," lanjutnya.

Pernyataan Dan itu, diamini oleh Pentagon. Menurut Juru Bicara Pentagon, George Little, pihaknya telah memutuskan untuk menempuh opsi tersebut, jika semua cara yang ditempuh gagal menghentikan langkah Pemerintah Iran.

"Komentar Pak Dubes adalah benar dan sejalan dengan apa yang telah kita katakan terkait situasi di Iran. Fokus kami di AS adalah menggunakan instrumen diplomatik dan ekonomi untuk memberikan tekanan kepada Iran untuk melakukan hal yang benar," katanya.

Seperti diketahui AS, bersama-sama dengan negara-negara Barat, juga Israel, menuding Iran tengah melakukan pengembangan uranium, untuk membuat senjata nuklir.



Sumber : TribunNews

Wednesday, May 16, 2012

AS dan Sekutu mulai pelatihan perang di Jordania


Amerika Serikat dan sekutunya memulai di Jordania apa yang disebutnya sebagai pelatihan militer terbesar di Timur Tengah dalam 10 tahun, yang dipusatkan pada perang lain dari biasa, kata para perwira penting, Selasa.

"Kemarin kami mulai menerapkan keterampilan yang telah kami kembangkan dalam beberapa minggu belakangan ini dalam satu skenario perang lain daripada biasa... Kegiatan itu akan berlangsung sampai sekitar dua pekan ke depan," kata Mayjen Ken Tovo, komandan Pasukan Operasi Khusus AS kepada wartawan di Amman.

Pelatihan militer Eager Lion 2012 "adalah pelatihan terbesar yang dilakukan di kawasan itu dalam 10 tahun belakangan ini", kataya di Pusat Pelatihan Operasi Khusus Raja Abdullah II di Amman utara.

Lebih dari 12.000 tentara ikut serta dalam pelatihan perang itu, dan mereka berasal dari 19 negara termasuk Bahrain, Mesir, Irak, Jordania, Arab Saudi, Lebanon, Pakistan, Qatar, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol dan Austalia.

"Pesan yang ingin saya sampaikan melalui pelatihan ini adalah kami telah membangun mitra yang tepat di seluruh kawasan itu dan di seluruh dunia... yang memastikan bahwa kami memiliki kemampuan ... menghadapi tantangan-tantangan yang akan datang terhadap negara-negara kami," kata Tovo.

Mayjen Awni Adwan, kepala operasi dan pelatihan militer Jordania, mengatakan pelatihan militer itu "adalah sesuai dengan tahap yang direncanakan tiga tahun belakangan ini".

"Tidak akan ada pasukan digelar di utara... pelatihan itu tidak ada kaitannya dengan satu kejadian riil dunia," kata Adwan ketika ditanya apakah pelatihan perang itu ada hubunganya dengan aksi kekerasan di daerah utara Jordania yang berbatasa dengan Suriah.

Beberapa laporan media menduga bahwa pelatihan itu ada kaitannya dengan aksi kekerasan di Suriah, dan mengatakan pasukan berusaha menjamin keamanan perbatasan Jordania.

"Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Suriah. Kami menghormati kedaulatan Suriah. Tidak ada ketegangan antara Suriah dan kami. Tujuan-tujuan objektif kami jelas," kata Adwan.

Jordania mendapat bantuan militer dan ekonomi AS, dengan Washington memberikan bantuan 2,4 miliar dolar AS dalam lima tahun belakangan ini, demikian data resmi, demikian AFP.



Sumber : Antara

Thursday, May 10, 2012

Pasukan militer Suriah serang kota Homs

Tim pemantau PBB telah berada sebulan di Suriah, tetapi serangan senjata masih terjadi.

Serangan oleh pasukan militer Suriah terjadi sepanjang malam di kota Homs, Suriah. Aktivis oposisi menyebutkan serangan itu merupakan yang terburuk selama beberapa pekan ini.
Peristiwa itu terjadi ketika sebelas pemantau PBB berada di Homs untuk mencoba melaksanakan gencatan senjata disana.

Tetapi koresponden BBC di Homs mengatakan upaya itu mustahil dilakukan, karena kedua pihak melanggar gencatan senjata.

Rabu lalu, sebuah konvoi yang membawa pemantau PBB terkena ledakan bom di bagian selatan kota Deraa.

Kepala tim PBB, Mayor Jenderal Robert Mood, berada di konvoi, tetapi tidak ada dia atau anggota tim yang terluka.

Saksi mata mengatakan setidaknya tiga tentara Suriah terluka. Dan jendela truk hancur.

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan peristiwa tersebut merupakan ancaman bagi misi PBB yang akan datang ke Suriah.

Tim pemantau berada di negara itu sebagai bagian dari rencana perdamaian gabungan PBB-Liga Arab dan mulai dikirimkan pada bulan lalu.

Saat ini ada sekitar 70 pemantau di Suriah, tetapi kehadiran mereka tidak memberikan dampak terhadap kekerasan disana.

Seorang reporter Associated Press yang mengikuti konvoi PBB mengatakan ledakan di Deraa menghancurkan jendela truk militer dan menyebabkan asap hitam yang tebal.

Tidak diketahui dengan jelas siapa yang berada di balik peristiwa tersebut. Bagaimanapun, oposisi di Dewan Nasional Suriah telah menyalahkan pemerintah, dan mengatakan ledakan itu sebagai bagian dari kampanye agar pemantau PBB keluar dari negara tersebut.

Penduduk Mengungsi
Sementara itu, wartawan BBC Lyse Doucet mengatakan serangan senjata terjadi di Homs, meskipun ada gencatan senjata antara pemerintah dan pasukan oposisi.

Dia melihat pemantau PBB melakukan patroli di kota itu, tetapi mengatakan seluruh penduduk telah meninggalkan rumah mereka.

Rabu lalu, pasukan Suriah menembakan senjata di perbatasan Lebanon, menewaskan perempuan tua dan anak perempuannya terluka, seperti disampaikan oleh pejabat Lebanon.

PBB memperkirakan sekitar 26.000 warga Suriah mengungsi melalui perbatasan ke Lebanon.

PBB mengatakan setidaknya 9.000 orang tewas sejak protes pro demokrasi mulai pada Maret 2011.

Februari lalu, pemerintah Suriah menyatakan jumlah korban tewas mencapai 3.838 - yang terdiri dari 2.493 penduduk sipil dan 1.345 personil pasukan keamanan. Akses wartawan asing ke Suriah ditutup dan laporan itu tidak dapat diverifikasi.


Sumber : BBC

Wednesday, May 9, 2012

Pasukan NATO di kota Kabul, Afghanistan

Kabul - Presiden Afghanistan Hamid Karzai memanggil panglima NATO dan duta besar Amerika Serikat untuk memperingatkan bahwa korban di kalangan rakyat dalam gerakan tentara mengancam perjanjiannya dengan negara adidaya itu.

Puluhan warga -termasuk perempuan dan anak-anak- tewas dalam pemboman persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO di empat provinsi sejak Sabtu, kata pernyataan kantor Karzai.

Presiden memperingatkan bahwa jika nyawa rakyat Afghanistan tidak dilindungi, Kesepakatan Kemitraan Strategis -yang ditandatanganinya dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada pekan lalu- akan kehilangan makna, kata pernyataan itu.

"Presiden Afghanistan pada malam ini memanggil Panglima NATO Jenderal John Allen dan Duta Besar Amerika Serikat Ryan Crocker untuk melakukan pertemuan darurat di istana kepresidenan," kata kantor presiden tersebut.

Ia menyatakan keprihatinannya mengenai korban di kalangan rakyat di empat provinsi, yakni Logar dan Helmand di selatan, Kapisa di timur dan Badghis di baratlaut.

Presiden itu menyatakan korban di kalangan rakyat selalu menyakiti hubungan Afghanistan-Amerika Serikat, dengan menambahkan bahwa Afghanistan sudah menandatangani perjanjian strategis dengan Amerika Serikat untuk mencegah kejadian tersebut dan menjaga kehidupan warga Afghanistan.

"Jika kehidupan warga Afghanistan tidak dilindungi, kemitraan strategis itu akan kehilangan makna," kata pernyataan itu mengutip kalimat presiden tersebut.

Perjanjian itu mencakup hubungan di antara kedua negara itu saat pasukan pimpinan NATO, yang membantu pemerintah Karzai memerangi perlawanan Taliban, ditarik pada 2014.

Sesudah pertemuan itu, Allen menyatakan menerima tanggung jawab pribadi atas kejadian saat warga tewas dan menyatakan belasungkawa kepada keluarga bersangkutan, kata juru bicara Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan NATO kepada kantor berita Prancisd AFP.

"Ia mengatakan akan sepenuhnya menyelidiki kejadian itu dan melaporkan kembali ke Presiden Karzai," kata jurubicara itu, "Kami tidak memiliki semua bukti pada saat ini."

Serangan udara NATO pimpinan Amerika Serikat menyasar pejuang di provinsi Badghis pada Sabtu malam menewaskan 15 warga, termasuk perempuan dan anak-anak di desa Joikar, kabupaten Bala Murghab, kata anggota parlemen propinsi itu, Qazi Abdul Rahim, kepada AFP.

Juru bicara ISAF menjelang pertemuan dengan Karzai menyatakan serangan udara menewaskan tiga gerilyawan dalam serangan di daerah tersebut, namun laporan menunjukkan tidak ada warga terlibat.

Dalam kejadian terpisah, di provinsi bergolak Helmand di Afghanistan selatan, pada Jumat, enam warga tewas akibat serangan udara NATO, kata pejabat Afghanistan. "Enam orang -seorang wanita, dua bocah laki-laki dan tiga perempuan- tewas akibat serangan udara pasukan asing pada Jumat di kabupaten Sangin," kata juru bicara propinsi Daud Ahmadi kepada AFP.

ISAF menyatakan mengetahui tuduhan itu dan penyelidikan "sedang berlangsung".

Korban di kalangan rakyat selalu menjadi masalah peka dalam perang pimpinan Amerika Serikat melawan gerilyawan Taliban itu dan sering menjadi penyebab hubungan tegang antara Kabul dan Washington.

Jumlah warga tewas meningkat tiap tahun dalam lima tahun belakangan, mencapai 3.021 pada 2011, dengan sebagian besar disebabkan oleh pejuang, kata angka Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Sumber : Republika

Friday, May 4, 2012

Diembargo, Iran Tetap Bisa Beli Senjata

Tidak hanya Iran yang bisa bisnis senjata di tengah embargo, terdapat 10 negara yang juga melakukannya (REUTERS/ Joshua Lott)

Sanksi ekonomi dan embargo persenjataan dari Dewan Keamanan PBB terhadap Iran terbukti tidak efektif. Data penelitian terbaru menunjukkan, walaupun diembargo, Iran masih bisa membeli senjata hingga triliunan rupiah.

Diberitakan BBC, Kamis 3 Mei 2012, data terbaru ini adalah hasil penelitian berbagai lembaga internasional yang tergabung di Oxfam di Inggris. Menurut data mereka, Iran telah membeli persenjataan dari negara lain hingga mencapai harga 350 juta poundsterling atau sekitar Rp5,2 triliun pada 2010, di tengah embargo.

Jumlah pembelian ini mengejutkan. Pasalnya sejak 2007, Dewan Keamanan PBB telah memerintahkan seluruh negara anggota tidak memasok persenjataan ke Iran. Hal ini menyusul tuduhan dari Amerika Serikat dan sekutunya bahwa Iran tengah memproduksi senjata nuklir.

Berdasarkan embargo PBB tersebut, tidak boleh ada negara anggota yang menjual persenjataan ke Iran. Negara anggota juga tidak boleh membeli senjata dari Iran. Namun, sekutu terdekat Iran, yaitu China dan Rusia diduga terus memasok senjata, tidak peduli ada embargo.

Iran bukan satu-satunya negara yang tetap dapat membeli senjata kendati diberangus. Menurut Oxfam, terdapat 10 negara yang diembargo namun masih bisa membeli senjata hingga mencapai harga 1,4 miliar poundsterling antara tahun 2000 hingga 2010.

Pembelian terbesar di antara negara korban embargo adalah Azerbaijan. Negara yang diberi sanksi oleh Organisasi Kerja Sama dan Keamanan Eropa yang beranggotakan 56 negara ini mampu membeli senjata hingga 450 juta poundsterling (Rp6,7 triliun) antara tahun 2000 sampai 2010.

"Salah satu alasan kenapa embargo tidak bekerja adalah tidak adanya peraturan global tentang perdagangan senjata," kata Anna MacDonald, manajer kampanye pengendalian senjata Oxfam.

Untuk membicarakan masalah ini, rencananya PBB akan menggelar konferensi pada Juli mendatang. Namun konferensi ini diramalkan mencapai jalan buntu ketika mencari kesamaan pendapat soal pelarangan penjualan senjata. Rusia dan China diperkirakan akan menentang keras pelarangan tersebut, karena dua negara ini yang paling diuntungkan dalam bisnis ini.


Sumber : VivaNews

AS Diam-diam Terus Menumpuk Kekuatan di Teluk Persia

Citra satelit yang dianalisis Jane's Defence Weekly menunjukkan pesawat-pesawat pengebom strategis B-1B Lancer (baris kiri dan atas) milik AU AS berada di pangkalan udara Al Udeid di Qatar.

Meski berulang kali menghindari pembicaraan soal serangan militer ke Iran, dan terus membujuk Israel untuk tidak melakukan serangan sepihak sendirian ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran, Amerika Serikat diam-diam terus menumpuk kekuatan militer di sekitar kawasan Teluk Persia.

Penumpukan kekuatan militer itu diduga kuat dilakukan, agar AS selalu siap dengan berbagai pilihan respons jika sewaktu-waktu ketegangan soal program nuklir Iran bereskalasi menjadi konflik terbuka.

Demikian terungkap dalam salah satu analisis majalah pertahanan terkemuka Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 11 April 2012 lalu. Meski pihak Pentagon dan negara-negara Arab tak bersedia mengungkap posisi penyebaran kekuatan militer kunci AS di kawasan Teluk Persia, penumpukan kekuatan tersebut bisa diketahui secara detail dari analisis citra satelit komersial, berbagai keterangan di laman resmi Departemen Pertahanan AS, dan pelacakan berbagai informasi terbuka di media sosial di internet.

Penelusuran Kompas menunjukkan, posisi pesawat-pesawat militer AS di berbagai pangkalan udara di kawasan tersebut masih bisa dilihat di Google Earth pada hari Rabu (3/5/2012) malam ini.

Dalam pengamatan JDW, AS menggelar aset-aset militer yang sangat lengkap, mulai dari kekuatan pemukul, pengintai, hingga pertahanan antirudal dan dukungan logistik. Di luar kekuatan pemukul utama yang terpusat pada dua gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Enterprise yang sedang berada di perairan sekitar Teluk, AS, juga menempatkan aset-aset militernya di beberapa negara Arab.

Secara khusus, JDW menyebutkan empat negara yang menjadi lokasi penempatan pesawat-pesawat militer AS, yakni Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Secara khusus, pangkalan udara Al Udeid di Qatar dan pangkalan udara Al Dhafra di UEA menjadi pusat pangkalan aset-aset militer AS itu.

Menurut analisis JDW, di dua pangkalan tersebut terlihat sedikitnya empat pesawat peringatan dini E-3 Sentry AWACS, lima pesawat pelacak sasaran darat E-8 Joint STARS (Joint Surveillance Target Attack Radar System), empat pesawat mata-mata U-2 Dragon Lady, dan enam pesawat pengintai tak berawak RQ-4 Global Hawk.

Untuk melakukan misi-misi dukungan logistik, JDW menyebut ada lebih dari 20 pesawat tanker KC-135R Stratotanker di pangkalan Al Udeid dan 12 pesawat tanker KC-10 Extender di pangkalan Al Dhafra.

Selain kekuatan pengintai dan pendukung, AS juga menyiapkan kekuatan pemukul yang tidak tanggung-tanggung. Dari citra satelit pangkalan Al Udeid, terlihat sedikitnya enam pesawat pengebom strategis jarak jauh B-1B Lancer milik AU AS (USAF) dan pesawat-pesawat patroli maritim P-3C Orion milik AL AS (US Navy).

Di Al Dhafra, sejak tahun lalu USAF telah menempatkan satu skuadron pesawat tempur F-15C Eagle dan pesawat-pesawat tempur tak berawak MQ-1B Predator. Disusul pada Februari, USAF mengirimkan satu skuadron F-15E Strike Eagle di sebuah pangkalan yang tak disebutkan di kawasan Timur Tengah. Pekan lalu pihak militer AS juga mengakui telah mengirimkan pesawat-pesawat jet tempur tercanggih F-22 Raptor ke UEA.

Sementara itu, satu skuadron F-16 Fighting Falcon yang baru saja ditarik dari Irak kini masih disiagakan di pangkalan udara Ahmed Al Jaber di Kuwait. Di negara yang sama, satu brigade penerbangan tempur AD AS (US Army) yang dilengkapi heli-heli serbu AH-64D Apache juga belum ditarik pulang.

Aset-aset militer yang berpangkalan di darat tersebut akan menjadi pelapis serangan bagi kekuatan US Navy yang dilengkapi kapal-kapal perang dan kapal selam peluncur rudal jelajah Tomahawk. Selain itu,  sekitar 70-80 pesawat serbu F/A-18 Hornet dan Super Hornet yang diterbangkan dari dua kapal induk AS.
Dengan puluhan pesawat tanker yang mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara, kekuatan pemukul itu masih bisa didukung pesawat-pesawat pengebom strategis B-2 Spirit dan B-52 Stratofortress yang diberangkatkan dari pangkalan-pangkalan di Samudera Pasifik, Samudera Hindia, dan dari daratan Amerika.

Dengan seluruh kekuatan itu, AS bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan serangan kejutan dari militer Iran, termasuk serangan balasan Iran apabila Israel jadi nekat menyerang secara sepihak ke Iran.




Sumber : Kompas

Baca Juga